Muslim Fashion Festival, satu Pilar Indonesia sebagai Pusat Fashion Muslim Dunia

Muslim Fashion Festival, satu Pilar Indonesia sebagai Pusat Fashion Muslim Dunia

Sudah sejak 5 tahunan yang lalu, Indonesia mempunyai visi terukur, menjadi kiblat atau Pusat mode muslim dunia di tahun 2020. Misi yang dituangkan dalam cetak biru kerjasama lintas kementrian, dengan pihak swasta sebagai penggerak aktifnya. Dan Anda mungkin sudah sangat akrab dengan visi ini, yang tidak bosannya didengungkan pada setiap event dan pemberitaan di berbagai media.


Menjadi kiblat mode muslim dunia, berarti menjadi pusat inspirasi atau tren, pusat standarisasi kualitas, pusat produksi dan Pusat belanja sehingga tujuannya jelas, menggerakkan dan meningkatkan perekonomian nasional untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk membahas bagaimana 'progress' Indonesia sampai saat ini terhadap cita-cita tersebut, akan saya tuangkan dalam tulisan tersendiri.


Salah satu pilar indikator sebagai pusat mode, tentu adalah event fashion yang bisa menjadi 'wajah' fashion muslim Indonesia secara 'the whole look', yang uptodate atau terdepan.

Bahkan hingga tahun 2015 pun, belum ada sebuah event besar khusus modest/muslim fashion berskala nasional. Memang pada sekitar tahun 2011-2013 pernah diinisiasi Indonesia Islamic Fashion Fair, yang mewadahi kebutuhan ini, tetapi akhirnya mandeg dan tidak berlanjut. Ada pula event tahunan fashion Indonesia seperti Jakarta Fashion Week dan Indonesia Fashion Week yang juga cukup menonjolkan modest fashion, tetapi sebagai strategi branding, belum cukup untuk meneguhkan posisi Indonesia sebagai pusatnya mode muslim.


Berdirinya Indonesia Fashion Council yang beranggotakan para desainer dan penggerak fashion pada akhir 2015 lalu menjadi angin segar bagi sektor muslim fashion. Sebagai program pertama dan utamanya, IFC mengadakan Muslim Fashion Festival (Muffest), yang digadang sebagai event fashion week dan international trade khusus modest fashion. Banyak ekspektasi menyertai kemunculam event ini, mengingat banyak pemgurus inti IFC merupakan orang-orang sentral penggagas cetak biru visi Indonesia sebagai Pusat Fashion Muslim dunia. Kerjasama dan koordinasi yang telah lama terjalin dengan beberapa kementrian dan Bekraf juga menjadi 'modal' bagi Muffest untuk bisa menjadi event bergengsi.




2 minggu jelang bulan Ramadhan dipilih sebagai waktu penyelenggaraan, dan berakhir pada 29 Mei lalu setelah berlangsung selama 5 hari. Jelang Ramadhan, tentu karena sekaligus ingin memanfaatkan momen 'belanja' tahunan yang menjadi budaya di Indonesia. Secara bisnis, ini adalah pertimbangan yang sangat mengekor pada pasar. Tetapi secara branding dan positioning, Muffest seharusnya punya acuan yang lebih kuat daripada memilih waktu 'jelang ramadhan'. Pertama, Muffest yang didalamnya mempunyai program andalan, Indonesia Tren Forecasting, seharusnya bisa memposisikan dirinya sebagai acuan tren muslim fashion, dalam hal ini, apa timing/season yang menjadi acuan? Apakah Indonesia akan mengikuti pembagian season Spring Summer dan Autumn Winter seperti di kota mode lainnya? Atau awal tahun - tengah tahun seperti yang sudah dilakukan beberapa desainer? Memanfaatkan waktu tengah tahun seperti saat ini bisa menjadi strategi tepat, mengingat awal dan akhir tahun sudah identik dengan dua fashion week Indonesia yang sudah lebih dulu eksis. 


Sangat disayangkan juga bahwa pada Muffest kali ini penyelenggara tidak bisa menggaet retail busana muslim besar Indonesia, seperti Shafira dan Up2date yang sangat signifikan dalam membentuk arah perkembangan muslim fashion dalam satu dekade ini. Padahal, kehadiran brand-brand besar ini akan mampu menaikkan image dan 'level' Muffest, di mata masyarakat, media dan buyer potesial. 


Secara penyelenggaraan, patut diacungi jempol karena Muffest mampu menggelar acara secara terkoordinasi, serius dan rapih. Lebih istimewa lagi karena ini adalah penyelenggaraan pertama, dan dikerjakan sendiri oleh tim IFC dan Ditali Cipta Kreasi, tanpa menghire EO eksternal/Profesional. Hal ini juga diakui oleh beberapa pengunjung dari luar negeri, membandingkan bagaimana Muffest bisa terlaksana secara profesional dengan berbagai kegiatan didalamnya (dibanding event sejenis di negara lain). 


Lokasi penyelenggaraan yang 'kurang populer' mungkin membuat pengunjung yang datang tidak sebanyak acara sejenis yang diadakan di exhibition hall, atau mal besar. Tetapi dukungan media yang cukup paling tidak bisa meningkatkan awareness masyarakat, sehingga memunculkan antisipasi yang lebih besar di tahun depan.


Yang paling penting, Muffest bisa konsisten terselenggara di tahun-tahun selanjutnya dan menjadi salah satu pilar kita sebagai pusat mode muslim dunia. 


Selamat untuk penyelenggaraan Muffest 2016!











See also:
-- Cerita Keluarga Si.Se.Sa -- ELEMWE Konsisten Promosikan Batik Betawi -- Re-Branding, Bagaimana Tampilan Dian Pelangi Kini? -- Nuniek Mawardi & Astri Lestari: A Mix of Asian-European Looks from A Mom-Daughter Collaboration --

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

How to Layer like I.K.Y.K

How to Layer like I.K.Y.K

READ MORE
Indonesian Fashion Chamber, Satu Tahun yang Padat dan Produktif

Indonesian Fashion Chamber, Satu Tahun yang Padat dan Produktif

READ MORE