Fatih Seferagic, Menebar Kebaikan Islam Lewat Lantunan Al Qur'an

Fatih Seferagic, Menebar Kebaikan Islam Lewat Lantunan Al Qur'an

Bulan November 2017 lalu, Fatih Seferagic untuk kedua kalinya berkunjung ke Indonesia, dan menjalani rangkaian tur bertajuk 'Heaven on Earth Tour'. Fatih didukung Wardah Cosmetics berkunjung ke beberapa universitas dan masjid di 4 kota di Indonesia, dan melantunkan ayat-ayat AlQuran serta menebarkan inspirasi tentang kebaikan Islam, keagungan Allah SWT.

Fatih Seferagic seorang penghafal Al-Qur’an kelahiran Jerman ini mulai dikenal secara luas sejak kemunculan video pertamanya yang dia unggah di Youtube dan tersebar di media sosial. Video yang menayangkan tentang kefasihannya dalam melantunkan ayat suci Al-Qur’an tersebut berhasil menarik perhatian jutaan netizen dari seluruh dunia.

Bagaimana kisahnya hingga ia menjadi seorang Hafiz yang dikenal jutaan orang di seantero dunia ini? Simak kisahnya berikut ini.

Fatih bersama Gubernur NTB Tuan Guru Bajang dalam rangkaian Heaven On Earth Tour 2


Fatih Seferagic adalah warga global. Kebangsaan Bosnia, tetapi lahir di Stuttgart (Jerman). Bertempat tinggal di Houston, Texas, Amerika Serikat. Istrinya berasal dari Lenasia, sebuah kota di Afrika Selatan. Keluarga besarnya berimigrasi ke Jerman pada suatu waktu di antara tahun 1950-1970. Saat itu negara Jerman memang sedang membangun ekonominya pasca perang dunia. Sehingga mengundang banyak sekali pekerja imigran. Bosnia dan Herzegovina hanyalah salah satu kebangsaan di antara para pendatang tersebut. Salah satu di antara mereka, adalah kakek dan nenek Fatih. 

Namun demikian, pada masa-masa tersebut --sebenarnya hingga akhir tahun 1990-an juga masih ada-- terjadi diskriminasi keagamaan terhadap warga-warga imigran. Apa yang terjadi saat itu, misalnya tidak diperkenankannya pelajaran Agama Islam di sekolah swasta kepada para anak-anak pemeluk Islam. 

Keluarga Fatih Seferagic memilih hijrah ke Amerika Serikat yang tekanan dari lingkungannya relatif lebih rendah untuk urusan keyakinan dan aktivitas keagamaan. Fatih baru berusia 4 tahun ketika dia dan orang tuanya pindah ke negeri Paman Sam. 

Fatih mulai belajar membaca dan menghafal Al-Quran sejak usia 9 tahun di Islamic Society di Kota Baltimore di negara bagian Maryland. Gurunya adalah Syaikh Qari Zahid dan Qari Abid. Tiga tahun kemudian, Fatih sudah hafal Al-Quran. 

Usia 15 tahun, Fatih belajar menghafal hadis di Bayyinah Institut yang didirikan dan dipimpin oleh Ustad Nouman Ali Khan. Nama program yang dia ikuti di Institut tersebut adalah Bayyinah Dream Program. Tidak bisa main-main. Programnya sangat intensif. Enam jam sehari selama 9 bulan. Belum termasuk waktu untuk belajar dan mengerjakan PR. Ujiannya setiap pekan. Aktivitasnya termasuk padat. Tidak heran bila kualitas lulusannya seperti seperti “Kang” Fatih ini. 

Kata Fatih, banyak orang miskonsepsi tentang apa itu menjadi hafiz. Banyak yang menyangka, yang dilakukan oleh seorang Hafiz hanyalah duduk sepanjang waktu menghafal, merapal, dan melafalkan AlQuran berulang-ulang. Terkesan menjadi hafiz itu anti sosial, dan tidak bergaul ke mana-mana. Padahal tidak demikian. 

Fatih bahkan rajin berorganisasi. Beliau ini adalah ketua remaja mesjid di Valley Ranch Islamic Center (VRIC), sebuah Islamic Center di Dallas, Texas. Tokoh yang turut mengangkat nama VRIC adalah Shaykh Yasir Birjas. Di Islamic Center ini, tidak hanya ada masjid saja, melainkan kursus membaca Al Quran (Qari) dan kelas menghafal AlQuran (Hafidz). 

Karena beliau ini belajarnya membaca dan menghafal AlQuran, maka dua pelajaran itulah yang juga dia ajarkan kepada para peserta didik di institusi pendidikan tersebut. Tidak hanya mengajar secara offline, Fatih juga mengajar via Skype untuk murid-murid di luar kota Dallas, maupun di luar Amerika Serikat. 

Seorang hafiz juga biasa disangka gagap teknologi. Sebagai seorang milenial, Fatih membuktikan bahwa meski dirinya adalah hafiz, namun dirinya juga fasih menggunakan teknologi, termasuk media sosial. Di antaranya adalah Twitter, dan Instagram. Bagaimana seorang Fatih melafalkan Al-Quran bisa kita searching di YouTube. 


