Mengenal Seni Islami Kontemporer lewat MOCAfest

Mengenal Seni Islami Kontemporer lewat MOCAfest
Puluhan bidang ruang (3 dimensi) serupa dadu mulai dari 6 hingga banyak sisi tersusun dan menempel simetris dalam sebuah frame, dipajang beserta beberapa karya serupa lainnya. 'Bola-bola' geometris yang terbuat dari kertas tersebut merupakan karya seniman asal Inggris, Saba Rifat yang dipamerkan dalam MOCAfest, Marketplace of Creative Art Festival, di Kuala Lumpur awal bulan November lalu. 

Festival seni ini merupakan event tak terpisahkan dari Forum Ekonomi Islam Dunia, WIEF (World Islamic Economic Forum) yang selalu diadakan setiap tahun dan diselenggarakan bergantian di ibukota negara-negara utama peserta forum. MOCAfest yang kali ini diselenggarakan untuk ke-delapan kalinya lahir dari inisiatif WIEF untuk mengakomodasi potensi dan bakat di bidang industri kreatif, di bidang seni budaya yang sangat berperan dalam pemberdayaan ekonomi dan sosial di seluruh dunia. Kolaborasi dan sintesa yang sangat apik antara dunia kreatif dan bisnis/ekonomi, terjalin di event ini. 


Selain Saba, ada 39 seniman lain yang ikut berpartisipasi dalam festival ini. Mereka berasal dari 20 negara di seluruh dunia (sayang sekali kali ini tidak ada seniman dari Indonesia). MOCAfest memang menjadi ajang terkini yang mengumpulkan seniman-seniman Islam dari seluruh penjuru dunia, bukan hanya yang sudah lama dikenal, tetapi juga para seniman muda yang konsisten dalam berkarya. 


karya Saba Rifat (kiri) dan Ruh Al Alam (kanan)

Meskipun tidak membatasi hanya seniman muslim yang berpartisipasi pada event ini, tetapi MOCAfest memang didedikasikan untuk perkembangan industri kreatif dunia Islam, dalam hal ini kesenian Islam. Apa dan bagaimana seni Islam itu sendiri, bisa jadi pembahasan tersendiri, tetapi paling tidak kita mengetahui bahwa kreasi dan karya seni yang terinspirasi dari dunia Islam kini sangat berkembang, dan banyak sekali seniman, tua-muda, muslim ataupun non-muslim yang berdedikasi di bidang ini. 

Menempati sebagian besar area Kuala Lumpur Convention Center (KLCC), WIEF dan MOCAfest benar-benar diorganisasi secara profesional. Meskipun menjadi event penunjang -subsidiary event-, penyelenggaraan MOCAfest dilakukan dengan sangat serius dan tertata dengan baik. Event 3 hari ini berhasil mendatangkan ke-40 seniman dari seluruh dunia tersebut, yang menampilkan karyanya dalam berbagai platform. 





Q'sound, trombonist dari USA


Didalam hall tempat MOCAfest berlangsung terbagi menjadi 5 area, yaitu panggung utama yang akan menjadi tempat tampilnya para artist performans -musik, penyanyi dan penutur-, kemudian area diskusi yang juga menjadi tempat pemutaran film, souk atau pasar barang-barang seni dan kerajinan dari berbagai negara, area workshop dan area pameran karya seniman visual dan fotografi. 

Sesaat memasuki hall utama ini, hal yang sangat berkesan bagi saya adalah layout ruangan secara keseluruhan. It was stunning and so artistic. Ada sebuah dinding sangat luas yang menjadi hall of fame dan kolase figur dari ke 40 seniman, dan desain panggungnya pun sangat artistic dan modern, tanpa berkesan 'kearab-araban' (oh saya langsung teringat dengan dekorasi mal-mal di Jakarta yang mendadak 'arab' begitu memasuki bulan Ramadhan). Seringkali mengunjungi space atau acara seni, saya merasa desain dan estetika ruang adalah hal yang sangat krusial, dan MOCAfest berhasil mengkurasi ruangan dengan pas. 

Rav Singh, drum performer & community arts leader


The Artist

As an entree to this field study, -as much as I want to see all the performances and involve in the discussions- saya ingin lebih memusatkan perhatian pada pameran visual yang berada pada exhibition area. I think this will be the interface of what the world will see of Islamic Art nowadays. Kaligrafi sebagai bahasa visual paling zahir dalam Islam, tidak tampil hanya artistik, tetapi selalu mendapat sentuhan dinamis dan kontemporer dari tiap generasi seniman. Pada MOCAfest 2015 ini, banyak sekali karya Kaligrafi berbagai genre yang bisa kita nikmati dari banyak seniman diantaranya Ruh Al Alam, El Seed, Nedda Kubba, dan Adnan Razvi.




Ruh Al Alam, seniman asal Inggris keturunan Bangladesh ini mendefinisikan karyanya sebagai Visual Dhikr (zikir visual). Sebuah abjad hingga rangkaian kata sederhana, digoreskan pada kanvas dengan gaya indah, tanpa harus mengikuti pakem kaligrafi yang sudah ada. Ditunjang dengan aksen yang memperkuat rasa dan emosi, menjadi ciri yang bisa dikenali dari karya-karya Ruh. Menurut sang seniman, apa yang tertuang dalam karyanya bisa jadi hanya berupa sebuah goresan abjad dan kata atau bahkan simbol, tetapi mempunyai makna. Bentuk-bentuk kaligrafi sederhana tersebut, secara otomatis bahkan tidak disadari akan mengingatkan pada Sang Pencipta, pada kesadaran spiritual kita. This is a form of Dhikr, in visual


