Geliat Dakwah Para Dai Muda

Geliat Dakwah Para Dai Muda

Berkali-kali, Bandung membuktikan dirinya sebagai pencetak copywriting handal. Semisal AA Gym (Ustadz Abdullah Gymnastiar) yang dahulu dikenal dengan MQ-nya. Manajemen Qalbu. Self-explanatory, kok. Terjelaskan dengan sendirinya. Masuk akal sih. Sebab bukan hanya yang kasat mata saja yang perlu dikelola dengan baik. Tetapi juga Qalbu. Sekarang ini ada Hanan Attaki, Muzammil Hasballah dan Evie Effendi. 

Muzammil Hasballah memiliki 2,3 juta pengikut di Instagram. Tengku Hanan Attaqi 3,9 juta. Keduanya berasal dari Aceh. Bedanya, Hanan Attaki lulus dari Mesir (Universitas Al-Azhar di Kairo). Sementara Muzammil lulus dari ITB dan Masjid Salman. Yang disebut terakhir adalah masjid kampus yang mengembangkan dan menjalankan konsep beasiswa untuk imam masjid. Itu ketidaksamaan yang pertama. Beda yang kedua adalah Muzammil sendiri masih full time berkarya sebagai seniman arsitektur. 

Felix Siauw punya 2,3 juta follower di Instagram, sedangkan di YouTube ada 118ribu lebih. Meski bukan berasal dari Bandung, konten vlognya juga kekinian. Semisal tempo hari ada viral tentang pengeras suara masjid, beliau juga memberikan perspektifnya via vlog tersebut. Catch up juga dengan format yang sedang tren: mewawancara narasumber sembari menyetir mobil.


Selebriti Boy William melakukannya dengan hashtag #NebengBoy. Namanya ustadz kekinian, mengungkit dakwah via media sosial. Bukan hanya lewat akun personal, tetapi juga akun-akun semacam @YukNgajiID. Pernah juga beliau mengedukasi via komik Muhammad Al-Fatih. 

Susunan kalimat sederhana para dai muda dikemas dalam bahasa kekinian. Bukan kekunoan. Rumusnya kalimat sederhana: gunakan kosakata yang juga dipakai oleh target audience, yang notabene didominasi kaum milenial. Kalimat tunggal-tunggal, bukan kalimat majemuk. Satu subjek, satu predikat, satu objek. Yang sederhana ini agak berlawanan dengan ustadz-ustadz macam Gus Mus (Mustofa Bisri) atau Cak Nun (Emha Ainun Najib) yang berdakwah sembari bersastra. Pernah ada masa di mana dakwah-sastra ala Gus Mus dan Cak Nun berupaya menyentil beberapa sikap dan kebijakan pemerintah pada saat itu. Gus Mus melalui puisi seperti "Kau ini Bagaimana" dan Cak Nun via puisi "Lautan Jilbab". Namanya juga menyentil. Bahasa tingkat tinggi yang digunakan. 

Bahasa kekinian perubahannya semakin cepat dan pertambahan kosakatanya semakin banyak. Penggunaan internet, aplikasi, media sosial dan lain sebagainya memunculkan kosakata-kosakata baru. Termasuk di antaranya adalah menyiapkan idiom kebarat-baratan yang bagi sebagian orang identik dengan modernitas. Konteks modernitas juga dikuatkan melalui visual, yakni pakaian kasual kekinian yang tidak membantah aturan-aturan agama terkait aturan untuk kaum adam. 

Misalnya, Hanan Attaki dan Evie Effendie punya gaya khas berupa kupluk yang menempel di kepala mereka. Yang terakhir disebut follower IG-nya 908 ribu. Pengalamannya sebagai mantan pengguna narkoba, penghuni lapas, anggota geng motor banyak menghiasi konten ceramahnya. Medium video atau artikel memperkuat konteks pesan yang disampaikan. 

