Cerita Mbok Cikrak Menjadi 'Penyelamat' Para TKI di Taiwan

Sebuah kegetiran yang kerap kita dengar dan lihat, dari para pekerja wanita Indonesia sektor informal di luar negeri (TKW). Impian untuk memperbaiki ekonomi keluarga, masih ditambah pengorbanan besar untuk meninggalkan keluarga selama bertahun-tahun, rupanya seringkali hasil dan pengalaman yang didapat justru jauh panggang dari api.

Berbagai permasalahan kerap mendera, tidak hanya selama di tempat kerja di luar negeri, bahkan saat hendak kembali ke tanah air pun para TKW ini seringkali menjadi korban para pihak tak bertanggung jawab.

Namanya Mbok Cikrak, dikalangan para Tenaga Kerja Wanita khususnya di Taiwan, Mbok Cikrak akrab di telinga. Ia kerap membantu para pekerja yang berada di bandara. Kerap kali para tenaga kerja indonesia jadi sasaran agen kurang bertanggung jawab saat akan kembali ke Tanah Air.

Beberapa kali ia menemukan sesama orang Indonesia terlantar begitu saja di bandara. Rata-rata diantara mereka tak tahu apa yang dilakukan, yang lainnya bahkan tertipu dengan tiket pulang. ‎"Orang Taiwan enggak peduli, dia sudah ngurusin gitu aja, habis itu ya sudah enggak mau ngurusin lagi,"‎ kata Mbok.

Berawal saat usianya 18 tahun. Keadaan ekonomi mengharuskan Mbok bekerja ke Taiwan. Mbok tak punya pengalaman buruk selama bekerja. Bahkan, ia memikat hati pria asal Taiwan dan membantu mengurus bisnis travel suami.

‎Dari situ cerita bermula. Sepuluh tahun Mbok berkutat di Bandara Taiwan. Ia pernah dipanggil calo bandara karena keaktifannya mengurus para pekerja. Mbok tutup telinga, ia tetap membantu dan ikhlas bekerja. Secara aktif Mbok menerangkan mengenai apa yang diperbolehkan dan dilarang sebelum pulang ke Indonesia. Berbagai permasalahan yang kerap kali dihadapi para TKW ini di bandara, mulai dari barang bawaan, pungli yang dilakukan oknum tak bertanggungjawab, kendala bahasa, kelengkapan dokumen, dan banyak masalah personal lain yang seringkali ditemui Mbok yang sejak saat itu menjadi tempat bertanya dan mengadu para TKI ini. 

Mbok Cikrak tidak hanya secara langsng membantu para TKW ini di bandara, tetapi ia juga memanfaatkan teknologi dan sosial media dalam berkomunikasi dengan komunitas TKW di Taiwan. Ia memanfaatkan Facebook hingga layanan video Bigo live untuk secara rutin memberikan masukan, menjawab berbagai pertanyaan hingga sharing berbagai hal. 

‎Dari Bigo, Mbok bisa mendulang sekitar Rp 15 juta per bulan. Uang tersebut belum termasuk usaha kosmetik yang dijalankan Mbok. Pundi-pundi rupiah tak dimasukkan semua ke kantong pribadinya. Melalui yayasan, Mbok membantu kehidupan sekitar 200 anak yatim.

.

Sampai sekarang Mbok terus membantu. Ia juga memberi tips untuk para pekerja yang saat ini berada di luar sana. "Pintar-pintar memanfaatkan teknologi. Kalau ada masalah jangan langsung kabur. Karena kalau kabur gitu saja kita akan susah dapat kerja lagi," ujarnya.

Tags

work   pekerjaan  
please login to comment.

RELATED NEWS

Sinergi Sekolah, Keluarga dan Masyarakat untuk Membangun Karakter Bangsa

Sinergi Sekolah, Keluarga dan Masyarakat untuk Membangun Karakter Bangsa

READ MORE
Critical Thinking for Media, Kritik dan Rekomendasi Anak terhadap Media

Critical Thinking for Media, Kritik dan Rekomendasi Anak terhadap Media

READ MORE