Nouman Ali Khan dan Keterhubungan dengan Al Qur'an

Nouman Ali Khan dan Keterhubungan dengan Al Qur'an

Status facebook Irfan Habibie Martanegara muncul di lini masa saya, "Sampai kemarin (Sabtu 5 Mei 2018, red) banyak yang masih nanya, beneran ustadz Nouman mau ke Indonesia? Alhamdulillah beliau sudah sampai tadi pagi. Mohon doanya agar acara besok berjalan lancar." 

"Reconnect with Qur'an" adalah tema yang diambil untuk dibahas Ustadz Nouman Ali Khan (NAK) dalam dua sesi. Empat puluh menit sebelum sholat ashar berjamaah di Masjid Istiqlal dan 40 menit  sesudahnya. Di mana, sesi kedua akan melengkapi sesi yang pertama tadi. Sesi pertama dimulai dengan pembahasan mengenai Nabi Ibrahim AS. 

Qur’an adalah jawaban atas do’a Ibrahim as. Kala mendengar ini air mata turun tanpa permisi dari. Ibrahim kekasih Allah saja berdoa baru dikabulkan dalam waktu yang tidak sebentar. Apalagi yang tidak istimewa seperti kita-kita ini.  

Kata NAK, orang yang hatinya terhubung dengan Qur’an bawaannya happy, bukannya malah marah-marah. Sebab Qur’an diturunkan sebagai rahmah. Etimologi rahmah adalah dari kata rahim, sehingga rahmah yang dari Allah Subhana Wa Ta'ala kepada manusia itu analog dengan kasih sayang ibu ke anak.

Sesungguhnya, Qur’an diturunkan untuk kita masing-masing, bukan untuk mengkritik orang di luar kita. Iya sih, ada pesan untuk menyampaikan, meskipun hanya satu ayat. Namun, interpretasi saya terhadap maksud Ustadz NAK adalah, ultimate goal-nya adalah hubungan personal antara kita dengan Qur'an. 

Sebenarnya, ada kesamaan yang sangat mendasar antara mereka yang nggak bisa baca Qur’an dan yang hafal Qur’an. Dan masalahnya seringkali sama: Hatinya belum terhubung dengan Qur’an. Bila kamu merasakan ini, berarti kamu tidak sendiri. Saya juga merasakan hal yang sama. 

Di akhir kedua, Ustadz NAK mengemukakan beberapa tips supaya tetap "Connected with Qur'an"


*** 


Ustadz NAK diundang hadir ke Indonesia bukan tanpa alasan. Ustadz NAK ini CEO-nya Bayyinah Institute, yang sejak tahun 2005 telah berbagi pesan dan bahasa Qur'an ke seluruh dunia. Ustadz NAK memulai dengan laptop dan koneksi internet dalam berbagi pesannya. Kini sudah ada yang like fan page Nouman Ali Khan sebesar 2 juta orang lebih. Instagram Nouman Khan diikuti oleh lebih dari 54.300 pengguna instagram. 

Irfan Habibie Martanegara yang saya sebutkan di atas, adalah ketua komunitas NAK Indonesia. Komunitas ini ada facebook dan instagramnya juga, kok. "penggemar" NAK di Indonesia membangun komunitasnya di https://nakindonesia.wordpress.com

Beliau ini populer dan disukai karena tema-tema ceramahnya sering terkait dengan bagaimana seorang Muslim mempersepsikan Islam-nya sendiri. Bisa dikatakan, beliau ini adalah ustadz yang tepat bagi mereka yang ingin mempraktikkan dan memaknai Islam hingga dapat memenuhi (fulfil) jiwanya. Sebagaimana kita ketahui, ada beberapa di antara kita sesama Muslim yang merasakan "dahaga dan kekeringan" karena belum mampu memaknai ibadah-ibadah yang dia lakukan serta koneksinya dengan gambaran besar (big picture) kehidupannya sendiri. Saya pun merasakan hal yang sama. 

