Batik Kultur & The Important People 'Behind The Seams'

Batik Kultur & The Important People 'Behind The Seams'

Banyak orang mungkin sudah mengenal Dea Valencia dengan brand batiknya, Batik Kultur. Populer di media sosial Facebook, Batik Kultur menawarkan koleksi busana batik ready-to-wear, dengan gaya modern dan simpel, yang cenderung akan disukai banyak kalangan, mulai dari anak muda hingga generasi ibu-ibu yang lebih senior. 

Menjalankan usahanya dari Semarang, selama 8 tahun berbisnis ini Dea telah memiliki banyak konsumen dari berbagai kota, terutama kota besar Jakarta dan Surabaya, yang tak lepas dari jaringan pertemanan luas yang dimilikinya. Hingga akhir 2018, Dea akhirnya membuka butik pertama di Jakarta, di Jl. Mas Mansyur, Jakarta Pusat.

Untuk memperkenalkan butik barunya tersebut, sekaligus ingin memperkenalkan Batik Kultur kepada masyarakat luas, Dea menggelar fashion show tunggal di lokasi yang sama dengan butiknya, yaitu di Kaca Coffee & Eatery pada pertengahan Maret 2019. 

Namun momen 'perkenalan' ini tidak seperti fashion show pada umumnya, dan menyingkap banyak kisah 'di balik layar', sesuai tema yang ingin diangkat oleh sang desainer, 'Behind The Seams'. 


Ketika memulai pada 8 tahun lalu berawal dari kecintaan pada kain-kain batik lawas, Dea mungkin tidak mengira bahwa jalan bisnisnya akan mempertemukannya dengan orang-orang luar biasa, yang kini menjadi bagian dari keluarganya. Pada tahun 2013, ketika ia mulai mengerjakan pakaian batik siap pakai, secara tidak sengaja ia bertemu dengan beberapa orang difabel yang sedang magang di toko perlengkapan jahit. Dan beberapa waktu setelahnya, Dea bertemu dengan seorang perempuan difabel (mbak Tum) yang ingin bekerja kepadanya, yang berhasil membuktikan kepadanya bahwa dia bisa bekerja seperti orang normal lainnya. 

Dari pertemuan-pertemuan tersebut, membuka matanya bahwa mungkin inilah jalan yang ditunjukkan Tuhan untuknya. Ia sadar bahwa masih banyak orang-orang seperti mbak Tum, yang membutuhkan kesempatan. Kesadaran ini membawa Dea untuk berkenalan dengan Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa (BBRSBD) Prof. Dr. Soeharso di Surakarta. 

Instansi ini membina banyak murid difabel dan membekalinya dengan bermacam keahlian dan keterampilan sesuai minat dan kemampuan mereka, seperti fotografi, menjahit, mesin, dan lainnya. Selain keahlian, mereka juga dilatih kemandirian dan kepercayaan dirinya, sehingga benar-benar mampu untuk terjun ke masyarakat.

Banyak orang yang meragukan kemampuan kaum disabilitas dalam bekerja, apalagi menjahit. Namun bagi Dea Valencia semua orang adalah sama, semua orang berhak untuk diberi kesempatan untuk berkarya. Pembuktian demi pembuktian dari setiap individu yang ditemuinya, dan kobaran semangat mereka - memantapkan Dea untuk terus maju bersama kaum difabel. Hingga kini, sekitar lebih dari 120 orang karyawan – termasuk 50 orang pekerja difabel berada dibalik label Batik Kultur.


Mereka, para pekerja di balik Batik Kultur inilah orang-orang penting yang ingin ditunjukkan oleh Dea Valencia. Dari tangan-tangan mereka tercipta koleksi baju-baju batik yang luar biasa, tetapi lebih dari itu, mereka senantiasa membuat kita makin bersyukur dan merasa malu untuk mengeluh. 

Kekaguman ini juga diungkapkan oleh Dita Soedarjo, sahabat Dea Valencia. "This brand is more than just a batik, mengetahui semua di balik brand ini, membuat kita semua harusnya pantang mengeluh. They struggling with their life, yet they never complaining about their condition.  They're important although they don't get the centerstage. They're behind the seams. I think this brand has strong messages."

Grand Opening dengan menampilkan 30 koleksi ready-to-wear yang terdiri dari 6 mini collection womenswear dan menswear, seperti  gaun midi, blazer, long coat dan pairing set - tampil dalam palet klasik sekaligus vibran.

    

Dipresentasikan di Kaca Coffee & Eatery - Jakarta, rangkaian busana wanita dan pria dengan mood yang rileks dan luwes dihadirkan secara apik dalam berbagai macam warna, mulai dari sogan, monochromatic, pastel hingga warna Hitam dengan kombinasi warna-warna cerah yang meberikan mood modern pada kain batik.

Yang menarik - keseluruhan bahan kain tradisional yang digunakan dalam fashion show kali ini - khusus dirancang oleh Dea Valencia dan diproduksi dari kain putih hingga menjadi kain batik tulis yang indah. Dalam prosesnya– Batik Kultur membagi proses pengerjaan batik di beberapa daerah - sesuai dengan teknik spesialisasinya, seperti di Solo untuk warna sogan, Pekalongan untuk warna cerah dan Jepara untuk motif tenun yang digunakannya.

Batik tulis merupakan esensi penting dalam label Batik Kultur yang semenjak berdirinya telah secara eksklusif berkomitmen untuk hanya menggunakan bahan batik full tulis – demi memberdayakan pengrajin-pengrajinnya.

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Sumba yang Cantik dalam Olahan Biyan

Sumba yang Cantik dalam Olahan Biyan

READ MORE
Anjani Merintis Batik Bantengan dari Batu, Malang

Anjani Merintis Batik Bantengan dari Batu, Malang

READ MORE