Imajinasi dan Prasangka dalam 'Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi'

Imajinasi dan Prasangka dalam 'Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi'

Film layar lebar seperti yang kita tahu sekarang, yang 'dibatasi' oleh adanya durasi, kemudian seperangkat konstruksinya seperti sutradara, pemain, penulis skenario, dan seterusnya -seperti yang pernah dikatakan oleh seorang sineas- adalah media yang sangat efektif sebagai penyampai gagasan seluas-luasnya ke masyarakat. 

Tetapi inilah menariknya film. Pada batasan tersebut bisa tertampung ide, gagasan, konten tak terbatas, dari yang kosong, dangkal, asal-asalan, menarik, brilian, imajinatif, kreatif, luas, bahkan hingga sampah.

Selama ini biasanya sebuah film akan diulas berdasarkan parameter yang populer, bolehlah kita meminjam dari kategorisasi Oscar; penyutradaraan, sinematografi, kualitas akting, musik. Atau dari para pengulas film; alur cerita, twist, dan lainnya. 

Dari parameter-parameter populer tersebut kentara sekali penilaian saya setelah dan selama menonton film yang baru dirilis minggu ini: Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi. Bukan film yang enak dinikmati. Let's specify. Akting para pemerannya, sinetron banget. Karakter utama bernama Sophie, yang diperankan oleh mantan Puteri Indonesia Elvira Devinamira, seolah hanya sebagai sematan objek imajinasi dan prasangka karakter lainnya, dengan akting sangat dangkal. Rombongan ibu-ibu kampung dengan dialog dan ekspresi lebay alias berlebihan. Intinya, sepanjang film ini kita dibuat mengernyit dan mual saking absurdnya cerita dan akting mereka. Well, meskipun banyak juga adegan lucu yang membuat penonton tertawa. 

Tapi tunggu, jangan buru-buru memberi kesimpulan. Saya akan menceritakan lebih lanjut mengapa saya bersyukur bisa mendapat kesempatan untuk menonton film ini. 

A movie speaks thousand ideas, even beyond what we saw on the screen.

Ini adalah segelintir film 'kuat' karya sineas Indonesia, yang mesti dilihat dan ditafsirkan melampaui apa yang diceritakan di layar. Tema utamanya jelas sekali dituturkan saat film dimulai; imajinasi dan prasangka. Apakah ada yang salah dari imajinasi manusia, seberapa adil kita bisa bersikap terhadap imajinasi. Dan sebaliknya, prasangka yang melahirkan kedengkian dan cenderung merusak tatanan. 

Sejarah cerita Dilarang Mandi Di Kamar Mandi (DMDM) rupanya bisa ditarik jauh kebelakang, sebagai karya asli dari seniman/sastrawan Seno Gumira Ajidarma yang dimulai tahun 1990. DMDM awalnya ditulis sebagai ungkapan atas 'penindasan' dari penguasa Orde Baru berupa larangan pertunjukan drama 'Suksesi' dari Teater Koma. Naskah yang awalnya berupa cerpen ini kemudian mengalami berbagai 'evolusi' selama bertahun-tahun, yang terakhir menjadi naskah skenario yang disutradarai oleh John De Rantau.

John sendiri mengatakan bahwa ini merupakan karya terbaiknya, dari banyak film yang sudah ia bidani hingga kini. Membawa gagasan asli DMDM dari sastrawan kenamaan Seno Gumira Ajidarma. 


So, jadi memang itulah gagasan yang ingin disampaikan. Bukankah manusia merupakan mahkluk ciptaan Allah yang dianugerahi imajinasi tak terbatas? Imajinasi yang bisa membuat segalanya mungkin. Apakah seorang manusia bisa disalahkan atas imajinasinya? Apakah orang lain, lingkungan, penguasa atau siapapun berhak melarang imajinasi seseorang?

Dan yang juga relevan dengan kondisi saat ini, demokrasi yang mengandalkan keberdayaannya pada suara terbanyak yang sah. Bagaimana kalau suara terbanyak itu salah? DMDM sebagai layar lebar yang tayang di tahun ini, tampak relevan dengan masalah itu. 

Pemeran utama Elvira Devinamira memang memenuhi ekspektasinya. She served what she expected, bukan sebagai aktris utama yang berakting memukau. Pemeran lainnya pun saya rasa demikian, ibu-ibu kampung yang lebay to-the-max, mulai dari dialek berbagai daerah, ekspresi yang ngotot, hingga bapak-bapak kampung tidak ada kerjaan yang bisa 'orgasme' berjamaah di tempat umum. Semuanya memang dibuat hiperbolik yang bikin penonton geram, sesuai dengan genre film ini sendiri, satire. 

Sehingga para pembuat film tak perlu (terlalu) repot-repot membuat film yang 'bagus', yang penting bisa menggelitik, mengusik pemikiran dan rasa kritis kita semua yang mungkin sudah terlalu nyaman dengan keadaan sekarang. Tetapi malah melupakan unsur-unsur sederhana yang seharusnya bisa dihadirkan; seperti tidak ada pemeran utama yang benar-benar bernyanyi. If it's literal, why not serve it all out?

Akhirnya, film ini bisa dibayangkan seperti komik satire, yang fungsinya untuk mengusik ketentraman berpikir kita tadi, juga refleksi terhadap fenomena seperti prasangka dan hoax yang merusak. 

 




Tags

indonesia   seniman   Film   Movie  
please login to comment.

RELATED ARTICLES

Mewujudkan Tontonan Indonesia yang Lebih Baik, Ini Kesempatannya!

Mewujudkan Tontonan Indonesia yang Lebih Baik, Ini Kesempatannya!

READ MORE
The Rise of #GenM; Generation Muslim

The Rise of #GenM; Generation Muslim

READ MORE