Dari Grunge hingga Terpal Bag, Interpretasi Tren Mode di Jakarta Fashion Trend 2019

21 desainer memamerkan karya tebaru atas interpretasi Indonesia Tren Forecasting 2019/2020

Dari Grunge hingga Terpal Bag, Interpretasi Tren Mode di Jakarta Fashion Trend 2019

Tren dalam fashion dan industri fashion merupakan spirit, sebuah kumpulan gagasan yang berkembang dan berubah terus menerus, dan menjadi penggerak fashion itu sendiri. Pelaku fashion dunia pun selalu membaca perubahan jaman untuk melahirkan gagasan yang akan menjadi tren, yang akan menjadi penggerak miliaran dollar belanja fashion dunia*. 

Indonesia melalui Badan Ekonomi Kreatif sejak tahun 2017 lalu telah merintis dan melahirkan panduan tren sektor ekonomi kreatif pertama, dan kini telah menerbitkan Trend Forecasting 2018/2019, Singularity. Arahan dan prediksi tren ini, disusun oleh para ahli yang kompeten, disusun melalui riset yang mendalam dan metode yang bisa dipertanggungjawabkan. 

Indonesian Fashion Chamber (IFC) sebagai asosiasi fashion besar di Indonesia yang mewadahi desainer dan pengusaha fashion, ikut bertanggung jawab untuk memajukan industri fashion di tanah air dan mewujudkan cita-cita bersama, sebagai salah satu pusat mode dunia.

Dalam rangka menggulirkan arahan tren ini, IFC secara berkala dan konsisten menggelar berbagai event fashion di beberapa kota di Indonesia, dan tentu saja Jakarta sebagai 'pusat mode' Indonesia. Kali ini, event tersebut diselenggarakan di Jakarta dengan nama Jakarta Fashion Tren 2019.  

Mengutip Ali Charisma, National Chairman IFC, "IFC tidak hanya berperan dalam pengembangan bisnis saja, tetapi juga dalam pendidikan. Kita secara aktif menggulirkan tren fashion, bukan saja untuk member supaya tetap produktif dalam membuat koleksi, tapi juga untuk merespon bahwa Indonesia bisa menjadi destinasi fashion dunia. Di semua daerah di Indonesia, dan artinya kini tidak ada batasan antar kota, informasi tentang tren bisa berkembang di mana saja. Keberagaman Indonesia ini merupakan nilai plus bagi mode Indonesia." 

"IFC dibentuk untuk industri mode, bukan untuk anggota saja, karena itu kita harus merespon terhadap visi nasional ini. Untuk memajukan industri mode, kita perlu kekuatan dan kerja keras untuk meningkatkan mutu fashion lokal kita. Dengan konsisten mengadakan berbagai event, diharapkan setiap kota punya standar fashion yang baik dan kuat, dan bisa diterima secara internasional. Pada gilirannya nanti, diharapkan banyak pembeli internasional akan datang ke Indonesia, dan produk-produk Indonesia punya nilai plus yang unik dan berbeda dengan negara lain."  

Hannie Hananto

Jakarta Fashion Trend 2019 diselenggarakan pada tanggal 8 November 2018 di Gran Melia Hotel Jakarta, mempresentasikan koleksi tren 2019 karya desainer anggota Indonesian Fashion Chamber terutama chapter Jakarta. Menghadirkan rangkaian acara berupa fashion show, fashion exhibition, trend presentation, dan fashion illustration competition. Fashion show menampilkan presentasi koleksi tren 2019 karya lebih dari 21 desainer anggota Indonesia Fashion Chamber Jakarta Chapter, yakni Lisa Fitria, 2Pose by Monika Jufry, Anemone by Hannie Hananto, Najua Yanti, #MARKAMARIE, Lia Mustafa, Fitri Aulia, KHANAAN, Eugeneeffectes, Raegita Zoro, Priscilla, Novita Yunus, KULTURA by Barlan &; Gita, JSL LeViCo by Justina Josepha, Ichwan Thoha, dan Lenny Agustin. Serta menghadirkan karya desainer tamu, yakni Itang Yunasz dengan brand Allea dan Ali Charisma.

