Jogja yang Mencari Posisi di antara Batik dan Fashion

Jogja Fashion Week 2016 yang baru saja berlalu, menceritakan dan menyisakan pertanyaan tentang arsitektur fashion di kota seni dan batik ini.

Jogja yang Mencari Posisi di antara Batik dan Fashion

Sebagai kota yang penuh dengan talenta seni dan kreatifitas, didukung dengan latar belakang budaya yang kuat, menjadikan Jogja tidak pernah lelah menggali potensinya untuk ditawarkan dan dipamerkan kepada dunia. Diantara potensi tersebut adalah industri fashion dengan generasi muda sebagai sumber inspirasi dan orientasinya, dan warisan budaya yang telah diakui secara internasional, batik.

Jogja selama 10 tahun telah berhasil menyelenggarakan perhelatan fashion yang menjadi ikon kota ini, Jogja Fashion Week dan ini adalah tahun ke 11 pelaksanaannya. Untuk sebuah 'pesta mode' ini, sosialisasi dan promosi yang dilakukan pun tidak tanggung-tanggung gencarnya; sejak 3 bulanan yang lalu dan semakin dekat dengan hari pelaksanaan, semua warga pasti sudah mengetahui acara ini karena umbul-umbul dan spanduk yang tersebar di seluruh penjuru kota -hingga kabupaten- Jogja. Siaran di televisi dan radio, penayangan videotron juga promosi di media cetak yang masif. Wajar apabila antisipasi akan acara ini pun sangat besar.






Berbeda dengan event fashion week besar yang ada di ibukota, Jogja Fashion Week ini secara resmi diselenggarakan oleh Pemerintah daerah melalui Dinas Perindustrian DIY, bekerjasama dengan Indonesia Fashion Chamber (IFC) chapter Jogja. Bertempat di Jogja Expo Center, pada tanggal 24 hingga 28 Agustus 2016, JFW 2016 menampilkan beragam aktivitas seperti pameran, seminar, karnaval, kompetisi, dan tentu saja perhelatan utama yaitu fashion show.


Tema yang dipilih kali ini adalah 'The Heritage', yang mempunyai visi untuk menjadi pekan mode yang merepresentasikan warisan budaya dalam industri fashion, menjadi inspirasi dunia fashion untuk berkreasi lebih jauh dengan acuan budaya Indonesia, menjadikan fashion sebagai industri yang lebih besar lagi terutama di Jogja, dan mempromosikan budaya dan warisan Indonesia kepada masyarakat nasional dan internasional.

Dengan promosi yang masif tersebut, tidak berlebihan jika ekspektasi yang timbul adalah sebuah event fashion yang modern dan bergaya, dinamis dan berorientasi pada generasi muda, sesuai pasar terbesar fashion itu sendiri. Tetapi rasanya kesan itu tidak terlihat pada pelaksanaan Jogja Fashion Week kemarin.'Pameran batik' lebih tepat menggambarkan suasana venue, dari facade luar hingga di dalam area pameran yang luas. Di bagian luar memasuki gedung JEC kita akan disambut dengan deretan kain batik yang dibentangkan berjejer di dinding selasar sepanjang lebih dari 100 meter. Memasuki hall utama juga ada lorong dengan ratusan kain batik yang dibentang satu persatu di sisi kiri kanan selasar.


Ratusan kain batik yang dipamerkan seolah menggantikan 'pagar ayu pagar bagus' yang menyambut tamu memang benar-benar batik pilihan dan secara dominan menampilkan keindahan motif dan pattern khas batik Jogja dan gaya mataraman. Kita bisa melihat kedalaman kualitas pada lembaran-lembaran batik tersebut, bukan motif batik yang biasa kita lihat. Di dalam hall utama pameran yang juga tersambung dengan panggung (runway) JFW juga terdapat beberapa manekin yang memamerkan baju rancangan para desainer yang mengikuti fashion show, tetapi seolah-olah berdiri sendiri dan tidak ada keterhubungan dengan interior hall yang dibiarkan polos.




