Memahami Preferensi Busana Muslim Jelang Ramadhan-Lebaran dalam Koleksi Kamilaa-Itang Yunasz

Memahami Preferensi Busana Muslim Jelang Ramadhan-Lebaran dalam Koleksi Kamilaa-Itang Yunasz

Lima tahun yang lalu, Itang Yunasz membuat sebuah gebrakan dalam fashion dengan menggelar fashion show di tengah-tengah hiruk pikuknya pasar Tanah Abang, pusat kulakan garment dan tekstil terbesar di Asia Tenggara. Tepatnya di Blok B Tanah Abang, pusat grosir yang nyaman dengan gedung relatif baru dan berpendingin udara. Tanah Abang sebagai pusar grosir, identik sebagai pasar fashion untuk kelas menengah ke bawah, dengan harga produk yang sangat terjangkau. Itang Yunasz memutuskan untuk membuat 'sejarah' dengan menggelar show di lokasi ini, salah satunya karena lini keduanya ini, Kamilaa memiliki beberapa gerai dan toko disini. 

Sejak show pertama itu, yang berlangsung dengan sukses dan mendapat sambutan meriah dari para 'stakeholder' di pasar Tanah Abang, Itang Yunasz tidak pernah absen untuk menggelar show tahunannya ini, yang dilakukan biasanya 2 bulan menjelang bulan Ramadhan. Show tahunan Kamilaa ini, meskipun dilakukan di lokasi ini dengan segala keterbatasannya -di antara los/toko pedagang yang padat, hilir mudik pembeli yang sangat ramai, hingga penerangan yang kurang memadai- selalu digelar dengan serius, sesuai standar fashion show besar lainnya, dengan panggung runway yang cukup besar, dan melibatkan puluhan model profesional (model runway fashion week) dengan show director yang profesional pula.  

Pertunjukan fashion show Kamilaa Itang Yunasz ini pun menjadi agenda tahunan bagi pasar Tanah Abang, yang dilihat bukan saja oleh para tamu undangan dan media, tetapi juga diperhatikan oleh para pedagang dan produsen di pasar Tanah Abang. Koleksi Ramadhan-Lebaran Kamilaa menjadi benchmark, menjadi pembanding, tolok ukur bagi produk fashion lain yang dijual disana. Efek lanjutannya pun pasti terjadi, produk-produk Kamilaa menjadi inspirasi, bahkan ditiru oleh para pedagang lainnya, sebuah konsekuensi pasar grosir yang memiliki perputaran produksi sangat cepat. 


Menurut Itang Yunasz, Kamilaa pada awalnya memang didesain untuk memenuhi kebutuhan fashion muslim kelas menengah, bahkan hingga layer di bawahnya. Dengan pricing point yang 'sesuai' untuk pasar Tanah Abang, tetapi tetap memiliki karakter dan garis desain yang matang, dengan material dan produksi yang baik. Namun seiring waktu dan dengan volume penjualan yang 'sangat baik', Kamilaa telah memiliki profil market/konsumen yang jelas, dan tidak berubah sejak beberapa tahun terakhir. Kamilaa bukan lagi produk untuk segmen menengah ke bawah, karena faktanya merek ini juga diminati oleh mereka pada lapisan menengah ke atas.

Dengan profil ibu-ibu berkeluarga, mulai usia 30 hingga 50 tahun bahkan lebih. Tampaknya, konsistensi untuk selalu memberi tawaran desain yang selalu baru, dengan sentuhan kematangan 'desainer', tetapi cukup pandai untuk menjaga kebersahajaan dan konservatisme pada tampilan -dari segi warna, motif dan material-, faktor-faktor inilah yang membuat Kamilaa selalu diminati oleh pangsa pasar tersebut. 

Belanga Wastra, Koleksi Kamilaa Itang Yunasz Ramadhan-Idul Fitri 2017

Seperti pada fashion show Kamilaa yang bertajuk 'Belanga Wastra' pada hari Kamis, 9 Maret 2017 di tempat yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Ibarat sebuah belanga, wadah memasak yang mempertemukan bahan makanan dan bumbu-bumbu, Itang Yunasz meracik beragam motif wastra dalam belanganya dan mempersembahkannya dalam "sepinggan" busana santun nan rupawan. Tiga puluh set busana dalam desain beraroma baru yang diolah dengan segenap hati merupakan karya retrospektif sejak Kamilaa berdiri (2012) hingga terkini. 

“Kamilaa telah menjadi tolok ukur berbusana muslim modern dengan harga yang sangat bersahabat. Merupakan kewajiban bagi Kamilaa untuk tetap menawarkan desain-desain terbaru meski daya beli pasar tengah melesu. Mengeluarkan karya retrospektif dengan desain baru menjadi upaya jitu untuk dapat mencapai harga yang tetap terjangkau. Kami berharap dapat menjadi penyemangat pelaku industri mode untuk tetap berproduksi, agar geliat roda mode tetap berputar”, ujar Itang menerangkan tentang keadaan pasar saat ini. 

Di antara deret warna yang sangat beragam -tetapi tetap bersahaja- seperti merah, hijau, kuning, ungu, coklat, dll, hitam dengan motif bordir dalam gaya outer menjadi favorit. Motif bordir kini dibuat tiga dimensi yang menjadi ragam baru dalam menampilkan bordir menjadi lebih kaya. Aneka motif batik dan tenun Nusantara, yang ditransformasikan menjadi motif cetak, tetap menjadi andalah bahan utama pembuat baju yang sesuai dengan kaidah berbusana muslim, yang serbalonggar dan tidak tembus pandang.

Yang agak berbeda dengan tahun sebelumnya, Itang kal ini banyak memadankan blus-blus panjang dengan rok atau celana panjang. sebuah tawaran cerdas untuk membuat busana ini berdaya pakai lebih lama, dan bisa dipadupadankan untuk berbagai kesempatan, tidak hanya berorientasi Ramadhan hingga Lebaran. 

Selain tiga puluh koleksi busana, Kamilaa juga memperkenalkan dua puluh koleksi khusus kerudung yang merupakan tawaran baru dari brand ini. Bergonta-ganti motif kerudung, dengan padanan baju yang sama menjadi “siasat” cermat untuk selalu tampil baru dan menarik dengan harga terjangkau.

Itang juga memberikan alternatif tambahan dalam menyelaraskan motif tradisional dari wastra Tanah Air dengan kerudung bermotif kontemporer. Keduanya ditampilkan sebagai sebuah padanan yang unik tanpa berkesan berlebihan. Cerita kerudung yang masyhur dan menyertakan koleksi terbaru Kamilaa dengah harga yang sangat bersahaja ini menjadi catatan penting tatkala Zalora, salah satu toko dunia maya ternama, menjadi pembeli terbesar dan merebakkan harum koleksi Kamilaa semakin mewangi.

Koleksi Kerudung Kamilaa

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Celebrate Ourselves Through Fashion

Celebrate Ourselves Through Fashion

READ MORE
Menantang Desainer Menghasilkan Tampilan Kain Indonesia yang (Selalu) Baru

Menantang Desainer Menghasilkan Tampilan Kain Indonesia yang (Selalu) Baru

READ MORE