Jakarta Fashion Trend 2019 menampilkan pula karya desainer Indonesia Fashion Chamber Jakarta Chapter  yang berkolaborasi dengan berbagai pihak, antara lain Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kalimantan Barat mempersembahkan karya Chaera Lee dan Wignyo, Dekranasda Sulawesi Barat mempersembahkan karya Neera Alatas, Dekranasda Kutai Barat mempersembahkan karya Billy Tjong, Dekranasda Maluku Tenggara Barat, dan Galeri Batik Destiani mempersembahkan karya Irma Intan. Selain itu, menampilkan debut karya Risa Maharani, alumni SMK NU Banat binaan Bakti Pendidikan Djarum Foundation, sebagai desainer profesional.

Ada 4 tema/tren utama dalam ITF 2019/2020 tersebut yang diinterpretasikan oleh masing-masing desainer, yaitu Exuberant, Neo Medieval, Svarga, dan Cortex yang mengangkat kekuatan konten lokal dan kesinambungan dengan tren global. Empat nama tren utama ini merupakan garis besar arahan atau simplifikasi, untuk memudahkan para desainer dan pelaku bisnis fashion mencari rujukan. Setelah nantinya dikonsumsi oleh masyarakat, baik sebagai produk siap pakai ataupun lainnya, maka interpretasi, pemahaman dan pengadopsian tren tersebut bisa sangat berkembang dan bahkan bercabang tidak terbatas, tumbuh secara organik bersama pasar dan konsumen. 

  

Ali Charisma - Itang Yunasz


Fitri Aulia

Inti dari keempat tren tersebut adalah respon yang berbeda-beda terhadap Artificial Intelligence yang merupakan keniscayaan dunia. Dengan banyaknya desainer yang berpartisipasi dalam event ini, banyak pula ragam interpretasi tren yang bisa kita saksikan. Seperti Hannie Hananto, desainer yang sekaligus merupakan ketua IFC chapter Jakarta, menampilkan koleksi bertema 'Candy-Candy', karakter kartun populer di era 90-an. Koleksi yang sangat berwarna, ramai dan menyenangkan ini sangat mewakili tren besar Exuberant yang menunjukkan keceriaan dan optimisme lewat permainan warna yang colorful. 

Eugeneeffectes cukup membuat penonton terkesima dengan koleksinya yang bernada grunge, saling tabrak motif dengan patchwork di sana sini. Menunjukkan sebuah ketidak teraturan, sebuah ciri gaya dan subtema Posh Nerd dalam tema besar Exuberant. 

Koleksi bertema rumah sakit yang sangat bergaya pop, dihadirkan oleh Lisa Fitria yang memang sangat berkarakter grafis menonjol dan pop. Tema rumah sakit ini ditampilkan dalam warna-warna merah-putih, motif serupa grafik medis, aksen-aksen khas dokter seperti masker dan stetoskop sebagai aksesoris. Sangat menyenangkan!

Monika Jufry yang memiliki karakter desain kalem dan minimalis, mengusung subtema New Age, masih dalam Exuberant. Asian look yang kuat, dihadirkan melalui potongan terinspirasi dari kimono, dan saku-saku besar yang menjadi highlihgt desain. Stylingnya pun sangat kreatif, dengan fascinator/headpiece berbentuk segitiga dari material serupa goni/kanvas kaku.

Risa Maharani, desainer yang merupakan alumni SMK NU Banat, Kudus membuat koleksi yang menonjolkan craftmanship, menggunakan benang emas dan sutra dalam teknik manipulasi bahan. Berbagai ornamen yang menjadi daya tarik koleksi ini, seperti syal terbuat dari olahan bahan yang tak terpakai, dan tas beragam ukuran dari bahan terpal.  Look dan desain koleksi ini mengacu pada tren Cortex, yaitu paradoks kecerdasan artifisial.

  

Monica Jufry

  

Eugeneffectes - Lisa Fitria

  

Risa Maharani

Masih banyak lagi karya para desainer yang ditampilkan dalam Jakarta Trend Forecasting 2019, yang sangat menarik dan menginspirasi, yang akan kami tampilkan dalam tulisan terpisah.  

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Koleksi Raya KAMI yang Makin Cantik dengan Renda & Bordir

Koleksi Raya KAMI yang Makin Cantik dengan Renda & Bordir

READ MORE
riamiranda on Muffest 2016; Challenging Its Comfort Zone

riamiranda on Muffest 2016; Challenging Its Comfort Zone

READ MORE