Typography Trend, Wearing Your Voice or Your Designer Logo?

Tren tipografi masih akan terus diminati, mencerminkan ekspresi fashion yang lebih lantang dan ekstrovert.

Typography Trend, Wearing Your Voice or Your Designer Logo?

Jakarta Fashion Week, perayaan fashion tahunan yang masih mengukuhkan posisi dan branding sebagai pekan perayaan mode yang terbesar di Indonesia, dan menjadi rujukan untuk perkembangan tren fashion. JFW 2019 berlangsung selama 7 hari, 20 hingga 26 Oktober 2018 dengan statistik yang memukau; lebih dari 2500 koleksi terbaru dari 180 desainer dalam lebih dari 70 fashion show, dengan sponsor dan partner yang juga lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya.

Desainer muda mendominasi mereka yang menampilkan karyanya pada panggung JFW 2019, yaitu desainer yang meniti karir belum lebih dari 15 tahun. Sebagian desainer muda ini merupakan para desainer yang tergabung dalam program pengembangan kapasitas besutan JFW, yaitu Indonesia Fashion Forward yang tetap menjadi desainer unggulan yang diusung pada event tahunan ini. 

Banyaknya desainer yang terlibat dengan begitu banyak pula koleksi baru, menunjukkan antusiasme dan kegairahan terhadap fashion yang terus terjaga, dan tren-tren baru yang dilahirkan pada panggung JFW 2019 juga sangat berkontribusi menggulirkan industri fashion lokal di Indonesia. 

Salah satu tren yang terlihat pada JFW kali ini, yaitu maraknya penggunaan tipografi, pencantumkan kata-kata -wording-, logo ataupun shout out, yang ditampilkan sedemikian rupa sebagai pernyataan, bukan saja sebagai aksen atau motif cetak/print. Pencantuman logo desainer/brand sebagai highlight atau aksen utama pada busana, sempat meledak pada era 80-an. Menggunakan logo sebuah brand high fashion/luxury, mencerminkan sebuah kebanggaan dan pernyataan bahwa pemakainya mampu untuk membeli brand tersebut. Memiliki sense of belonging, menjadi bagian dari brand dan menyatakan keselarasan dengan karakter brand tersebut.

Tipografi dan fashion kemudian menjadi fenomena yang lekat, dan terus muncul dari waktu ke waktu. Pada sudut pandang lain, pencantuman tersebut, terutama yang berupa logo atau nama sang desainer, membuat busana dan pemakainya bagaikan media iklan. Walaupun demikian, tipografi dalam fashion lebih menyampaikan tentang desainer dan pemakainya, lebih dari apapun. Berkembang bersama jaman, tipografi pada fashion juga mencerminkan refleksi kultur pada saat tersebut. 

Banyak pula desainer Indonesia yang menggunakan visual tipografi ini dalam desainnya, yang biasanya mewakili gaya street style, diterapkan pada elemen-elemen busana kasual. Pada JFW 2019, gaya ini ditampilkan secara ekspresif oleh dua desainer modest fashion, Dian Pelangi dan Jenahara

Dian Pelangi tampil satu panggung dengan desainer lainnya untuk show Wardah, Unstoppable You, menampilkan koleksi dengan inspirasi utama kota New York. Setelah beberapa kali melakukan proyek fashion di kota ini, rasanya sangat lancar bagi Dian untuk menginterpretasikannya ke dalam satu koleksi baru. New York yang bergelimang warna-warni, tak pernah sepi, senada dengan hingar bingar dunia sosial media yang didominasi oleh pengaruh para selebgram atau influencer. Dua elemen besar ini diramunya dalam koleksi tabrak warna, tegas dan dinamis bertajuk 'Sociolove'. 

Highlight yang ingin ditampilkan oleh sang desainer, bahwa fashionista akan selalu berani untuk menyatakan ekspresi fashionnya. Tipografi nama 'Dian Pelangi' dan 'New York' yang lebih masif ditunjukkan pada belt, sash (serupa tali yang bisa dililitkan dimana saja), kerudung, dan atasan. Sebelumnya, Dian pernah menggunakan aksen ini, guratan nama 'Dian Pelangi' dengan teknik batik pada kerudung. 



Pendekatan tipografi yang berbeda dilakukan oleh desainer Jenahara, pada show yang disponsori oleh Pond's. Gaya tipografi shout out, atau 'membuat pernyataan' seperti ini bukan hal baru bagi Jenahara, bahkan gaya ini bisa dibilang menjadi salah satu karakternya, setelah koleksinya yang cukup menghentak pada JFW 2016, The Writer's Song.  

Koleksinya kali ini tetap bercerita seputar tiga karakter wanita yang menjadi muse brand Jenahara, yaitu Lennox (bold character), Kira (boyish character), dan Chloe (feminine character) yang dikemas dengan konsep street wear, dikombinasikan dengan warna monochrome seperti hitam, abu-abu, dan putih. Jenahara menempatkan tipografi berdesain bold, lean and neat dalam huruf-huruf besar, pada celana, detail big sash dan belt


So, what do you think, big YES untuk tren ini, or not really?


Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Permainan Kotak, Silang dan Persimpangan Lisa Fitria

Permainan Kotak, Silang dan Persimpangan Lisa Fitria

READ MORE
Ikat Indonesia & Happa, Rayakan Ramadhan dalam Busana Modest Corak Nusantara

Ikat Indonesia & Happa, Rayakan Ramadhan dalam Busana Modest Corak Nusantara

READ MORE