Dalam sambutannya pada pembukaan Jogja Fashion Week, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyinggung bahwa event JFW 2016 ini memang berorientasi pada batik, dan sebagai event bridging (jembatan) menuju International Batik Biennale yang akan diadakan di Jogja bulan Oktober mendatang. Sehingga tidak terelakkan sebuah pertanyaan, apakah event fashion ini memang 'dipesan' sebagai ajang promosi batik (saja)?

Ditambah lagi dengan kesan birokratis yang kuat, misalnya pada saat opening ceremony. Fashion week tidak terlihat dan dikemas sebagai acaranya insan kreatif, melainkan serupa seremonial birokratif di lingkungan pejabat. Mungkin saja para pelaku fashion sendiri kurang dilibatkan dalam segala aspek persiapan dan pengambilan keputusannya. 


Fashion week -dalam lingkupnya-, seharusnya sebagai ajang mengasah dan mengenali bakat-bakat fashion lokal, sehingga muncul desainer-desainer unggul dari Jogja, yang punya karakter desain kuat. Kita mengenal desainer seperti Lulu Lutfi Labibi dari Jogja yang karya fashionnya kini telah dikenal luas di dunia mode Indonesia. Yang telah membuktikan bahwa Jogja penuh dengan talenta kreatif, yang tidak perlu dibatasi terlalu dini dengan material tertentu.

Bila disandingkan dengan seni, kekuatan Jogja lainnya, kita bisa menilai betapa jauhnya kedua sektor kreatif ini terpaut, dalam hal perkembangannya. Jogja menjadi habitat seni yang sangat maju dan kuat, bahkan menjadi kota seni terdepan di Indonesia. Padahal kedua sektor ini sama-sama menjadi domain kreatif. Jogja menjadi tuan rumah bagi apresiasi seni tanpa batas, yang dengan sendirinya (dengan aprehensi senimannya) selalu mampu menyandingkan nilai-nilai tradisional dengan modern secara harmonis dan cerdas. Stakeholder Jogja memberikan wadah seluasnya bagi para seniman berkreasi, yang diiringi local wisdom warganya, menjadikan seni sebagai pilar peradaban.

Tulisan dan judul ini tentu saja tidak bermaksud untuk memberi pemisahan antara fashion dan batik, karena sebenarnya keduanya bukan hal yang bersifat substitusi. Batik bisa menjadi ekspresi fashion, dan kita bisa melihat bahwa kini batik sudah diolah sedemikian rupa menjadi fashionable item dan digunakan secara luas oleh generasi muda. Batik, lurik dan kain Indonesia lainnya memang sudah seharusnya menjadi kekuatan fashion Indonesia, yang menjadi karakter dan keunikan tersendiri.

Tetapi industri dan habitat fashion sendiri, dalam hal ini di Jogja, belum matang terbentuk dan berkembang. Ini senada dengan yang disampaikan oleh Philip Iswardono, show director JFW 2016 dan pengurus IFC Jogja, bahwa sebenarnya Jogja ini penuh dengan talenta desainer fashion yang kreatif, tetapi masih sulit berkembang karena beberapa hal. Salah satunya image Jogja yang 'segalanya harus murah', belum apa-apa sudah melesukan bisnis fashion di Jogja. Apresiasi fashion tidak bisa dimulai dengan 'mencari barang murah', karena fashion adalah produk kreatif, produk yang bisa memberi nilai tambah (signifikan).

Semoga di tahun-tahun mendatang Jogja Fashion Week bisa hadir dengan kemasan yang semakin baik, dan bisa menciptakan ekosistem fashion bagi kota Jogja, sehingga visi bersama diatas bisa semakin dekat untuk diwujudkan. 

See also:
-- Jogja Art Roadshow; Pameran Tunggal Perupa Nasirun -- Semangat Mode dari Kota Lama Semarang -- Cerita 'Memedi Sawah' nan Elok dari 3 Ratu Batik -- Nephindi Happa yang Memikat Hati dan Bikin Hepi --

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Strategi Memenangkan Modest Fashion Indonesia di Pasar Dalam Negeri

Strategi Memenangkan Modest Fashion Indonesia di Pasar Dalam Negeri

READ MORE
Modest fashion: The next haute couture?

Modest fashion: The next haute couture?

READ MORE