Less is More; Menilik Gaya Hidup Minimalis

Less is More; Menilik Gaya Hidup Minimalis

(Ditulis oleh: Ikhwan Alim)


Sebuah buku 'The Life-Changing Magic of Tidying Up' yang ditulis oleh Marie Kondo dan pertama dipublikasikan tahun 2011, tampaknya memang benar-benar mengubah hidup banyak pembaca dan pengikut metodenya. KonMari -begitu metodenya sering disebut- mempopulerkan gaya hidup minimalis, yang hingga kini semakin banyak orang yang menerapkannya.

Sekilas tentang negeri darimana Marie Kondo berasal, wilayah tersebut dilalui oleh tiga lempeng tektonik yang masih aktif. Akibatnya, Jepang mudah sekali terkena gempa. Ratusan tahun berlalu, kini orang-orang Jepang semakin menghindari kepemilikan barang-barang (stuff ownership) yang rusak tak terpakai akibat bencana gempa. Atau barang-barang berat yang mungkin menimpa pemiliknya hingga meninggal dunia manakala terjadi gempa.

Marie Kondo banyak dikenal dan diingat karena saran-sarannya untuk hidup minimalis, terutama dalam urusan merapikan barang-barang dan pakaian. Lewat blog, buku, maupun talkshow, wanita ini mengingatkan kita untuk menyimpan pakaian secara visible (terlihat), accessible (bisa diakses), easy to grab (mudah diambil) dan easy to put back (mudah dikembalikan).


Kala membersihkan rumah, dia memberikan saran untuk tidak melakukannya ruang demi ruang (room by room). Melainkan kategori demi kategori. Misalnya, jangan membersihkan kamar pribadi dahulu, baru membersihkan kamar-kamar yang lain. Karena dalam sebuah kamar, ada beragam kategori. Sarannya, mulailah dan selesaikan satu kategori dulu. Contoh, selesaikan semua urusan terkait pakaian di seluruh bagian rumah, lalu berpindah ke urusan lain, katakanlah buku.

Bila ada Marie Kondo dengan dua dan beberapa saran lainnya terkait dengan pengelolaan lemari pakaian, ada pula Tammy Strobel yang meramu konsep Rumah mini (Tiny House)-nya. Perempuan satu ini pernah hidup bergelimang harta benda. Punya dua mobil, pekerjaan di pusat kota, rumah yang besar, dan seterusnya. Namun sepeninggal ayahnya, dia dan suami berniat untuk memperoleh kebahagiaan (happiness) dan kebebasan (freedom) yang benar-benar nyata. Semua harta benda mereka tinggalkan, untuk hidup di rumah kecil beroda yang mudah dipindah-tempatkan.


(foto dari http://www.rowdykittens.com/tiny/)


Tammy Strobel ingin fokus pada hal-hal yang menurut dia, memang sangat penting dalam hidup ini. Yaitu adalah waktu (daripada uang) dan orang-orang (daripada harta benda). Baginya, daripada fokus mencari dan membelanjakan uang, sebutlah untuk membayar cicilan bulanan atas rumah besar yang sudah pasti berharga tinggi, lebih baik fokus mengoptimalkan waktu yang dimiliki untuk hal-hal yang lebih penting. Time over money. Yang kedua adalah, daripada fokus mencari kepuasan dan kesenangan via harta benda, lebih utama mencari kebahagiaan melalui hubungan dan interaksi dengan orang-orang terdekat. People over stuff.

Tammy Strobel dengan rumah mininya adalah “produk” dari kehidupan di daerah urban (perkotaan) yang masyarakatnya cenderung individualis dan sibuk, menyedot banyak waktu sehingga aktivitas di lingkungan tempat tinggal sangat-sangat terbatas. Istilahnya lebih sering di luar rumah daripada di rumah sendiri. Sehingga konsumen nyaris tidak membutuhkan lagi rumah berukuran besar.

Kegiatan pekerjaan dan sekolah lebih banyak di luar rumah. Meeting lebih sering di kafe. Rumah memang masih menjadi lokasi arisan keluarga maupun arisan RT. Namun, intensitasnya menurun drastic dibanding beberapa dekade yang lalu. Tidak heran, rumah mini semakin menjadi kebutuhan dan telah menjadi tren di masyarakat perkotaan kita.

Gaya hidup minimalis tidak melulu terkait dengan urusan-urusan pakaian maupun rumah. Prinsip minimalisnya bisa diterapkan di kategori apa saja. Menurut Marie Kondo, tujuannya adalah meraih kebahagiaan lewat harta benda yang memancarkan kebahagiaan (sparks joy). Weblog The Minimalist menyatakan targetnya adalah kebebasan (freedom). Kebebasan dari terlalu banyak harta benda yang memperumit hidup kita. Kebebasan dalam memprioritaskan hubungan dengan orang-orang terdekat dalam hidup, dan seterusnya.

Masih ada satu lagi, dengan prinsip yang sama menyangkut gaya hidup minimalis. Yaitu, Mindful Eating. Persis dengan istilahnya, maksudnya adalah makan dan minum dengan kesadaran penuh. Diantaranya, kesadaran tentang berapa banyak minimal kalori yang harus diasupkan ke dalam tubuh. Bukannya menimbun kalori tanpa kepedulian. Kesadaran bahwa gula garam yang berlebihan tidak baik. Kelebihan gula mungkin berakibat penyakit diabetes. Kebanyakan garam bisa menyebabkan tekanan darah tinggi.

Sadar pula dengan berdoa, mensyukuri, dan menikmati makanan secara tenang dan perlahan, maka kebahagiaan sesungguhnya dapat diperoleh. Tidak heran agama pun mengajarkan hal-hal baik seperti berdoa sebelum dan sesudah makan. Semacam memberikan kebaikan lebih pada makanan dan minuman kita. Saat berniat puasa pun serupa pula yang terjadi. Pikiran (niat) mensugesti tubuh kita bahwa makan sahur kita akan berlaku sejak subuh hingga matahari terbenam nanti. Sehingga kita memiliki kendali penuh atas emosi kita dan tidak membuat puasa menjadi batal berantakan. Banyak di antara rekan-rekan saya yang mengakui, bahwa kelegaan pasca berbuka puasa itu lebih nikmat daripada makan makanan enak di restoran yang pelayanannya memuaskan sekalipun.

Too much stuff may harm your life. Focus only the important ones that bring happiness. Less is more.


please login to comment.

RELATED ARTICLES

Women, Feminism, and Islam

Women, Feminism, and Islam

Today, feminism and women empowerment have become a lot more important than they were years ago. How Indonesia as the mo