Breakthrough Collection That Got Us Thinking; The Writer's Song by Jenahara Black Label

Breakthrough Collection That Got Us Thinking; The Writer's Song by Jenahara Black Label

Kejutan sebenarnya dari panggung Jakarta Fashion Week terjadi pada hari pertama , pada show desainer Indonesia Fashion Forward (IFF). Pertama kita melihat arah dan kecenderungan baru yang ditampilkan oleh para desainer muslim muda. Beberapa desainer seolah punya alur inspirasi yang hampir sama, memperlihatkan sosok hijabers yang berbeda, yang sebenarnya sama-sama produk budaya urban, seorang pemberontak.

Alur ini akan kita bahas di tulisan lainnya. Kejutan lainnya, yang menjadi fokus tulisan ini, adalah koleksi Jenahara black Label, dengan tema koleksi 'The Writer's Song'.


Sebelumnya sang desainer telah menjelaskan, koleksi ini terinspirasi sepenuhny oleh Patti Smith, seorang musisi, penulis lagu dan aktivis, yang karya-karyanya sedikit banyak menjadi bagian dari kultur pop anak muda di era tahun 80an. Patti smith sejak awal menjadi 'muse' lini JBL ini. Seluruh pemikiran, lirik, dan rekam jejak sang penyanyi menjadi ruh yang membuat Jenahar menciptakan koleksi ini.

Sesaat sebelum model berjalan di catwalk, diperdengarkan sebuh prolog ,yaitu bait lirik yang menjadi pengantar lagu 'Hey Joe' milik Patti Smith. Saya tak perlu menyadur liriknya, tetapi dalam lirik itu jelas ada beberapa kata-kata vulgar, seperti 'feel so masochistic' dan 'with your legs spread'. Dan kemudian disusul dengan model yang memperagakan koleksi dengan lagu latar 'Smell Like Teen Spirit' juga oleh Patti Smith. 


Koleksi JBL kali ini pun terasa lebih dalam, lebih gelap, dan yang saya tangkap, lebih total. Leather pants & jacket, kemeja dengan tambahan detail lilitan tali -straps-, metal rings, metal chains, yang ramai ditonjolkan pada atasan maupun bawahan, semuanya dalam warna hitam berpadu putih dan sedikit abu. Dan aksen lain yang juga menjadi 'pusat perhatian' dalam koleksi ini, kata-kata dan kalimat yang dicetak dengan 'bold' baik pada atasan, rok, tepi celana, dan tali-tali yang sengaja ditambahkan untuk membangun karakter busana. Kutipan-kutipan tersebut tidak lain adalah judul-judul lagu Patti Smith, ataupun kutipan lain yang berhubungan dengan sosok tersebut. 


Given the circumstances, beberapa audiences dan pengamat fashion banyak yang langsung memberikan komentar setelah show berlangsung. "so now you got BDSM version of hijab?" dan beberapa komentar lain yang hampir serupa. Well, tidak bisa disanggah kalau kesan kuat yang muncul sesaat setelah melihat show koleksi ini adalah, sexual prone, dominatrix, selain rebellious tentunya. Sesuatu yang menurut 'asumsi' normatif adalah jauh dari maksud 'berhijab' itu sendiri. Lilitan straps dan dan metal rings yang biasanya disebut garter, memang identik dengan kostum 'fetish fashion'. Walaupun tidak banyak ditampilkan, tetapi aksesoris tersebut cukup menonjol di beberapa look. Ditambah dengan kombinasi material kulit dan latex pada look lainnya, makin menguatkan kesan tersebut.

   

Well,paling tidak ada beberapa perspektif yang bisa kita lihat disini. Dari segi fashion, this collection definitely steal all the attention; punya look yang fresh dan berbeda, digarap dengan sangat detail dan rapi, material dan finishing yang berkualitas. Dan koleksi ini memenuhi semua unsur pada busana muslim, menutup seluruh tubuh selain muka dan tangan, cukup longgar dalam arti tidak ketat (well, this still debatable). Dan Jenahara tidak berhenti disitu. Ia mengemas koleksinya dengan sangat serius, karena memang berangkat dari sebuah ide yang sangat jelas. The writer's song, ia menceritakan obsesinya pada Patti Smith -dengan nilai-nilai yang diperjuangkannya- dan menuangkannya melalui deretan koleksi, styling, aksesoris dan ambience (saat fashion show). Jenahara memperlihatkan bahwa ia benar-benar all out dalam karyanya kali ini. And this deserve standing ovation.

Walaupun dalam beberapa look pada koleksi ini ia terlihat terlalu 'meniru' signature item yang pernah ditampilkan oleh brand internasional, seperti Vetements dan Comme de Garcons. The designer did mention about one look, 'when Vetements meet hijab'. Saya sendiri melihatnya lebih pada inspirasi tak terputus yang memang sebuah keniscayaan dalam fashion, bukan sebuah plagiat. 

Fashion itu sendiri sebagai sebuah produk budaya, produk yang dikreasi oleh seorang desainer yang tentu saja tidak 'sempurna'. Kritik terhadap fashion adalah hal yang biasa saja, dalam hal ini kritik terhadap 'penerjemahan' ide kedalam bentuk-bentuk yang tidak disadari meniru simbol-simbol budaya yang tidak berkesesuaian dengan Islam. Tetapi bila kita mau melihat lebih jauh terhadap apa yang ditawarkan oleh Jenahara, sebenarnya semuanya sangat lumrah. Hijab is only for nice girl? No. Hijab sesungguhnya diwajibkan untuk semua wanita muslim, apapun karakternya, apapun latar belakangnya, apapun gaya personalnya. Dan semangat ini yang ingin ditularkan oleh Jenahara. 


And this is what I feel most grateful about Jehan's work; she got us thinking, koleksinya membuat kita mau berpikir lebih jauh, mempelajari ide-ide dan cerita besar dibalik ide tersebut. And for me, koleksi Jehan membuat saya mengetahui tentang sosok musisi penting di tahun 90-an, beserta kondisi yang terjadi pada masa itu, dan bagaimana pengaruhnya terhadap budaya populer. Dan tentang lirik 'Hey Joe' yang berkesan vulgar saat kita hanya mendengarnya sepotong-sepotong? Sebenarnya lirik itu bercerita tentang empati sang artis terhadap Patty Hearst, gadis yang diculik oleh gerakan pemberontak pada masa itu di Amerika. 

After all, I'm grateful Jenahara came up with this 'freaking cool' collection. There's so much we can learn about, so much inspiration we can drew from.  

   

   

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Ikat Indonesia & Happa, Rayakan Ramadhan dalam Busana Modest Corak Nusantara

Ikat Indonesia & Happa, Rayakan Ramadhan dalam Busana Modest Corak Nusantara

READ MORE
Koleksi Dian Pelangi 'Allurealist' di Panggung NYFW First Stage

Koleksi Dian Pelangi 'Allurealist' di Panggung NYFW First Stage

READ MORE