Beratnya Konsekuensi 'Syahidan Alaikum'
By ketupatkartini - Jan 20, 2026Allah menetapkan Rasulullah SAW menjadi saksi atas kita, umatnya, dan setiap kita pun menjadi saksi atas umat manusia. Bagaimana konsep saksi ini, hingga Rasulullah pernah menangis saking berat konsekuensinya?
Ketika kita mengingat kalimat yang banyak dikutip dari pidato terakhir sang syahid, juru bicara, rahimahullah: “…Wahai para pemimpin negara-negara Muslim dan Arab, para elite, pemimpin partai, dan para ulamanya, kalian akan berdiri sebagai musuh kami di hadapan Allah kelak.”
Mereka, para pejuang, para syahid, dan warga Gaza yang teraniaya, akan memberikan kesaksian di hadapan Allah SWT, terutama terhadap para pemimpin tersebut.
Menyaksikan secara langsung bagaimana genosida terjadi di depan mata kita, di hadapan seluruh dunia, kita berkali-kali tercenung, tertohok, dan terdiam. Banyak dari saudara-saudara kita bahkan bersumpah bahwa mereka akan mengadukan semua ini; bahwa mereka akan bersaksi.
Sebelumnya, saya tidak sepenuhnya memahami bagaimana konsep kesaksian ini bekerja. Bahkan, mungkin ada di antara kita yang menganggap persaksian mereka hanyalah sebuah konsep kolektif, atau sesuatu yang bersifat non-harfiah. Ternyata, kita keliru.
Sungguh berat konsep saksi dan persaksian yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, hingga Rasulullah SAW sendiri bergetar dan menangis karena berat dan pentingnya amanah ini. Saya mulai memahaminya ketika mengikuti kajian tafsir Ustadz Nouman Ali Khan, semoga Allah merahmatinya, saat beliau membahas hal ini dalam QS. Al-Muzammil ayat 15.
Syahidan ‘Alaikum: Ketika Risalah Menjadi Kesaksian
Ada satu ayat yang sekilas terdengar sederhana, tetapi menyimpan beban yang sangat berat bagi siapa pun yang membacanya dengan hati yang jujur:
إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ رَسُولًا (QS. Al-Muzammil: 15)
Allah mengutus seorang Rasul ilaikum – kepada kalian – yang berfungsi sebagai syahid, sebagai saksi atas kalian. Ayat ini pertama-tama berbicara kepada Quraisy, kepada masyarakat Hijaz. Namun sejak awal, Al-Qur’an mengajarkan bahwa risalah ini tidak berhenti pada satu tempat dan satu kaum.
Ketika Allah berfirman:
Wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil ‘aalamiin (QS. Al-Anbiya: 107)
kita memahami bahwa Rasulullah ﷺ diutus untuk seluruh alam. Maka pengutusan Rasul kepada Quraisy bukanlah pengutusan yang eksklusif. Allah sent the messenger to Quraisy, but not for Quraisy only. Beliau diutus di Hijaz, di bumi Arab, tetapi risalahnya melintasi ruang dan waktu, menyentuh seluruh kemanusiaan.
Menariknya, susunan ayat Al-Muzammil itu tidak berbunyi wa arsalna ilaikum rasulan syahidan, tetapi justru syāhidan ‘alaikum rasūlā. Susunan ini dibalik. Seolah-olah Allah ingin menegaskan bahwa fungsi kesaksian Rasul bukanlah tambahan, melainkan inti dari risalah itu sendiri.
Ilaikum Rasulan, Syahidan ‘Alaikum
“Ilaikum rasulan” memberi kesan bahwa Rasul itu benar-benar dihadirkan langsung kepada suatu kaum. Mengutus rasul kepada kamu, mengutus rasul kamu. Handed directly to you. Namun ayat itu tidak berhenti di sana. Rasul yang diutus kepada suatu kaum ternyata juga menjadi saksi atas seluruh manusia. He is sent especially to you, but he is not just a witness over you. He is a witness over all of humanity.
Lalu apa makna sebenarnya dari syahidan ‘alaikum?
Ini adalah isu yang dalam. Deep, deep issue. Elite Quraisy merasa diri mereka berada di atas hukum, sebagaimana Fir‘aun merasa dirinya berada di atas hukum. Ketika seseorang menjadi saksi, biasanya ia melaporkan apa yang ia saksikan kepada otoritas yang lebih tinggi. Namun dalam kasus Fir‘aun dan elite Quraisy, mereka menganggap tidak ada otoritas di atas mereka.
Fir‘aun melakukan kejahatan di depan semua orang, di depan semua saksi. Does he care? No. Di titik inilah Allah menyatakan bahwa Dia telah mengutus saksi atas mereka. Seolah Allah berkata: bersiaplah, karena akan ada hari ketika kesaksian itu dihadirkan, dan kalian tidak bisa menghindar darinya.