Pada sesi sharing di MOCAfest hari ketiga, El Seed menyampaikan gagasan dan perjalanannya melalui Calligraffiti, perpaduan kaligrafi dan karya seni visual jalanan, graffiti. Di negara-negara Timur Tengah ini sudah dianggap ekspresi seni yang lumrah, banyak karya graffiti dengan bahasa dan tulisan arab. Tetapi El Seed telah berkeliling dunia membawa Calligraffiti, dengan goresannya yang khas menghiasi beberapa landmark penting di Paris, London, Qatar dan beberapa negara lainnya. Karya monumental dan terbesarnya hingga saat ini terdapat di menara Jara Mosque setinggi 47 meter di Gabes, Tunisia. Pada landmark ini ia menorehkan petikan QS. Al-Hujurat ayat 13, yang menekankan pentingnya toleransi dan rasa hormat antar bangsa, antar agama. 


Seorang artis yang cukup lama dikenal dalam dunia seni Islam, adalah Maimouna Guerresi. Seniman serba bisa yang tidak membatasi karyanya, Maimouna adalah fotografer, videografer, dan installation artist yang berasal dari Italy. Banyak karyanya yang menyoroti wanita di Afrika, terutama Senegal, karya Maimouna seringkali merupakan refleksi dari dua budaya yang berbeda, -dunia barat dan budaya Afrika-. 

Karya-karya fotografi dan instalasi Maimouna kerap menampilkan sosok wanita Afrika dalam kerudung dan jubahnya, dengan gesture yang sangat sufistik. Kerudung atau veil kini menjadi simbol religius dan politik bagi wanita Islam, walaupun tradisi penggunaan penutup kepala itu sendiri berlangsung sejak jaman dahulu, sebelum Islam. Kerudung dan jubah yang seharusnya menjadi ekspresi dan kebebasan pribadi bagi seorang wanita muslim, menurutnya. Pada MOCAfest kali ini, Ia menampilkan sebuah video pendek berjudul Dhikr, potret sekelompok wanita muslim Kenya dengan wajah, tangan dan kaki yang ditandai dengan cat putih. Mereka melakukan gerakan-gerakan ritmis; video menyorot gerakan kaki dan jubah mereka yang ditiup angin, bersama dengan senandung dan suara napas. Inilah Zikir yang mereka praktikkan. 


Faiq Ahmed & Nedda Kubba


Masih banyak sekali seniman yang menampilkan karyanya pada ajang ini, yang saya berkesempatan langsung untuk menyaksikannya. Ada Faiq Ahmed, fine artist dari Azerbaijan dengan keahliannya 'membongkar' permadani menjadi 3 dimensi, Maryam Golubeva asal Rusia yang menciptakan motif-motif islami yang baru dan unik pada media kain dan metal, Teakster seorang digital artist dari UK yang membawa pendekatan kosmopolitan pada karya-karyanya, dan nama-nama lainnya. 



Seni Islami

Islamic art atau seni Islami kontemporer berkembang beriringan dengan dunia seni pada umumnya. Seni Islami kontemporer yang dibawa para artist masa kini tentu mempunyai akar yang sangat panjang, bermuara pada kebudayaan Islam berabad sebelumnya yang memang pernah mencapai masa kejayaannya. Seniman-seniman besar Islam pernah lahir pada masa tersebut, yang nama serta karyanya hingga kini masih diabadikan di beberapa negara Eropa dan negara dengan kultur Islam yang kuat. 

Selama lebih dari 10 tahun terakhir kini, makin banyak seniman kontemporer yang bermunculan dalam berbagai genre, mulai dari musik, komedi, sinema, visual, puisi dan instalasi. It's an explosion of Islamic artist. Ketertarikan, awareness dan apresiasi terhadap seni Islami ini juga meningkat, terutama justru di negara-negara Barat dan Eropa, dan negara dengan pertumbuhan muslim yang tinggi. 


Pada tahun 2012, Louvre Museum di Paris membuka area khusus Islamic Art Wing. Dan pada tahun sebelumnya, New York Metropolitan Museum of Art membuka kembali galeri Seni Islami, yang sebelumnya ditutup selama delapan tahun. Dua institusi ini tidak diragukan adalah museum kebudayaan paling prestisius dan berpengaruh di dunia, dan untuk memberi 'ruang' begitu besar pada pergerakan seni Islam dalam negara berpenduduk mayoritas non-muslim adalah sebuah indikasi signifikan tentang bagaimana masyarakat global ternyata begitu menaruh perhatian pada subjek ini.
Disisi lain, pada tataran seniman kontemporer terutama di Indonesia, seni Islami atau yang bernafaskan Islam cenderung masih diasumsikan terjebak pada romantisme era klasik, di jaman kejayaan Islam, sehingga tidak mampu berkembang. Banyak seniman luar negeri yang aktif dengan menghasilkan karya seni, tetapi nyatanya masih berkutat pada era tersebut, tidak berkembang sebagaimana seni kontemporer masa kini melaju. Pameran seni Islami biasanya masih banyak diisi dengan 'manuscript' masa lalu. Serta seni kaligrafi yang seyogyanya adalah aliran seni tersendiri, seperti graffiti. 

Tetapi penafsiran tersebut tentunya tidak mutlak. Di Indonesia terutama, masih banyak pe-er yang harus dilakukan untuk mengidentifikasi dan menggali 'genre' seni Islami ini. Sebuah genre yang sebenarnya -bila digarap lebih serius- memiliki banyak sekali penikmat potensial. 
please login to comment.

puti

setelah satu tahun , baru tahu di post disini..suksesss niss


RELATED ARTICLES