Penampilan Fatih seperti anak muda kebanyakan. Tidak konvensional atau tradisional dalam berpakaian. Fesyen yang dikenakannya seperti jeans, kaos, dan kemeja. Olahraga kegemarannya ice skating. Sepatu kesukaannya adalah sepatu boot berwarna merah bermerek Timberland. Merek ini termasuk merek ternama. Bukan yang paling mahal memang tapi jelas bukan sepatu murah. Sepatu yang dipakai oleh Fatih ini dijual di salah satu e-commerce seharga 1,3 jutaan. Tentu nilai tersebut belum termasuk ongkos kirim ke kota kamu. 

Tatkala menjadi imam sholat 5 waktu di masjid, tentu Fatih tidak stylish seperti di waktu-waktu lainnya. Fatih akan menggunakan pakaian yang lebih rapi dan pantas, semisal mengenakan peci serta baju terusan gamis. Kita semua tahu, bahwa orang-orang religius yang beberapa puluh tahun lebih tua dari Fatih juga akan berpakaian demikian bila memimpin shalat di Masjid. Bedanya, beliau-beliau ini tidak berbicara di Skype juga tidak memakai sepatu boot warna mencolok dari merek ternama. 

Fatih Seferagic yang warga dunia masih berbicara dalam bahasa kandung ibunya, yaitu bahasa Bosnia. Fatih tidak lupa dirinya adalah keturunan Bosnia, meski sudah berkeliling dunia dan berbagi inspirasi, termasuk pekan ini berkeliling ke kota-kota di Indonesia. Untung bagi Fatih, bahasa sehari-harinya adalah bahasa Inggris. Bahasa yang memudahkan dirinya kala bepergian ke seluruh penjuru dunia. Layaknya anak muda pada umumnya yang suka travelling ke sana kemari. 

Dalam suatu wawancara, Fatih pernah berkata, “Satu hal yang selalu saya hargai saat melakukan perjalanan adalah bahwa setiap kali berada di tempat yang jauh, sendirian, dimana saya tidak kenal siapa-siapa, saya bisa berdiri dan berdoa kepada Allah karena saya tahu Dia selalu ada di sana. Selalu menghilangkan perasaan kesepian dari hatiku.” 

Fatih Seferagic di Masjid Raya Bandung 

Dalam beberapa kesempatannya berbicara di hadapan banyak orang di Indonesia, Fatih seringkali menyebut, bahwa semakin kita mengenal Qur'an, semakin kita yakin bahwa Allah itu sangat baik. "I want people to understand and appreciate Quran even more. I keep myself closer to Quran, closer to God, and I'm happy. The proudest thing of this, that I love Allah so much".

Mengenai aktivitasnya mengaji dan menghafal Al-Quran serta Hadis, lalu mengajarkan keduanya kepada anak-anak sekolah, Fatih berpesan bahwa hidup itu terlalu singkat hanya untuk mengurusi orang lain. Lanjutnya kemudian, “Temukan passion kamu, temukan alasan (reason) mengapa kamu ada di dunia ini.” Setidaknya, Fatih sudah menemukan passion dan reason-nya sendiri. 

Menghafal relatif AlQuran relatif tidak terlalu sulit bagi Fatih. Alhamdulillah. Fatih sangat berterima kasih kepada ibunya. Yang dahulu memaksa dia untuk belajar membaca dan menghafal AlQuran sejak pagi hingga sore hari. Padahal, saat itu dia begitu membenci dua kegiatan tersebut. Baru 16 tahun kemudian dia sadar, bahwa semua perjuangan dan waktu yang dihabiskan tersebut adalah sangat bernilai. 

Oleh sebab itu, Fatih juga mengingatkan para orang tua di seluruh dunia, agar anak-anak diutamakan belajar AlQuran. "It worthed it, dan jangan pernah menyerah", katanya. Itu adalah 'perang' yang layak diperjuangkan, dan 'kejayaan' yang diperoleh setelahnya sangat bernilai. 

Tahun 2017 ini, usianya baru 22 tahun. Dan dia sudah menikah sejak 4 tahun yang lalu. Rencana pribadinya, dia akan ke Medina University untuk mendalami Al-Quran. Lagi, lagi, dan lagi. Dia ingin suatu waktu nanti bisa seperti gurunya, Nouman Ali Khan, yang mengajar di perguruan agama yang didirikannya. 

Bagi kakek, nenek, dan orang tua Fatih, kehidupan dahulu di Bosnia dan Jerman adalah masa-masa yang berat. Alhamdulillah Seferagic  yang satu ini mengalami kehidupan yang lebih baik. Yakni keamanan dari peperangan, kecukupan ekonomi, serta ketenangan dalam berkeyakinan dan beribadah. 


Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Moonflower x Wisnu Ahimsa, Kolaborasi Komik & Fashion Anak

Moonflower x Wisnu Ahimsa, Kolaborasi Komik & Fashion Anak

READ MORE