Potensi Cokelat di Indonesia Masih Sangat Besar

When it comes to snack, yang pertama muncul dalam benak kita pasti, cokelat. Cokelat itu sudah pasti wajib ada dalam daftar snack, dan rasanya ini berlaku di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tahukah kamu kalau produksi cokelat Indonesia itu terbesar ketiga di dunia? Tapi, konsumsi cokelat per kapita kita, masih sangat jauh dibanding negara-negara lainnya. How come?

Jadi, konsumsi cokelat di Indonesia, per kapita adalah 0.5 kg. Bandingkan dengan Inggris, 6 kg, New Zealand 8.8 kg, dan bahkan Malaysia mencapai 1.1 kg per kapita. Tingkat konsumsi yang rendah ini, justru menunjukkan bahwa peluang industri cokelat di Indonesia masih tinggi, dengan tingkat penetrasi konsumsi cokelat di Indonesia saat ini yang masih berkisar di angka 78% (dibanding dengan kategori camilan lain seperti biskuit yang telah mencapai 90%).

Rendahnya konsumsi cokelat, salah satunya disebabkan karena orang Indonesia masih mengonsumsi cokelat sebagai ingredient (bahan) tambahan saja, misalnya pada snack, biskuit dsb. Namun pada sektor inipun, potensi pasarnya masih sangat besar. (Sedangkan Konsumsi cokelat yang lebih sehat, misalnya pada minuman cokelat dan cokelat bar tanpa gula masih belum menjadi gaya hidup.)

Sachin Prasad, President Director Mondelez Indonesia menjelaskan bahwa potensi pada industri cokelat utamanya berada pada masih rendahnya tingkat konsumsi cokelat di Indonesia, yaitu sekitar 0.5 kg per orang per tahun. Untuk meningkatkan konsumsi, Mondelez Indonesia berupaya membuat cokelat menjadi lebih terjangkau dan menarik untuk masyarakat, salah satunya dengan menciptakan inovasi dan momen-momen keceriaan baru untuk memakan cokelat.

“Semakin berkembangnya kelas menengah muda yang terbuka untuk mencoba pengalaman-pengalaman baru saat ngemil, membuat peluang industri ini semakin terbuka lebar. Mondelez terus berkomitmen untuk mengembangkan kategori cokelat di Indonesia dengan menghadirkan produk cokelat berkualitas tinggi dengan citarasa cokelat asli yang lembut untuk memuaskan konsumen, melalui produk seperti Cadbury Dairy Milk,” jelas Sachin.


Saat ini, perjalanan cokelat di Indonesia tak lepas dari beragam tantangan. Andi Sitti Asmayanti, Cocoa Life Director for Southeast Asia, Mondelez International menjelaskan bahwa meskipun Indonesia merupakan negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia, pertanian kakao masih menghadapi berbagai tantangan, diantaranya karena pertanian kakao yang masih dilakukan secara tradisional, sehingga produktivitasnya pun rendah, sehingga ketertarikan petani untuk membudidayakan kakao pun rendah.

Yanti menegaskan bahwa sebagai salah satu pengguna kakao terbesar di dunia, Mondelez International mengambil bagian untuk memberikan solusi dalam menjaga keberlanjutan kakao melalui program Cocoa Life. “Cocoa Life adalah perjalanan jangka panjang Mondelez International untuk menciptakan rantai pasokan kakao yang kuat serta meningkatkan kesejahteraan para petani kakao dan komunitasnya,” ujar Yanti.

Lebih lanjut, Yanti memaparkan bahwa kakao mengalami perjalanan panjang sebelum menjadi camilan cokelat yang siap dikonsumsi. Proses fermentasi setelah memanen kakao justru paling penting dalam menentukan kualitas dan rasa cokelat. Setelah dijemur sampai kering dan dipanggang, biji kakao kemudian digilas sampai menjadi cocoa liquor. Cocoa liquor tersebut kemudian diproses menjadi cocoa butter yang lebih padat. Untuk menjadi camilan cokelat yang siap dikonsumsi, cocoa liquor kemudian dicampur dan dipanaskan dengan cocoa butter, gula dan susu selamabeberapa jam untuk kemudian didinginkan dan dibentuk sesuai produk yang diinginkan.

Well, we really do hope that chocolate will gain its popularity in Indonesia, and became more of a lifestyle, just like coffee. 

please login to comment.

RELATED NEWS

New Fino 125 Blue Core Tampil Makin Stylish Dengan Desain dan Warna-Warna Baru

New Fino 125 Blue Core Tampil Makin Stylish Dengan Desain dan Warna-Warna Baru

READ MORE
Move Actively, Raise The City

Move Actively, Raise The City

READ MORE