Ketika Seorang Hijaber Tampil di Majalah Playboy..

Ketika Seorang Hijaber Tampil di Majalah Playboy..

Majalah Playboy pada penerbitan bulan Oktober 2016 menampilkan seorang jurnalis muslimah berhijab, Noor Tagouri -warga Amerika keturunan Libya- dan seperti bisa diperkirakan, memicu keriuhan dan perdebatan panjang di berbagai media. Noor Tagouri tentu tidak tampil sebagai cover majalah, ataupun menampilkan 'seksualitas' seorang hijaber.

Playboy sendiri sejak 2015 telah mengubah kebijakannya, tidak lagi menampilkan foto-foto wanita telanjang –ataupun setengah telanjang, saya belum pernah mengeceknya-, untuk menyentuh pasar pembaca yang lebih umum, atau lebih luas. Playboy bahkan mulai memberi banyak porsi untuk 'actual journalism', dan menyuarakan aspirasi kaum minoritas, dan menjadi 'lebih humanis'.


Noor Tagouri ditampilkan dalam sebuah rubrik interview, yang menyorot kiprah dan pengalamannya sebagai seorang American-hijabi, aspirasi sebagai minoritas dan pandangan politiknya. Noor dipilih oleh Playboy bukan tanpa alasan. Gadis 22 tahun ini sangat aktif di sosial media, membuat kampanye video yang menjadi viral, yang mendorong generasi muda dan muslimah muda diamerika khususnya, untuk tidak ragu-ragu menampilkan identitasnya sebagai muslim dan terus mengejar mimpi mereka.  Tagouri bahkan sempat berbagi di panggung ternama TED Talk tahun lalu, dengan semangat dan inspirasi yang sama.

Kiprah sosial luar biasa ini yang membuat majalah Playboy menampilkannya dalam edisi 'Renegades', yang berfokus pada beberapa pria dan wanita yang 'berani mengambil resiko' untuk melakukan dan memperjuangkan apa yang mereka cintai.  Sosok Tagouri sendiri ditampilkan dengan menggunakan jaket kulit berwarna hitam, sneaker dan kerudung, seperti penampilan seorang hijabers muda pada umumnya, dan Playboy memberi caption 'a badass activist'.


Hal ini kemudian mengundang reaksi pro-kontra yang cukup keras, terutama yang menyesalkan hal ini. Mereka sangat terkejut dan mempertanyakan keputusan Tagouri sehingga mau tampil di majalah yang selama 63 tahun telah menjadikan tubuh wanita sebagai objek untuk dinikmati secara visual. Bahkan apa yang diperjuangkan selama ini oleh Tagouri dan hijabers lainnya adalah menentang penilaian kepada wanita berdasarkan tubuh ataupun penampilan/pakaian yang mereka pilih.

"Playboy adalah sinonim dari pornografi, simbol objektifikasi, seksualisasi dan komodifikasi wanita selama beberapa dekade, dan hanya karena mereka memperhalus imagenya, bukan berarti kita mau terlibat didalamnya", tulis The Muslim Vibe.

Blogger Nishaat Ismail dalam reaksinya juga menyuarakan, langkah Tagouri sebagai sesuatu yang tidak layak. "Are the voices of women — and in particular Muslim women — buried so deep under the cries of those who claim to speak on our behalf that our only available response is (to) involve ourselves with Playboy, a magazine that has solely existed for the past 63 years for men to gawp at the bodies of half-naked women?

Tetapi banyak pihak juga yang mendukung langkah Tagouri dan menyebutnya sebagai breakthrough. "Seharusnya kita lebih melihat apa yang disuarakan Tagouri di media tersebut, yang isinya sangat powerful dan menguntungkan komunitas muslim di Amerika. Tagouri berani untuk menyuarakan aspirasi kita semua dan dengan tampil di media tersebut justru suara kita lebih banyak didengar dan dilihat oleh publik yang selama ini tidak terjangkau", tulis Aymann Ismail di Slate.


Kita –saya-, tentu harus mengapresiasi langkah Tagouri dengan fakta bahwa ia selama ini dengan lantang menyuarakan youth, muslim, empowerment, menjadi inspirasi bagi banyak kaum muda dan terutama kaum minoritas Islam di Amerika. Dan substansi itu tidak berubah meskipun ia kemudian tampil di rubrik majalah Playboy.