Yang menggetarkan, Rasulullah ﷺ tidak pernah berkeliling mengumumkan, “Aku akan menjadi saksi atas kalian.” Beliau tidak perlu melakukannya. Keberadaan beliau itu sendiri adalah kesaksian. Fakta bahwa Rasul hidup di tengah umatnya, membacakan Al-Qur’an, dan menghidupi nilai-nilainya, sudah cukup untuk menjadi saksi atas manusia.
Such a powerful concept.
Dan konsep ini tidak berhenti pada generasi pertama. Konsep ini berlaku pula kepada kita.
Bagaimana Seorang Rasul Menjadi Saksi?
How is a messenger a witness? Seorang rasul menjadi saksi ketika ia membuktikan bahwa sesuatu itu benar, ia menyampaikannya, dan meskipun demikian, kebenaran itu tetap ditolak. Ketika sudah ada saksi tetapi masih ditolak, masalahnya bukan lagi pada bukti, melainkan pada kehendak.
To witness against somebody, you have to have evidence. Jika Rasul adalah saksi bagi Islam itu sendiri, maka bukti Islam berdiri di atas dua hal: speech dan action.
Action saja tidak cukup. Rasulullah ﷺ sudah dikenal sebagai Al-Amin bahkan sebelum kenabian. Action was already there. Namun message tetap harus disampaikan. Harus ada perkataan, harus ada risalah. Dan message itu tidak boleh bertentangan dengan action.
Ketika seseorang menunjukkan kebenaran Islam melalui kata-katanya, dan sekaligus melalui tindakannya, melalui akhlaknya, maka ia telah menjadi saksi. Rasulullah ﷺ tidak hanya menyampaikan ajaran. Beliau menjalani ajaran itu. Inilah yang menjadikannya the ultimate witness.
Ketika Beban Kesaksian Dipindahkan
Setelah Rasul menyelesaikan misinya, umat bersaksi: “Ya Rasulullah, engkau bukan hanya menjelaskan pesan itu kepada kami, tetapi engkau juga menghidupinya.”
Maka Rasul berdoa: Allahumma shahid. Ya Allah, saksikanlah bahwa aku telah menunaikan tugasku.
Namun pada saat yang sama, sebuah peralihan besar terjadi. Beban kesaksian itu diangkat dari Rasul, lalu dipindahkan kepada umatnya. The burden got transferred. Karena itulah Rasul bersabda agar yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Dan cara menyampaikannya tetap sama: speech dan action. Kata-kata/ucapan dan aksi.
Allah menegaskan hal ini:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا (QS. Al-Baqarah: 143)
Kita ditetapkan sebagai saksi atas seluruh umat manusia. Pertanyaannya tidak bisa dihindari: apakah kita benar-benar telah menjadi saksi? Apakah ucapan dan aksi kita telah selaras sehingga layak disebut kesaksian?
Beratnya Syahidan ‘Alaikum
Pada akhirnya, kita dihadapkan pada satu kemungkinan yang sangat jujur: apakah kita mampu berkata di hadapan Allah, “Ya Allah, we did our job.” Jika iya, maka beban berpindah kepada humanity. Namun jika tidak, beban itu tetap berada di atas kita. Dan pada hari itu, kita tidak hanya menjadi saksi atas orang lain, tetapi juga menjadi saksi atas kelalaian diri sendiri.
Inilah makna Syahidan ‘Alaikum.
Konsep ini begitu berat hingga Allah menurunkan ayat:
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا (QS. An-Nisa: 41). "Bagaimanakan (keadaan manusia kelak di hari kiamat) jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka?"
Ayat ini membuat Nabi ﷺ merasa sangat tertekan. Sampai-sampai beliau meminta Hasan bin Tsabit menghentikan bacaan ayat tersebut. Seakan Allah bertanya: Did you deliver it to them? Did the transfer of responsibility really happen?
Dan pertanyaan itu, pada akhirnya, juga ditujukan kepada kita. Hari ini kita saksikan, mereka para pejuang, masyarakat Gaza, benar-benar telah mengemban seluruh amanat yang Allah berikan, dengan baik; mereka menebarkan dakwah secara signifikan, dalam ucapan yang mereka sampaikan, dalam kesabaran, dalam ketangguhan, dalam setiap tindakan, jihad yang mereka lakukan. Dan mereka adalah SAKSI yang sempurna, atas kita semua umat muslim lainnya. Mereka akan bersaksi terhadap kita, umat Islam lainnya, apakah kita akan berdiri sebagai musuh mereka, atau sebagai barisan mereka, yang berjuang bersama mereka!
See also:
--
Fatih Seferagic, Menebar Kebaikan Islam Lewat Lantunan Al Qur'an --
Beratnya Konsekuensi 'Syahidan Alaikum' --
Geliat Dakwah Para Dai Muda --
Lima Aplikasi Mobile Untuk Optimalkan Ramadhan Kita --