The Rise of #GenM; Generation Muslim

The Rise of #GenM; Generation Muslim

Shelina Janmohamed pada Agustus 2016 menerbitkan sebuah buku yang menjadi perhatian internasional, berjudul GenerationM; Young Muslims Changing The World. Shelina yang merupakan seorang penulis muslim dari Inggris, sebelumnya memang banyak menghasilkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan dirinya sebagai seorang muslim di negara barat. Belum jelas siapa yang pertama kali menciptakan istilah GenerationM, tapi memang buku ini menjadi dokumentasi pertama yang menggunakan istilah ini, atau biasa disingkat GenM. Maknanya jelas dan tersurat, merujuk pada generasi muslim. Dalam penjelasannya, Shelina menyebut genM sebagai generasi muda muslim yang lahir sejak tahun 1980an yang kini menjadi wajah mayoritas warga muslim dunia.

Di Indonesia, Yuswohady seorang ahli dan praktisi pemasaran juga baru saja menerbitkan buku GenM: #GenerationMuslim. Terbit Desember 2016, tetapi baru diluncurkan dan mendapat perhatian publik semester awal 2017. Buku ini bisa dibilang merupakan kelanjutan dari buku sebelumnya, Marketing to the Middle Class Moslem, dengan matriks 4 segmen konsumen muslim yang menjadi sentral bahasan dan kemudian menjadi rujukan dimana-mana. 

 

Yuswohady dan tim melihat bahwa selain pengelompokan generasi yang mengacu dari Amerika, gen X, milenial dst -berdasar kelompok umur dan sosio historis-, sebuah identifikasi generasi dengan karakteristik yang jauh lebih kuat dan massal sedang terjadi, terutama di Indonesia. Generation Muslim, atau disingkat GenM. 

Keduanya, baik Shelina maupun Yuswohady menggunakan istilah yang sama persis, merujuk pada generasi muslim muda dengan karakteristik tertentu. Bedanya, Shelina mengamati GenM sebagai fenomena di seluruh dunia, bahkan dalam bukunya ia menggambarkan gaya hidup muslimah muda di Indonesia sebagai salah satu gambaran dari GenM. Sedangkan Yuswohady fokus pada fenomena yang terjadi di Indonesia, generasi muslim muda Indonesia.


Siapa sebenarnya GenM tersebut? GenM adalah generasi muslim Indonesia yang lahir pada tahun 80an (generasi milenial) yang secara sosio historis menikmati iklim yang kondusif bagi umat Islam. GenM menurutnya memiliki 4 karakteristik unik yang hanya ada di Indonesia; Religius, yang taat pada kaidah Islam. Kedua, mereka melihat dan sangat yakin Islam sebagai rahmatan lil alamin yang memberikan kebaikan universal (universal goodness) kepada seluruh umat manusia. Ketiga, modern, berpengetahuan melek teknologi dan berwawasan global. Dan keempat, mereka makmur dengan daya beli tinggi (high buying power). 

Bila dilihat dari keempat karakteristik yang ditemukan oleh Yuswohady ini, tidak berbeda dengan apa yang ditulis oleh Shelina tentang genM di dunia. Religius -Shelina menekankan pada kebanggaan generasi muslim untuk menunjukkan identitas keislamannya, sebagai konfrontasi atas stereotip yang dilakukan oleh sebagian media mainstream tentang muslim pada tahun-tahun lalu-, modern, bermindset global dan meyakini bahwa Islam bisa membawa universal goodness. Hanya faktor daya beli tinggi yang tidak/kurang di highlight oleh Shelina. Ia justru menekankan pada generasi muslim muda yang mampu bersuara lantang, berprestasi sehingga mampu membuat dunia 'menoleh'. 


Sebagai pakar pemasaran -dan buku ini pun lebih berorientasi pada GenM sebagai fenomena generasi konsumen baru-, Yuswohady melihat GenM sebagai penentu masa depan pasar Indonesia. Konsumen Indonesia memiliki karakter unik yang berbeda, meskipun globalisasi dan gaya hidup barat begitu berpengaruh, tetapi kelokalan dan nilai-nilai Islam tetap dominan mempengaruhi pola pikir, pola sikap dan pola tindak mereka. 

GenM menjadi penanda pergeseran nilai konsumen muslim, dimana mereka akan menjadi semakin universalis (mengacu pada matriks 4 segmen konsumen muslim; rationalis, apatis, universalis dan konformis). Pergeseran konsumen muslim menjadi semakin universalis, yaitu semakin religius (pergeseran ke kanan) dan disaat yang sama juga semakin modern, berpengetahuan dan rasional sehingga mereka semakin cerdas dan mencari manfaat fungsional dan emosional dalam mengonsumsi produk.

Buku ini kemudian menjabarkan tren 'the new coolness' yang dipercaya oleh GenM.  GenM seperti juga generasi-generasi sebelumnya menyukai hal-hal yang dianggap cool. Global is cool, begitupun digital, internet, dan merek-merek barat adalah sesuatu yang cool. Kreatifitas, inovasi, seperti halnya startup adalah hal-hal yang cool. Universal goodness is cool.

Tetapi dengan makin bergairahnya Islam, dan makin mendapat tempat dalam segala bidang kehidupan, GenM yang religius merasa bahwa nilai-nilai Islam seperti kesalehan, kebaikan dan halal inilah identitas baru yang cool, yang disebut dalam buku sebagai 'the new cool'. Hijabers, halal lifestyle, non-riba are the new cool. Tokoh-tokoh muda Islam, zakat-infaq-sedekah, kewirausahaan muslim and everything modern with Islam touch is cool.  GenM percaya dan berani menunjukkan bahwa Islam itu keren. 

Selanjutnya, Yuswohady kemudian memproyeksikan bahwa gaya hidup GenM inilah yang akan mendominasi Indonesia tidak lama lagi. Terutama mulai 2019 setelah UU Produk Halal mulai diterapkan. Produsen dan para pemasar harus bisa melihat tren ini dan menangkapnya sebagai peluang. Yuswohady juga menjelaskan dan merinci dengan detil, bagaimana karakter, kebiasaan, hingga kesukaan GenM sehingga pengetahuan ini bisa dijadikan strategi pemasaran yang tepat untuk para marketers di Indonesia.

Well, bilapun GenM dan fenomena ini kini diprediksikan sebagai tren, semoga bukan siklus yang sementara melainkan kecenderungan ke arah yang lebih baik bagi Indonesia dan dunia, mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. 

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Generasi Muslim Muda dan Cara Mereka Membentuk Dunia

Generasi Muslim Muda dan Cara Mereka Membentuk Dunia

READ MORE
Mewujudkan Tontonan Indonesia yang Lebih Baik, Ini Kesempatannya!

Mewujudkan Tontonan Indonesia yang Lebih Baik, Ini Kesempatannya!

READ MORE