Menantang Desainer Menghasilkan Tampilan Kain Indonesia yang (Selalu) Baru

Menantang Desainer Menghasilkan Tampilan Kain Indonesia yang (Selalu) Baru

Walaupun belum bisa dikatakan sudah sepenuhnya berhasil, tetapi keinginan baik dari semua stakeholder fashion Indonesia untuk membuat masyarakat mencintai dan memakai kain Indonesia sudah bisa kita lihat hasilnya. Sekarang hampir di semua kesempatan dan dimanapun, kita sudah jamak menyaksikan orang-orang memakai baju dengan unsur kain Indonesia, mulai dari batik, tenun, songket, lurik, dan segala variasinya. Keadaan ini secara kasat mata bisa dibilang berbeda dengan kondisi 2 dasawarsa lalu, saat kain tradisional diperlakukan sebagai 'kain tradisional', hanya dipakai saat acara-acara tertentu atau golongan tertentu yang berkaitan dengan tradisi. 

Dalam beberapa tahun ini pula, kita sudah sangat terbiasa sekali (bukan hal yang baru lagi) dengan banyaknya -bahkan ramainya- produk fashion dengan satu benang merah utama; material etnik, dengan look modern. Rasanya semua pelaku usaha di bidang fashion craft (fashion dengan bahan/material kain nusantara) menggunakan mantra yang sama ini sebagai basis usahanya. Mereka mengeksplor dan menggunakan kain Indonesia, dan mengolahnya untuk menjadi busana siap pakai dengan model yang modern, bisa dipakai sehari-hari.

Lantas pasar Indonesia menjadi sangat ramai dengan produk busana fashion craft ini. Mereka berperan sebagai independen brand, 90% pelakunya adalah sektor UKM, yang biasanya memanfaatkan channel pameran-pameran dan online store. Industri yang bergeliat ini memberikan efek positif bagi para pengusaha dan pengrajin kain tradisional, yang mayoritas masih berada di kota-kota yang jauh dari Ibukota Jakarta. 



Nikicio


Tetapi disisi lain, dari kacamata perkembangan mode, model dan gaya yang ditawarkan para pelaku usaha fashion craft ini, cenderung stagnan dan kurang terlihat adanya diferensiasi produk yang kuat. Terjebak pada gaya yang kurang lebih sama, dan tidak banyak pelaku usaha yang mau mengolah material lebih jauh, cenderung menggunakan bahan kain tradisional yang sudah tersedia. Disinilah peran desainer fashion. Seorang desainer fashion yang mumpuni memiliki keahlian yang menyeluruh di bidang fashion dari hulu hingga hilir, menciptakan trend dan nilai tambah. Jadi bukan sekedar membuat baju

Di Indonesia, kita mendengar beberapa desainer yang berkomitmen tinggi untuk melestarikan kekayaan budaya Indonesia. Mereka seringkali terjun ke daerah-daerah, membina para pengrajin untuk menghasilkan produk fashion craft yang mempunyai nilai tambah lebih tinggi, dibandingkan hasil produksi yang telah ada secara turun temurun. Jadi kekayaan budaya Indonesia itu sudah ada, dan jumlahnya luar biasa banyaknya, tugas kita, atau desainer khususnya, adalah 'membuat kemasan' yang lebih menarik, selalu dinamis mengikuti perkembangan jaman. 

Di pasar fashion craft yang mulai jenuh, desainer ditantang untuk selalu menciptakan tampilan/look yang berbeda dari kain Indonesia, differensiasi produk yang kuat, sehingga unsur 'kekayaan budaya' ini bisa benar-benar menjadi ciri fashion Indonesia. Sehingga fashion Indonesia bisa berkembang dan setapak demi setapak naik ke level yang lebih tinggi. Karena dalam fashion unsur utamanya adalah menampilkan sesuatu yang baru, yang berbeda sehingga bisa menimbulkan inspirasi. 

Jenahara


Usaha ini yang sedang dilakukan oleh FimelaFest dalam program Festival Fashion Kain Indonesia. Fimela menantang lebih dari 10 desainer muda Indonesia untuk mengolah kain Indonesia menjadi koleksi fashion yang siap pakai, modern dan kekinian. Tiga nama diantaranya adalah Jenahara, Restu Anggraini, dan Nina Nikicio. Mereka bersama beberapa desainer lainnya menampilkan koleksi olahan kain Indonesia dalam peragaan bertajuk Cita Nusa Kirana

Selalu ada cerita menarik dalam tantangan yang diterima oleh para desainer ini. Nina Nikicio misalnya, sebelumnya ia sama sekali tidak pernah menggunakan kain Indonesia untuk labelnya Nikicio. Selain kurang bisa masuk kedalam karakter desainnya yang edgy, monokrom dan lifewear (tidak seasonal), kain tradisional juga cenderung one-off, motifnya tidak bisa identik antara satu kain dengan lainnya. Akhirnya Nina bertemu dengan lurik, dan tertarik dengan sejarah lurik yang pada mulanya adalah kain untuk kaum bawah (poor people). Dan hasilnya, koleksi berbahan lurik yang bernuansa monokrom dan tetap berkarakter Nikicio. 


Jenahara yang juga jarang menggunakan kain indonesia dalam koleksinya, kini memilih tenun Jepara yang motifnya ia kreasikan sendiri sesuai garis rancangannya yang simpel dan edgy. Kali ini ia tidak bermain aman dengan hanya warna hitam, tetapi memasukkan unsur warna muda seperti putih dan pink. Ia mengkreasikan motif stripe bergelombang, dan snowdrop, menghasilkan tampilan tenun yang ringan dan tidak konvensional. 



Restu Anggraini

See also:
-- Miarosa; Wujudkan Gaun Pengantin Impian Muslimah -- Makkah Madinah Jannah, Bergaung di New York Fashion Week -- Memahami Preferensi Busana Muslim Jelang Ramadhan-Lebaran dalam Koleksi Kamilaa-Itang Yunasz -- Arfiani, Menekuni Busana Muslim Syar'i dengan Brand Hurrem bu Fia --

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Koleksi Memikat Tren 2019 dari 5 Lini Anggia Mawardi

Koleksi Memikat Tren 2019 dari 5 Lini Anggia Mawardi

READ MORE
The More Hannie Hananto, The Merrier

The More Hannie Hananto, The Merrier

READ MORE