Sudah pula bergambar gerak, beraudio pula. Makanya video lebih nge-gas daripada artikel. Tidak heran akun YouTube Pemuda Hijrah (komunitas dakwah yang dibimbing oleh Hanan Attaki) tidak main-main dalam memproduksinya: kualitas High-Definition (HD) dengan suara yang jernih. Durasinya pun hanya satu menit. Sehingga mudah menyebarkannya via Instagram.


Konten: materi ceramah ringan seputar kehidupan sehari-hari dengan deretan kegalauan khas anak muda. 'Pasar' yang satu ini menuntut pula translasi Islam menjadi aktivitas yang lebih detil ke dalam aktivitas harian. Misalnya Ustadz Felix Siauw itu ngomong bagaimana pacaran, bagaimana berpakaian, berhijab, hijrah. Beliau dulu sempat menulis buku yang ditargetkan ke anak-anak muda yang pacaran, dengan judul, 'Udah Putusin Aja'. Tidak stop di buku, judul yang sama juga merambah format lain kini, yaitu film bioskop.

Bukannya Islam mengharamkan cinta. Tetapi Islam memberikan koridor bagaimana ber-cinta yang benar. Sebagai target audiens, milennial ini (bisa jadi) memang lebih mendengarkan peers-nya. Daripada konten nasihat dari orang-orang yang lebih tua maupun lebih berpengalaman. Yang para pendengarnya merasa lebih banyak dihakimi.

Para dai muda memosisikan dirinya terbalik: lebih sebagai teman dekat daripada orang tua yang mengajari. Memang para milennial butuhnya itu: didekati dahulu baru mari bersama-sama belajar. 

Ada pula nama-nama seperti Weemar Aditya, Mario Irwinsyah, yang juga laris mengisi kajian dengan segmen anak muda. Mereka memiliki 'arus dan bahtera' masing-masing, tetapi para dai muda ini sangat cair untuk urusan kolaborasi, dan kerap beririsan dalam langkah dakwahnya. 

Para ustadz kekinian tidak ada bedanya dengan brand pada umumnya. Yang mana setiap brand selalu berupaya melakukan segmentasi-targeting-positioning. Kebetulan saja, yang ini adalah personal brand. Di mana para ustadz-ustadz muda banyak mentarget segmen milenial.

Dalam membangun dan mempertahankan positioning-nya, akhirnya para ustadz tersebut berupaya fokus pada segmen masing-masing. Salah satunya adalah dengan institutional brand yang mereka kembangkan. Misalnya, Hanan Attaki dengan Pemuda Hijrah-nya.

Komunikasi dakwah ala ustadz evie Effendi tidak pula menggurui. Sebab beliau sudah mengalami dan menjalaninya. Jadi antara brand ustadz dengan target dakwah yang dituju, sudah ada resonansi. 'Wah ini gue banget nih', demikian kira-kira tanggapan audiensnya.

Apalagi penyampaian dakwahnya penuh dengan analogi, candaan dan rima. Alias quoteable. Contoh yang berima, misalnya, 'biar enggak lelah harus lillah' (untuk Allah). Contoh lain: mengilhami tanpa harus menghakimi, mengajak tanpa harus mengejek, merangkul tanpa harus memukul, membina tanpa harus menghina, mencintai tanpa harus mencaci, walaupun mendaki tolong jangan mendengki. 

Kesimpulannya adalah zaman memang berganti. Yang tadinya generasi anak muda mulai bergeser. Diganti dengan generasi anak muda yang lebih baru dan berbeda pula. Generasi X sebagai anak muda digantikan oleh generasi milenial. Tantangan dan masalah anak muda relatif selalu sama. Namun, kemasan pendekatan kepada mereka yang harus selalu diubah. Inilah yang sejauh ini berhasil dilakukan oleh para dai muda. 



(images from instagram @hanan_attaki & @felixsiauw)

please login to comment.

RELATED ARTICLES