Melirik Laku Wajik Tenun Kediri
By ketupatkartini - Nov 15, 2016
Bentuk wajik (diamond) sangat akrab dengan telinga masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, hingga populer menjadi nama penganan khas yang terbuat dari ketan dan gula jawa. Wajik juga sebuah bentuk geometri simetris yang sangat luwes dan mudah diterapkan pada bentuk hias, mulai dari produk jalinan rotan hingga diaplikasikan sebagai motif kain tradisional. Di panggung Jakarta Fashion Week 2017, beragam bentuk wajik wara-wiri pada sebuah presentasi fashion spesial persembahan Kota Kediri karya desainer muslim, Hannie Hananto.
Kediri memang punya wastra tradisional kebanggaan, yaitu tenun Kediri. Masih satu aliran dengan produk tenun di beberapa sentra di Jawa Tengah, tenun Kediri mempunyai ciri motif geometris yang bersih dan garis, dengan material yang lemas (tidak kaku). Sama dengan kain tenun lainnya yang pada awalnya digunakan sebagai sarung, kain tenun Kediri pun hingga kini tetap terlestarikan. Dan dengan bantuan dan binaan dari beberapa instansi, banyak pengrajin tenun pun mengembangkan motif dan warna, sehingga tampilan tenun Kediri makin cantik dan dilirik sebagai produk unggulan Kediri.
Salah satu sentra tenun adalah di Kelurahan Bandar Kidul, Kota Kediri. Disini terdapat 12 usaha rumahan tenun ikat yang mempekerjakan sekitar 400 karyawan. Mereka memiliki keahlian masing-masing yang mencerminkan 14 tahapan dalam proses pembuatan kain tenun tradisional dengan alat tenun bukan mesin (ATBM). Perkembangan industri rumahan tenun ikat Bandar Kidul juga tidak lepas dari bantuan banyak pihak, tak terkecuali Pemerintah Kota Kediri yang menjadikannya produk unggulan Kota Kediri. Bahkan, sejak awal 2016 sesuai dengan Peraturan Wali Kota mewajibkan hari-hari tertentu pegawai negeri sipil dan karyawan swasta yang perusahaannya berdomisili di Kota Kediri untuk mengenakan busana berbahan tenun ikat sekali dalam sepekan.
Ada tujuh motif utama yang dimiliki oleh Tenun Ikat Bandar Kidul antara lain, Ceplok (motif bunga yang tertata), Loong (bunga-bunga tidak beraturan), TirtoTirjo (seperti air bergelombang), Corak Garis Miring, Salur (polos dan motif), Rang Rang, dan Gelombang (seperti TirtoTirjo, namun lebih besar gelombangnya).
Untuk lebih mempopulerkan Tenun Kediri dan menjadikannya produk fashion yang diperhitungkan, Pemkot Kediri menggandeng dua desainer yaitu Hannie Hananto dan Lenny Agustin. Selama 6 bulan kedua desainer blusukan di Kota Kediri, melakukan pendampingan untuk meningkatkan kualitas kain tradisional Kota Kediri, mencoba mengeksplorasi beragam motif yang ada, mencoba mencari inspirasi dari budaya, flora, kuliner yang ada di Kota Kediri.
Pendampingan kepada anak SMKN 3 Kota Kediri juga dilakukan oleh kedua desainer ini, untuk mengedukasi para siswa, agar lebih mempunyai visi kedepan, menikmati proses belajar selama di SMK, dan mempunyai keinginan tinggi untuk mengembangkan fashion yang ada di daerahnya.
Hasil olahan tenun Kediri ini yang diangkat Hannie Hananto dalam sebuah koleksi istimewa dalam runway JFW 2017. Menggunakan material utama Tenun Ikat Bandar, dan menonjolkan motif wajik. Motif ini memang sudah menjadi motif utama Tenun Ikat Bandar, tetapi dengan bentuk wajik kecil-kecil yang monoton. Hannie mengolah motif tersebut dan membuat motif wajik besar, sehingga menjadi center point dalam rancangannya. Selain itu tampak pula bentuk kubus sebagai aksesori pada beberapa look, yang mengambil inspirasi dari tahu takwa, yang juga merupakan ikon kuliner kota Kediri.
Hannie Hananto membawakan koleksi kali ini dengan sangat memikat, luwes dan menyegarkan! Tenun Ikat Bandar dengan motif wajik tetap mengacu pada warna-warna aslinya, gradasi warna coklat. Hannie mengkombinasikannya dengan warna monokrom yang menjadi karakternya, hitam dan putih. Perpaduan tersebut tidak menimbulkan kesan gelap dan etnik, tetapi justru sebuah kematangan desain -contentment- yang tidak lupa membawa unsur playful! Bagaimana tidak, sang desainer mengkombinasikannya dengan beragam material seperti tulle maxi skirt, aksen saku-saku super besar, serta aksesoris quirky!
Koleksi ini menjadi sebuah karya dengan local content yang kental, tidak dikesankan untuk menjadi modern, tetapi memiliki kebaruan yang membuatnya menggemaskan untuk dimiliki! Koleksi yang sangat wearable, tanpa terkesan etnik. Saya bisa membayangkan memakai beberapa look dari koleksi ini, dengan gaya yang easy-going, content but playful! Big applause for Hannie Hananto, super love this collection!!
See also:
--
Melirik Laku Wajik Tenun Kediri --
JFW 2017; New York Inspired Collection, Hannie Hananto for NYS.co --
Komposisi Baru Denim untuk Hijabers --
Strategi Desainer Hadapi Pandemi --
Tags
Yana Kartika Sari
super love this collection!!
RELATED ARTICLES
Ayu Dyah Andari dan Batik Trusmi Meramu Mega Mendung
Oct 2, 2022 READ MORE
JFW 2017; Monochrome Never Gets Old for Elegance, Kursien Karzai
Nov 8, 2016After bringing North Sumatra's Ulos to Jakarta Fashion Week (JFW) stage last year, Kursien Karzai returns to JFW 2017 with a completely new collection. This time, he shows that monochrome never fails to give an elegant look.
READ MORE