Totalitas Menggarap Etnik, dari Olah Bahan hingga Kekuatan Styling

Totalitas Menggarap Etnik, dari Olah Bahan hingga Kekuatan Styling

Fashion etnik pada umumnya dikaitkan dengan busana yang bercorak tradisional, atau bertalian dengan unsur budaya tertentu. Pada kenyataannya, inilah yang menjadi kekuatan terbesar Indonesia, kekayaan etnis berbagai daerah yang tidak habis dieksplorasi dan dijadikan inspirasi, dan menjadi 'the ultimate creation', yang membuat fashion Indonesia memiliki jatidiri. 

Fashion etnik bukan berarti tampilannya tradisional. Karena untuk melestarikan kebudayaan, diperlukan pengembangan, terobosan yang selalu menghasilkan unsur kebaruan, yang diminati oleh generasi muda. Genre fashion etnik-modern ini yang kini tumbuh subur di Indonesia, dan tidak surut diserap oleh pasar lokal. 

Tema Etnik menjadi salah satu yang selalu diangkat dalam pergelaran tahunan Surabaya Fashion Parade. Kini memasuki tahun ke-11, Surabaya Fashion Parade 2018 kembali diselenggarakan dengan menempati venue baru, yaitu di Tunjungan Plaza 6. Tema Etnik di hari pertama, menghadirkan  desainer ternama baik dari Surabaya maupun desainer tamu, antara lain Deden Siswanto, Interim Clothing, RI Clothing, Jarit, Alphiana Chandrajani dan Novita Yunus. 

Para desainer menampilkan koleksi busana etnik dengan perspektif yang lebih kaya, menjadikan busana etnik-modern makin relevan sebagai pilihan fashion, sekaligus mewujudkan busana etnik sebagai karya semi-avant garde, yang megah.


  

Deden Siswanto sebagai desainer pembuka membawa koleksi yang breathtaking, megah dengan aura aristokrat. Dengan teknik jahit dan styling serba tumpuk (layering) yang menjadi karakter dan DNA-nya, kombinasi kain batik, songket, linen, tenun tradisional dengan warna-warna yang kaya dipadukan secara apik dan struktural. The kind of styling only Deden Siswanto can master

Teknik baru olahan material juga mendapat sorotan pada slot ini. Batik Teyeng, atau teknik batik dan motif dengan menggunakan karat (rust dye) diwujudkan oleh Interim Clothing dan RI Clothing. Interim Clothing dengan koleksinya bertajuk Anurakti Fall membuat desain dengan teknik serupa Shibori, tetapi memanfaatkan warna hasil karat dari bahan-bahan yang tidak terpakai. Teknik pewarnaan ini lebih ramah lingkungan, dan menghasilkan motif unik berwarna monokrom, perpaduan hitam dan gradasi kuning-coklat. "Siluetnya Asia, loose, dengan tampilan yang modern, sehingga tidak tampak konvensional," jelas Dibya Hodi selaku Creative Director Interim Clothing.

  

Interim Clothing

Batik Teyeng juga menjadi salah satu unsur utama dari label RI Clothing, yang menampilkan koleksi perdananya ini di Surabaya Fashion Parade. RI Clothing menggunakan kombinasi lurik dan batik, dengan karakter utamanya yang slouchy, dekonstruktif, dan genderless. Kali ini, Batik Teyeng dihadirkan sebagai kain utuh, bukan bagian dari busana. Untuk pengerjaan batik Teyeng ini, Hery sang kreator bekerjasama dengan seniman lulusan ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta. Beragam perkakas dari besi yang telah berkarat, dilekatkan pada kain sehingga membentuk motif sesuai bentuk perkakas tersebut. Setelah tercipta motif teyeng, kemudian dilanjutkan dengan membatik dengan cap maupun tangan diatas kain tersebut. 

Kecintaan para desainer yang mendalam terhadap hasil karya budaya dan kain Indonesia menghantarkan mereka menciptakan karya-karya etnik yang menarik dan mampu tampil beda diantara produk-produk fashion lainnya. 

RI Clothing


Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Koleksi Dian Pelangi 'Allurealist' di Panggung NYFW First Stage

Koleksi Dian Pelangi 'Allurealist' di Panggung NYFW First Stage

READ MORE
Bermain Kotak ala Rani Hatta, ATS The Label & I.K.Y.K

Bermain Kotak ala Rani Hatta, ATS The Label & I.K.Y.K

READ MORE