Online Bullying dan Amena Khan yang Mundur dari Kampanye L'Oreal Paris

Online Bullying dan Amena Khan yang Mundur dari Kampanye L'Oreal Paris

Pertengahan januari 2018 l'Oreal Paris meluncurkan video kampanye mempromosikan produk perawatan rambut terbaru mereka, Revive. Yang menjadi perhatian dunia internasional adalah seorang hijaber Amena Khan yang menjadi salah satu wajah atau bintang iklan dalam kampanye ini. L'Oreal banyak mendapat pujian dan dukungan karena langkah mereka yang mengusung inklusivitas benar-benar ditunjukkan pada kampanye kali ini, pertama kalinya mereka menampilkan wanita berhijab untuk produk rambut. 

Tampilnya Amena Khan yang notabene sama sekali tidak memperlihatkan rambutnya pada kampanye ini, sangat mewakili banyak wanita berhijab, dan persepsi khalayak terhadap wanita berhijab. Bahwa hijaberspun sangat concern dan merawat rambut mereka, meskipun sehari-hari mereka menutup rambut mereka dengan hijab. Bahwa kampanye tentang perawatan rambut, bukanlah melulu tentang khalayak/konsumen yang melihat bagusnya rambut sang bintang iklan, tetapi banyak aspek yang bisa dipromosikan, termasuk tentang image positif terhadap tubuh (dan rambut). 

Amena Khan juga menyatakan kegembiraan dan rasa bersyukurnya bisa terlibat dan menjadi salah satu wajah L'Oreal, yang menurutnya sangat menyuarakan dan mendukung good cause, dan menginspirasi banyak wanita, seperti yang ia utarakan melalui sosial media. 


Tetapi baru seminggu video kampanye tersebut meluncur di laman-laman online dan sosial media, Amena membuat pernyataan mengejutkan melalui akun instagramnya, bahwa ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari kampanye tersebut. Ini karena banyaknya komentar, kritik yang dialamatkan kepada dirinya, yang mengaitkan 'peran barunya ini' dengan serial twitnya pada tahun 2014 yang intinya mengecam Israel. 

Amena telah menghapus twit-twit tersebut, dan menyatakan bahwa ia sangat menyesal bahwa postingan lamanya itu menyebabkan ada beberapa pihak yang merasa tersakiti, dan postingan tersebut tidak sesuai dengan  pesan keharmonisan yang ia usung. Dengan sangat menyesal dan berat hati ia mengundurkan diri dari kampanye L'Oreal tersebut. 

Tentu saja, justru semakin banyak netizen yang berkomentar atas sikapnya ini, terutama bahwa ia seharusnya tidak perlu meminta maaf, for what she's stand for


Kita tidak tahu apa yang dialami oleh Amena Khan, dan apa komunikasi yang terjadi antara Amena dengan L'Oreal. L'Oreal Paris UK sebagai pemegang kampanye ini telah memberikan komentar resminya, yang menyatakan bahwa mereka baru saja mengetahui tentang beberapa postingan Amena di twitter tersebut, dan lebih lanjut,  “We appreciate that Amena has since apologized for the content of these tweets and the offence they have caused,”. “L’Oreal Paris is committed to tolerance and respect towards all people. We agree with her decision to step down from the campaign.”

Yang jelas, banyaknya komentar dan 'serangan' awal kepada Amena, karena twit-twit Amena pada tahun 2014 tersebut oleh beberapa pihak dianggap sebagai ujaran kebencian terhadap Israel, dan merasa bahwa L’Oreal tidak selayaknya menjadikannya sebagai duta. 

Kita pun tidak mengetahui apakah langkah Amena ini sedikit banyak karena desakan dari pihak L’Oreal sebagai respon atas eskalasi yang terjadi di sosial media. Dari jawaban resminya, L’Oreal bersikap 'senada' dengan para netizen, yang merasa bahwa twit-twit Amena lebih dari 3 tahun lalu sebagai sikap diskriminatif, dan menimbulkan permusuhan. 

Sekali lagi, online bullying membawa dampak yang sangat kita sayangkan. 

Amena memposting twit-twit tersebut pada 2014, pada saat terjadi agresi militer Israel ke wilayah Gaza, Palestina. Dan hampir seluruh dunia mengecam serangan Israel yang menewaskan lebih dari 2.200 warga Palestina. Amena menyuarakan kecaman dan kepedihannya. Ia bersikap untuk tidak diam dan berdiri diatas nilai moral yang ia anggap benar. Ini bukan sikap anti-semit (kebencian terhadap Yahudi) seperti yang dituduhkan banyak netizen kepadanya. 

Mengkritisi kebijakan sebuah negara adalah rasis? 

Apa yang dilakukan Amena saat itu adalah menyuarakan opininya, mengkritisi lembaga dan negara Israel, bukan menyatakan kebencian terhadap etnis tertentu. Tentu hal ini tidak bisa disebut rasis, dan L’Oreal seharusnya bisa melihat hal itu.

L’Oreal pun tentu awalnya memilih sosok Amena dalam kampanyenya karena ia adalah seorang muslimah yang cerdas, peduli dan menginspirasi. Amena bisa mewakili generasi muslim yang modern, inklusif, tetapi tetap bangga dan teguh dengan prinsip-prinsip agamanya. Apakah ia tidak boleh bersuara sesuai hati nuraninya? Justru terlihat, bahwa merek-merek besar dunia ini sebenarnya belum sepenuhnya bisa bersikap adil dan inklusif, dan masih gamang untuk terbuka terhadap masyarakat muslim. 

Sangat disayangkan keputusan dan langkah yang diambil keduanya, yang seakan 'menyerah' pada online bully, dan menghentikan sebuah kolaborasi yang sesungguhnya sangat positif, dan menginspirasi banyak orang. 

please login to comment.

RELATED ARTICLES

SMK Kecil di Pinggir Kudus yang Berprestasi Hingga Tingkat Internasional

SMK Kecil di Pinggir Kudus yang Berprestasi Hingga Tingkat Internasional

READ MORE
Modest fashion: The next haute couture?

Modest fashion: The next haute couture?

READ MORE