#muslimvotemuslim Inisiasi Hijabers yang Mendadak Viral

#muslimvotemuslim Inisiasi Hijabers yang Mendadak Viral

We're experiencing democracy like never before. Dunia yang transparan berkat internet dan media sosial, mengubah dan menggeser perilaku berdemokrasi, terutama dalam ranah maya. Media sosial menjadi wadah berdemokrasi yang aktif, seperti dikutip dari Agus Sudibyo, 2014. "Hampir tak ada perkembangan sosial politik yang luput dari kritisisme aktivis media sosial. Hampir tidak ada isu aktual yang tak digunjingkan melalui ruang media sosial. Semua pihak—masyarakat, pemerintah, politisi, penegak hukum, selebritas, aktivis—merasa berkepentingan mengikuti perdebatan media sosial, mempertimbangkannya sebagai saluran komunikasi dan informasi yang cukup menentukan.

Harus diakui, fenomena media sosial berkontribusi positif bagi proses demokratisasi dan deliberasi di Indonesia. Media sosial memungkinkan individu bertindak sebagai subyek yang otonom di ruang publik. Setiap warga didorong untuk secara partisipatoris terlibat dalam proses pencarian, penyebaran, dan pertukaran informasi. Setiap orang adalah jurnalis, setiap orang adalah sumber."

Akibatnya, demokrasi menjadi riuh, sangat ramai, di media sosial. Terutama menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) seperti saat ini. Saya tak hendak lebih jauh beropini mengenai hal ini, yang hanya menambah tumpukan 'sampah' digital berkode 'pilkada'. Hanya menyoroti penggalan menarik yang bisa jadi menjadi fenomena baru dan akan diingat oleh masyarakat.

Pilkada Jakarta, yang kini menjadi buah bibir seantero Indonesia -sekali lagi, karena internet dan media sosial- menyuguhkan 3 calon pasangan yang akan dipilih oleh segenap warga Jakarta pada 15 Februari nanti. Keriuhan ini menjadi semakin tajam karena kebetulan ada salah satu calon Gubernur yang beragama non-muslim, sehingga isu agama yang sebelumnya -relatif- tidak pernah menjadi titik perdebatan, kini tampak nyata.


Satu minggu menjelang hari pencoblosan, sebuah tagar mendadak viral di media sosial, #muslimvotemuslim. Berawal dari instagram, tagar ini hadir dalam bentuk image/instagram post berlatar belakang putih atau polos, dengan pesan 'NKRI Harga Mati, Pemimpin Muslim Perintah Ilahi' #muslimvotemuslim. Ataupun hanya berupa tulisan tagar tersebut. Pada hari kemunculannya, Selasa 7 Februari 2017, hingga tengah malah tagar ini telah mencapai lebih dari 1200 post hanya di Instagram. 

Menariknya, posting dan tagar ini diawali oleh beberapa hijabers yang memiliki ribuan hingga jutaan followers di Instagram, hingga kemudian menjadi viral. Diantara beberapa nama tersebut antara lain Dian Pelangi, Syifa Fauziah (Chairman Hijabers Community), Puteri Hasanah Karunia (selebgram), Lulu Elhasbu, Diajeng Lestari, Ria Miranda, Restu Anggraini, dan masih banyak lagi. Para hijabers yang sebelumnya tidak atau jarang berafiliasi pada salah satu calon, atau terlihat menyuarakan sebuah kepentingan politik. 

Tagar ini kemudian sebagian besar mendapat respon dan simpati positif dari para followernya, tetapi ada pula beberapa komentar yang bernada negatif dan sinis menanggapinya. Tetapi semua respon tersebut adalah sebuah reaksi wajar atas keberadaan mereka sebagai seorang 'pesohor' di media sosial. Yang menarik adalah aksi para hijabers dengan tagar berlandaskan agama ini. Paling tidak ada beberapa hal yang bisa kita lihat dari hal ini.

#  Bukan sekedar partisipasi dan hak politik, ini adalah bentuk kesadaran dan tanggung jawab sebagai muslim dalam menyuarakan kebenaran dan perintah agama, sekecil apapun. Berbeda dengan kalangan yang cenderung memisahkan antara urusan agama dan duniawi, bagi seorang muslim, Islam menyangkut semua aspek kehidupan seseorang, pribadi maupun sosial, hubungan dengan sang Pencipta maupun dengan sesama dan semua makhluk. Begitupun dalam poitik. Ini adalah sebuah konsekuensi seorang muslim yang beriman pada Al Quran, pada perintah Allah yang menghendaki seorang muslim untuk memilih pemimpin muslim.

#  Sebagai seorang muslim yang berprinsip; kami dengar dan kami taat (sami'na wa atho'na), maka menyikapi pemilihan seorang pemimpin, Al Quran sudah menerangkannya. Maktub, artinya sudah tertulis. Bila kemudian ada perbedaan pandangan dan tafsir mengenai Auliya (pemimpin/sang penolong/teman dekat), maka ini adalah sebuah sikap untuk mengikuti dan patuh terhadap salah satu pandangan yang diyakini tersebut .

#  Ini juga menunjukkan partisipasi aktif sebagai warga negara yang peduli terhadap negaranya, untuk memilih pemimpin yang amanah dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sebuah ikhtiar politik untuk menegakkan sebuah tatanan masyarakat yang diridhoi oleh Allah SWT.

#  Para hijabers ini bisa disebut representasi sempurna kemunculan genM* (generasi muslim milenial) di Indonesia, yang memiliki 4 karakteristik yaitu religius dan taat pada kaidah-kaidah Islam, mereka percaya dan melihat Islam sebagai Universal Goodness (rahmatan lil alamin) untuk semua umat manusia, modern, berpengetahuan, melek teknologi dan berwawasan global, serta keempat makmur dengan daya beli memadai. Generasi muslim ini merupakan generasi yang berani untuk bersuara lantang, dan bangga menunjukkan keislamannya.

Bagaimanapun ini adalah partisipasi dan inisiasi para muslimah dan hijabers dengan caranya sendiri yang patut diapresiasi, karena disampaikan dengan cara yang santun, damai dan menjunjung nilai-nilai agamanya. Yang perlu dicatat kemudian adalah bagaimana ini tidak sekedar berhenti pada memilih pemimpin muslim, tetapi yang lebih penting lagi adalah mengedepankan aspek kritis dan rasionalitasnya dalam memilih pemimpin yang amanah, jujur dan dapat dipercaya. Selamat memilih pemimpin baru untuk semua warga Jakarta!



*istilah genM menjadi mendunia menandai munculnya generasi muslim baru yang modern, religius dan inklusif. Di dunia barat dikenal melalui buku 'Generation M; Young Muslim Changing The World' (Shelina Jan Mohamed, 2016) dan di Indonesia ditulis pertama kali oleh Yuswohadi, dalam #GenM, 2016.

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Women, Feminism, and Islam

Women, Feminism, and Islam

Today, feminism and women empowerment have become a lot more important than they were years ago. How Indonesia as the most populous Muslim country in the world should address the issue, especially in the middle of the rise of Islamic fundamentalism?

READ MORE
Karakter Generasi Milenial di Dunia Kerja. Kamu termasuk?

Karakter Generasi Milenial di Dunia Kerja. Kamu termasuk?

READ MORE