Saat ditanya motivasinya untuk menyanggupi tampil di Playboy, Tagouri menyatakan bahwa yang pertama jadi pertimbangannya karena majalah 'dewasa' ini sudah melakukan rebranding, bukan lagi majalah 'porno'. Ia mengatakan ini sama pentingnya dengan ketika ia diwawancara oleh Washington Post, ataupun Marie Claire. Meskipun keputusan ini perlu ia pertimbangkan masak-masak dan diskusi dengan keluarga terlebih dahulu, akhirnya ia memutuskan bahwa langkah ini akan positif untuk menyampaikan apa yang ia perjuangkan.

Tentu saja muncul protes dari komunitas muslim, terutama pernyataan bahwa langkah Playboy yang melakukan wawancara terhadap seorang muslimah berhijab yang menjadi representasi wanita muslim sebagai 'mocks the very ethics and moral the hijab religiously intended to reflect', Tagouri berpendapat bahwa semua orang, termasuk muslim punya interpretasi dan cara masing-masing untuk menjalankan peran beragamanya.

"Menjalani proses interview dan pemotretan di playboy yang dikenal cenderung mengeksploitasi wanita, saya bisa menunjukkan diri saya sepenuhnya, the authentic version of me, tanpa harus mengorbankan apapun, termasuk penampilan berhijab yang saya kenakan", jelasnya.


"Apa yang saya tampilkan di playboy pun mendapat respon yang luar biasa besar dan positif, bagi mereka yang memang membaca interview saya. Ashton Kutcher juga membagikan tautan di playboy, sehingga semakin banyak publik yang sebelumnya tidak pernah pernah mengetahui tentang muslim, tentang bagaimana wanita muslim di Amerika, mereka mendapatkan informasi yang benar, sesuai apa yang saya aspirasikan. Hijab bukan sebuah bentuk opresi, pesan ini bisa tersampaikan secara luas. Ini adalah fresh faces, fresh messages yang bisa jadi justru efektif untuk menyampaikan misinya kepada audience yang benar-benar baru".

Noor Tagouri sangat cerdas dalam menyuarakan pesannya, dan sangat mengerti bahwa langkah yang diambilnya ini akan memicu kontroversi luas. Ia berpegang bahwa seseorang bisa saja menjadi 'game changer' dan 'rule breaker' dalam menyampaikan kebenaran, tanpa harus mengorbankan keyakinannya. Kontroversi adalah hal yang lumrah at certain point, dan terkadang itu tidak bisa kita hindari.

Tagouri memang seorang muslimah muda yang berani, dan dalam hal ini memilih mengambil resiko. Tetapi sebagai seorang muslim, tentu ia harus bertanggungjawab terhadap identitas keislamannya bahkan lebih jauh sebagai representasi muslim. Muslim di Amerika sudah cukup pelik menghadapi stereotipe teroris, bagaimana image yang mungkin dituai nanti dengan bekerjasama dengan media yang menyuarakan kebebasan seks?

Keputusannya untuk mau tampil di Playboy, sangat mungkin oleh sebagian orang dianggap disebut sebagai komunikasi publik yang sangat buruk, terutama bagi komunitas muslim di seluruh dunia.  Hijab, kerudung yang dipakai dengan pakaian tertutup adalah identitas, dan 'Playboy' juga sebuah identitas yang lain. Yang dilakukan Tagouri adalah memanfaatkan media ini, untuk menjelaskan kebenaran tentang keyakinannya kepada khalayak tertentu bahwa stigma yang selama ini muncul sama sekali tidak benar. 

Tentu saja kita berharap Tagouri terus melakukan hal-hal yang menunjukkan kebenaran keyakinannya dalam skala yang lebih luas. Akhirnya saya sepakat dengan yang dikatakan oleh Nishaat Ismail, Is this really how we reclaim our own narrative? Bagaimana menurut anda?

See also:
-- Bokitta: Pin-less Wrapped Hijabs for Modern Muslim Women -- Pengalaman dalam Selembar Kerudung Buttonscarves -- Rangkaian Produk Baru Spesial Halwa 3rd Anniversary -- Pengalaman Tak Terlupakan di Indonesia Hijab Fest 2019 --

Tags

please login to comment.

indy mawardah

Gapapa kan gak telanjang lagian ftonya gk mengundang nafsu malah lucu haha bagus niatnya untuk membuktikan bahwa wanita muslim juga bisa berekspresi


RELATED ARTICLES

Up2date Kini; Satu Dasawarsa Penuh Makna

Up2date Kini; Satu Dasawarsa Penuh Makna

2016 menjadi tahun signifikan bagi Up2date, -as a brand and as a company- sebagai milestone satu dasawarsa perjalanannya. Bagaimana Up2date kini?

READ MORE
Pergelaran Koleksi Shafira Sebagai Sorotan Utama di IFW 2017

Pergelaran Koleksi Shafira Sebagai Sorotan Utama di IFW 2017

READ MORE