Antagonisme dalam Narasi Agni Saraswati

Antagonisme dalam Narasi Agni Saraswati
“Percakapan antara aku yang berhasrat dengan aku yang harus tunduk pada prinsip-prinsip realitas” seperti itu petikan cerita dari katalog seni rupa Agni Saraswati.

Agni Saraswati menuangkan narasi dan perasaannya melalui pameran seni rupa yang diselenggarakan dari tanggal 1-15 Maret lalu bertempat di Bale Banjar Sangkring Art Space, Bantul Yogyakarta. Karya lukisan Agni kali ini banyak bercerita tentang kekerasan terhadap perempuan, dengan idiom bahwa perempuan itu lemah dan dilemahkan, diremehkan, lalu layaknya debu yang dengan mudahnya dihempas oleh angin.

Dalam pameran tunggal kali ini ada satu karya yang menjadi favorit yaitu lukisan berjudul 'The Magic Box'. Dalam kutipannya Agni menulis makna, "Kekerasan itu... 

Kekerasan bisa datang dari segala penjuru, dengan bentuknya yang berbagai bagai, kadang seperti debu yang menyaput mata, kadang seperti jarum yang menusuk lembut, kadang seperti cemeti yang menghentak memar, kadang seperti lembing yang menusuk, kadang juga seperti anak panah yang merajam tubuh. Jangan salah, bahkan lidah manusia juga dapat melukai setara atau lebih hebat dari benda-benda itu.”

Apa yang ditempuh oleh Agni menunjukkan eksplorasi yang memungkinkan dirinya bermain dengan simbol-simbol imajiner. Warna-warna karyanya bukanlah monokromatik, namun meriah dengan warna ‘pucat’, dalam arti sebagai warna psikologis.

Pada karya “Madre” misalnya, warna-warna dalamnya ditampilkan dengan memperlihatkan raut-raut wajah yang menampilkan komposisi urat yang artistik. Selain wajah bisa menjadi sebongkah otak dengan tekstur daun, tampak gestur tangan yang mengundang teka-teki: menunjukkan pertanda apakah itu?

Pada karya “The Vision” tangan perempuan itu berjumlah empat, melaju di atas perahu dengan ombak kuat, sosok sentral bermata beludru lembut itu tersenyum dengan dua bongkah bulatan: yang satu tangan mengangkat objek ke atas, satu lagi didekapnya dengan tersenyum, dua perempuan menyerah pada kakinya sementara perempuan lain melesat dengan kapal kertas. Semua sosok dalam lukisan ini tampil dengan gestur enigmatik dengan atribut-atributnya yang ganjil.


The Vision, Acrylic on Canvas, 2016

Karya lainnya yang juga unik adalah lukisan berjudul "Salah Suntik", disitu gambaran lukisan merupakan perpaduan gambar manusia dan kartu remi, dengan campuran warna biru laut yang unik, yang banyak menarik perhatian para pengunjung pameran.

Selain pameran ada pula serangkaian acara lainnya yang menarik bagi pengunjung, seperti workshop bertajuk 'Sental-Sentil Wayang Spon' yang bekerjasama dengan sanggar anak jaman. Pengunjung bisa membuat dan menonton pertunjukan wayang yang terbuat dari bahan spon. Lalu pada tanggal 14 maret 2017 diselenggarakan kegiatan “Die to Tie”, workshop ikat celup dengan Elizabeth Heydi. Mebuat batik dengan metode ikat celup, dengan hasil motif kain yang sangat unik.



(image source: Sangkring Art Space)



-- 


please login to comment.

RELATED ARTICLES

Me and My Monkey Mind, Enter Your Peaceful Mind

Me and My Monkey Mind, Enter Your Peaceful Mind

READ MORE
Can't Afford Art? Wear Art.

Can't Afford Art? Wear Art.

READ MORE