Di samping itu, salah satu kelebihan beliau dalam berdakwah adalah beliau tampak mengerti dengan kegelisahan orang-orang Islam yang kehidupannya jauh dari Islam. Beliau ini, sepanjang pengetahuan saya tidak membahas hal-hal berat seperti fiqih. Jadi, begitulah adanya beliau memosisikan diri di "jalan dakwah".

Di era pemasaran online dan offline seperti sekarang, terkoneksi via online saja tidak cukup. Ketemu offline juga penting. Seperti yang sengaja dilakukan oleh komunitas NAK Indonesia yang mengundang Ustadz NAK. Hampir setiap tahun sejak 2015, komunitas ini berupaya menghadirkan Ustadz NAK ke Indonesia. Kedatangannya pada Sabtu lalu, adalah yang pertama di Indonesia. Menurut beliau, ada 14ribu orang hadirin di Masjid Istiqlal. Namun sumber lain menyatakan lebih dari itu: 26ribu orang. 

*** 


Ada kisah hijrah yang menarik dari Ustadz NAK. Ketika itu NAK yang masih mahasiswa, ia mendapat selebaran dari dua mahasiswa lain untuk menghadiri pertemuan MSA (Muslim Students Asociation). 

Nouman muda berangkat ke pertemuan MSA tersebut dengan bayangan bahwa acaranya akan ramai dihadiri oleh orang-orang. Namun ketika sampai di sana, ternyata hanya ada dua orang orang rohis yang membagikan selebaran, sebuah kotak pizza dan ruangan yang kosong. Tidak ada yang lainnya.

NAK hendak pergi saja sebab menerima kenyataan yang jauh berbeda dari ekspektasinya itu. Namun, kedua orang tadi mencegahnya, "Setidaknya makan pizza dulu sebelum kamu pergi." 

Nouman muda akhirnya duduk, mengobrol, dan mulai menjadi akrab. Salah satu dari mereka, memberi NAK muda tumpangan pulang dengan mobilnya. Ketika mereka terjebak macet, mahasiswa rohis itu menepikan mobilnya ke sebuah masjid sembari menyatakan, “Jika kamu tidak keberatan, saya akan salat dulu.” Rohis itu tidak mengajak NAK muda salat. Mungkin karena sepanjang perjalanan ia mendengar NAK muda mengumpat, menggunakan bahasa kotor, mengkritik Islam, dan menyatakan Qur'an tidak masuk akal.

Yang menarik, mendengar celotehan Nouman muda tadi, temannya yang Rohis itu hanya bergumam, “Oh, hoo, oh ya, ya…” Tidak ada respons dan debat!

Dengan semua argumentasi tentang agnostik dan tidak percaya agama, sesuatu dalam diri Nouman muda berbisik, “Saya juga harus ikut salat.” Ia akhirnya turut masuk ke dalam masjid. Pada waktu itu salat Maghrib dan ia baru bergabung pada rakaat yang ketiga. Ketika semua orang salam, NAK muda malah ikut salam tanpa menambah jumlah rakaat yang kurang. Mengapa demikian? NAK muda sudah lama tidak salat. NAK muda lupa bagaimana cara salat, tapi salatnya yang satu rakaat itu terasa sangat nikmat.

Selama sisa perjalanan pulang, NAK muda tidak mengatakan apapun lagi. Setelah kembali ke rumah, ia mulai mencari tahu bagaimana cara salat. Nouman muda pun mulai mencoba membiasakan kembali salat. Namun karena ia tidak tahu bagaimana cara salat, Nouman muda selalu meminta teman rohisnya untuk memimpin salat.

Teman rohisnya ini mengenalkan NAK dengan masjid-masjid di sekitar daerah Queen. Temannya itu juga orang yang mengenalkan Nouman muda pada orang yang akan menjadi guru bahasa Arab dan al-Qur’annya. 



(foto-foto: @ihsansiswanto)

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Women, Feminism, and Islam

Women, Feminism, and Islam

Today, feminism and women empowerment have become a lot more important than they were years ago. How Indonesia as the most populous Muslim country in the world should address the issue, especially in the middle of the rise of Islamic fundamentalism?

READ MORE
Less is More; Menilik Gaya Hidup Minimalis

Less is More; Menilik Gaya Hidup Minimalis

READ MORE