"A Fashion Designer is Never A Dress Maker"

"A Fashion Designer is Never A Dress Maker"

Lenny Agustin baru saja meluncurkan buku terbarunya, The Story of Lenny Agustin yang ditulis oleh Eko Wustuk. Buku ini menceritakan perjalanan seorang Lenny Agustin dalam dunia fashion design yang digelutinya, sebagai seorang perempuan yang berjuang mewujudkan mimpinya, dan seorang ibu yang bangga dengan keluarganya. 

Berbeda dengan buku pertama Lenny yang hanya menggambarkan fashion dan karya-karya desainnya sebagai playground baginya, kali ini Lenny benar-benar bercerita, jujur dan blak-blakan. Dengan bahasa lisan, pengalaman Lenny yang ditumpahkan dalam buku ini benar-benar akan menjadi inspirasi bagi siapapun, terutama perempuan Indonesia, untuk mengejar impiannya.


Judul ini saya ambil dari salah satu chapter dalam buku ini, yang mencerminkan salah satu concern Lenny Agustin (dan juga teman-teman desainer lainnya) mencermati perkembangan industri fashion Indonesia kini yang di satu sisi bergairah dengan munculnya banyak nama-nama baru, tetapi juga ekosistem yang masih belum matang, bahkan belum terbentuk. 

Dalam semangat cinta produk (fashion) dalam negeri, berbondong-bondong muncullah pengusaha-pengusaha baru dalam bidang ini, yang memang didukung dan digalakkan oleh pemerintah. UKM bidang fashion menjamur, mayoritas menyasar pasar anak muda yang memang royal berbelanja produk fashion, baik di pusat perbelanjaan maupun secara online. Namun lalu menjadi bias dan kabur, para pemilik usaha kecil fashion yang menganggap dan dianggap sebagai desainer. 

Lenny menegaskan, bahwa seorang fashion desainer itu bukan dress maker. Seorang desainer, bukanlah tukang jahit baju. Fashion desainer memiliki lingkup yang jauh lebih luas dan tugas lebih besar ketimbang membuat sepotong baju yang bagus, atau mahal.

Seorang desainer berperan untuk menciptakan tren, gaya baru dalam berbusana. Itulah perlunya peragaan busana, baik tunggal maupun dalam sebuah fashion show. Dalam peragaan semacam itu, seorang desainer mengumumkan pernyataan fashionnya kepada publik. Disitulah ditampilkan sebuah gaya baru berbusana, yang apabila diterima oleh masyarakat ataupun penggemar fashion, akan menjadi tren berbusana baik jangka pendek maupun panjang. 

Seorang desainer harus terus menerus secara reguler dan konsisten menciptakan gaya baru, terobosan baru dalam gaya busana. Inilah kata kuncinya. Desainer menciptakan gaya baru, bukan mengikuti tren yang sedang digandrungi di pasar. 

Yang disebut terobosan baru dalam fashion bisa sangat beragam. Terobosan tersebut bisa berupa material yang dipilih, teknik olah bahan, teknik cetak/motif, memotong dan menjahit, perpaduan gaya yang sudah ada atau bahkan sama sekali baru, dan aspek-aspek lainnya. Yang jelas, semua itu harus mampu menghasilkan gaya busana yang berbeda dari yang sudah ada, karena dalam fashion, seringkali new is always better

Tapi, sebenarnya bukan itu yang terberat. Menurut Mbak Lenny, yang paling berat adalah mendapatkan pengakuan publik. Itu sangat sulit. Sehebat-hebatnya terobosan desain yang ditawarkan tren fashion hanya bisa lahir kalau publik menerimana, mampu memahami konsepnya dan kemudian dengan sadar memilih untuk mengenakannya. Tanpa itu, terobosan desain hanya akan berakhir sebagai inovasi satu arah saja.

 

Beberapa koleksi terdahulu dari lini utama Lenny Agustin

Konsep ini diceritakan mbak Lenny dalam bukunya, juga dalam kesempatan langsung saat talk show peluncuran buku. Ini karena di Indonesia, pemahaman terhadap profesi desainer memang terbilang masih kacau. Jangankan publik awam, bahkan insan media pun tidak sedikit yang gemar mencampuradukkan antara fashion desainer dan dress maker. 

Anyway, masih banyak lagi hal menarik yang diceritakan mbak Lenny di buku ini, pengalaman paling berkesan saat show tunggal pertamanya, juga berbagai permasalahan mendasar industri fashion Indonesia yang sejauh ini masih menjadi hambatan bagi perkembangannya di dunia internasional. Sebenarnya ada beberapa sisi dari pengalaman mbak Lenny yang menarik, yang tidak dituangkan dalam buku ini, tentang kisahnya berkeliling beberapa daerah di Indonesia, untuk mengangkat keragaman wastra tradisional, berbagi dan berinteraksi secara intens dengan para pengrajin, dan sejuta tantangan yang harus dihadapi dalam prosesnya. 


Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Arfiani, Menekuni Busana Muslim Syar'i dengan Brand Hurrem bu Fia

Arfiani, Menekuni Busana Muslim Syar'i dengan Brand Hurrem bu Fia

READ MORE
Dian Pelangi, Koleksi di Paris dan Menjadi 'Champion' dalam Modest Fashion

Dian Pelangi, Koleksi di Paris dan Menjadi 'Champion' dalam Modest Fashion

READ MORE