'Rising Tapis' dan Perjalanan Tenun Wignyo Rahadi

'Rising Tapis' dan Perjalanan Tenun Wignyo Rahadi

Kain tenun merupakan wastra Indonesia yang paling banyak ragamnya, dan jumlah daerah penghasil wastra yang juga paling banyak. Bila dibandingkan dengan batik, tradisi tenun jauh lebih banyak tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dengan nama dan ciri khas masing-masing.

Wignyo Rahadi merupakan satu desainer yang namanya tidak bisa dipisahkan dari wastra nusantara yang satu ini. Betapa tidak, keputusannya untuk beralih menjadi desainer independen pada tahun 2000 berangkat dari kecintaan dan perhatiannya yang besar pada kain tenun. Dan sejak itu pula, hampir seluruh karya (busana) yang ia hasilkan adalah berbahan dasar kain tenun. 

Salah satu pencapaian penting yang menjadi backbone bisnisnya hingga saat ini adalah ketika ia mendirikan usaha workshop tenun di Sukabumi, setelah memperdalam pengetahuan dan teknik ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Hingga sekarang, workshop ini mempekerjakan sekitar 100 orang yang memproduksi kain tenun dengan ATBM, yang dipasarkan melalui brand yang ia miliki, Tenun Gaya.

Rentang waktu sejak ia berkecimpung di dunia tenun hingga sekarang tidaklah sebentar. Pengalaman dan keahlian yang spesifik ini telah membawanya ke banyak daerah penghasil wastra di seluruh Indonesia. Kain tenun dan jenis wastra lainnya masih sangat besar potensinya untuk dilestarikan dan sebagai media untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat dan daerah.

Ia lalu diajak dan ditunjuk sebagai mentor dalam program pendampingan pengrajin tenun di beberapa daerah, mulai dari Dekranasda hingga beberapa Kementrian. Program pendampingan ini bertujuan (salah satunya) untuk meningkatkan kapasitas pengrajin, yang berdampak pada peningkatan ekonomi. 

Perannya sebagai mentor atau desainer pendamping, seperti memberikan masukan pengembangan motif dari motif-motif tradisional yang sudah ada, eksplorasi warna, pengembangan material, pelatihan desain, dan lainnya. Tantangan yang seringkali ditemui pada tenun tradisional, seperti material tenun yang tebal dan kaku, sehingga kain tenun tidak mudah untuk diolah sebagai busana.

Seperti yang ia lakukan di Sibolga, bagaimana mengolah material (tenun) yang ada, sekaligus secara bertahap mengganti bahan baku dengan benang yang lebih baik, sehingga hasil Ulos Harungguan bisa diolah sebagai busana siap pakai yang nyaman.

  

koleksi Rising Tapis

Beberapa tahun terakhir ini Wignyo bekerjasama dengan kantor perwakilan Bank Indonesia di sejumlah daerah dalam program pengembangan ekonomi lokal. Bentuknya adalah pembinaan pengrajin tenun, mulai dari Kendari, Tapanuli Selatan, Lampung hingga Pringgasela Lombok. Konsep pembinaan yang diterapkan adalah fashion industri, yaitu bagaimana mengolah kain tenun yang dihasilkan di tiap daerah ini menjadi komoditas fashion yang lebih mudah terjual. Jadi bisa berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat secara nyata.

Wignyo menjelaskan, "para pengrajin yang merupakan kelompok UKM ini harus diberi kesempatan dan kebebasan dalam mengolah dan mengembangkan tenun atau wastra. Meliputi cara dan alat-alat produksi, motif dan lainnya. Tidak boleh 'diikat' dengan dalih menjaga warisan tradisi asli. Untuk menjaga warisan motif wastra asli, atau alat-alat produksi tradisional, memang harus dilakukan, tetapi itu adalah tugas pemerintah setempat. Misalkan ditunjuk kelompok yang dibina oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Tapi kelompok ini jelas berbeda dengan para pengrajin yang merupakan pengusaha UKM tadi".

Yang terbaru, Wignyo bersama Kantor Perwakilan BI Lampung kini melakukan pembinaan pengrajin kain tapis Lampung. Kain Tapis ini diakuinya istimewa, karena berbeda dengan tenun yang selama ini ia geluti. Tapis merupakan teknik pengaplikasian benang metalik emas atau perak di atas kain tenun dengan cara sulam. Kain Tapis adalah salah satu jenis kerajinan tradisional masyarakat Lampung yang umumnya dikenakan para wanita setempat sebagai sarung.

Kain Tapis hasil para pengrajin ini semula berupa kain yang sangat tebal dan kaku, dengan sulaman benang emas besar yang kasar. Biasanya, kain tapis tradisional ini dikenakan sebagai busana adat, dan masih belum ada pengembangan untuk menjadi busana siap pakai.

Wingyo bersama para pengrajin kemudian mengolah kain ini dengan material katun yang lebih lemas, serta mengganti benang emas yang biasa digunakan dengan benang metalik yang sudah ditreatment secara khusus di workshop Wignyo Rahadi. Bukan itu saja, cara menyulam pun disempurnakan, untuk beberapa motif menggunakan teknik sulam yang lebih rapat. Hasilnya adalah kain Tapis yang lebih mudah dijahit dan diolah sebagai busana, dengan motif sulam yang jauh lebih variatif.

Koleksi busana yang ia rancang menggunakan kain Tapis hasil binaan ini baru-baru ini telah dipamerkan pada fashion show yang diselenggarakan oleh Indonesian Fashion Chamber (IFC) di kota Paris, bertajuk 'La Mode Sur le Seine a Paris'. Dalam rancangan ini, Desainer Wignyo mengaplikasikan Tapis pada gaya busana modern sesuai segmen pasar Eropa yang dituju.

  

Konsep koleksi 'Rising Tapis' berfokus pada pengaplikasian Tapis benang emas secara penuh dan mendetail di atas kain tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang dikombinasikan dengan tenun full bintik, khususnya pada desain outer berupa jaket dan cape. Warna-warna musim gugur seperti hijau olive, marun, dan emas, mendominasi koleksi ini yang memberikan kesan mewah dan elegan. 

Tentu masih banyak tantangan dalam proses ini, seperti bagaimana mencapai nilai keekonomisan yang lebih terjangkau untuk kain Tapis sebagai busana, mengingat proses pengerjaannya yang lebih rumit daripada tenun biasanya. Koleksi Rising Tapis ini juga diharapkan bisa lebih memasyarakatkan Tapis, terutama di luar Lampung. Kain Tapis merupakan wastra yang unik dan cantik, dan bisa diolah sebagai busana yang berdaya pakai. 

See also:
-- The More Hannie Hananto, The Merrier -- Senayan City & JFW Hadirkan Area Belanja Terbesar Karya Desainer Indonesia -- JFW 2017; Monochrome Never Gets Old for Elegance, Kursien Karzai -- Rika Mulle at IFW 2017: Traditional Tasikmalaya Embroidery in Modern Cuts --

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

"A Fashion Designer is Never A Dress Maker"

"A Fashion Designer is Never A Dress Maker"

READ MORE
Aspirasi Hidup dalam Desain Berpendar TS Scarf by Tex Saverio

Aspirasi Hidup dalam Desain Berpendar TS Scarf by Tex Saverio

READ MORE