Make Up dan Body Shaming; Edukasi Kecantikan Sejak Dini

Make Up dan Body Shaming; Edukasi Kecantikan Sejak Dini

Pada masa kini, kita dapat dengan mudah melihat gadis SMP atau SMA yang sudah pandai menggunakan riasan wajah. Alis yang sempurna dengan wajah yang flawless hadir bersamaan dengan seragam sekolah yang menunjukkan berapa umur penggunanya. Kelumrahan kombinasi antara umur beli dan penggunaan makeup bukanlah sesuatu yang buruk, bila diiringi dengan edukasi yang tepat sasaran dan padat informasi.

Fenomena ini benar adanya diiringi dengan beberapa fakta hasil survei ZAP Clinic dengan MarkPlus Inc. dalam ZAP Beauty Index 2019. Survei ini menggunakan metode online survey yang diberikan kepada 6.460 responden perempuan di Indonesia sepanjang Juli—September 2019. Responden dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu Gen X (45–65 tahun), Gen Y atau millenial (23–44 tahun), dan Gen Z (13–22 tahun).

Berdasarkan ZAP Beauty Index 2019, ditemukan bahwa secara keseluruhan Gen Z mengeluarkan hampir seluruh pendapatannya untuk kecantikan. Pun ditemukan adanya perkembangan dari tahun 2018, pengeluaran untuk kecantikan Gen Z sebesar 200 ribu—600 ribu rupiah menjadi 500 ribu—3 juta rupiah. Selain itu, sebanyak 43,3% perempuan Indonesia sudah pernah ke klinik kecantikan sebelum umur 13 tahun. Fakta ini disusul dengan makna kecantikan bagi perempuan Indonesia adalah memiliki kulit glowing dan cerah sebesar 82,5% dan bertahan sejak tahun 2018. Cantik sebagai well dressed dan bertubuh fit masih menyusul di belakang kulit glowing, yaitu sebesar 46,7% dan 40,9%.

Fakta-fakta menarik ini akan menjadi hal yang lebih baik bila perempuan generasi Z yang akan membawa Indonesia ke tahap selanjutnya diedukasi secara tepat. Sosok yang paling berpengaruh dalam kecantikan bagi perempuan Gen Z bukan hanya seorang ibu, tetapi juga beauty influencer dalam media sosial Instagram. Walaupun begitu, ibu dan saudara perempuan masih memiliki andil yang besar bagi generasi Z yang masih harus dalam bimbingan. Faktanya, menurut ZAP Beauty Index 2018, 53,4% perempuan di bawah umur 23 tahun (terkategori Gen Z) masih belum dapat percaya diri akan kondisi fisiknya.

Lalu, bagaimana cara mengedukasi para Gen Z dalam bidang kecantikan? Melihat 77,2% perempuan Indonesia menjadikan Instagram sebagai media andalan untuk mengetahui informasi kecantikan, para beauty influencer dan kita, sebagai pengguna Instagram, memilki peran besar dalam edukasi kecantikan.

Hal yang paling mudah kita lakukan untuk mengedukasi Gen Z agar percaya diri dengan fisiknya dan tidak konsumerisme adalah dengan menyebarkan komentar dan caption positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Buatlah kondisi fisik bukan menjadi suatu capaian keberhasilan, melainkan aspek-aspek lainnya, seperti sekolah tinggi, berprestasi, dan produktif, sebagai konten utama sosial media kita. Dengan menyebarkan konten positif generasi perempuan muda Indonesia dapat lebih termotivasi untuk melakukan hal-hal produktif demi masa depan mereka.

Kondisi fisik yang tidak sesuai dengan standar kecantikan pun harus diingatkan dan disebarkan bahwa “cantik” merupakan suatu konstruksi sosial. Sesuatu yang dibentuk dengan standar dan persepsi tertentu oleh pihak yang mencari keuntungan di dalamnya. Juga ingatkan kepada generasi perempuan penerus bangsa bahwa “kulit glowing nan cerah” akan berubah seiring bergesernya tren dan tidak perlu dijadikan sebagai indikasi pencapaian tertentu. Pun seorang yang tidak berkulit glowing dan cerah bukan berarti dia tidak cantik, tetapi hanya tidak sesuai dengan standar yang dibuat.

Edukasi mengenai standar kecantikan ini bisa disebarkan dengan kampanye bertagar dan challenge yang dapat dilakukan di Instagram. Sebanyak 67,8% perempuan Gen Z pernah mengalami body shaming, baik seputar kulit maupun bentuk tubuh. Persentase ini ditemukan terbanyak di Gen Z dibandingkan Gen X yang sebesar 36,3% dan Gen Y 62,2% yang pernah mengalami body shaming. Dengan pengedukasian sejak dini, perilaku body shaming dapat dicegah. Pun korban body shaming tidak akan merasa rendah diri atau tidak percaya diri dengan pengedukasian kecantikan sejak dini.


Tekankanlah kepada perempuan bahwa tidaklah salah memiliki warna kulit, bentuk tubuh, kondisi kulit atau rambut tertentu. Manusia diciptakan dengan sebaik-baiknya oleh Yang Maha Kuasa. Mari kita ajak diri kita dan perempuan di sekitar kita agar terus berpikiran positif, mengonsumsi makanan sehat, berolah raga. Dengan melakukan hal-hal positif dan produktif, seorang akan terhindar dari rasa sedih yang mendalam akibat body shaming.

Dalam menyadari adanya standar kecantikan, perlu diingatkan bahwa tidak ada kata “tapi “ sebagai pembelaan terhadap sesuatu yang dianggap lemah. Sebutkan secara lantang bahwa, “Kita memang cantik,” tanpa kata “tetapi” atau “karena”. We are beautiful as we are. Why not enhance it by spreading good things about others?



(feature image courtesy of @delgadowebb Unsplash)


See also:
-- Aidijuma; Modernize the Whole Way of Selling Scarf -- Atomic Habits; Hidup Sehat dengan Langkah Mudah -- The Ramadhan Edit, Gaya Ramadhan dan Lebaran dari ASOS.com -- Bugar selama puasa dengan Light Yoga --

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Mulai 'Beauty Habit' yang Peduli Lingkungan & Bumi

Mulai 'Beauty Habit' yang Peduli Lingkungan & Bumi

Kebiasaan kita dalam merawat kecantikan, menghasilkan sampah plastik yang luar biasa banyak. Mulai langkah-langkah nyata ini, buktikan bahwa kita peduli lingkungan dan sayangi bumi.

READ MORE
Mereka yang Mengubah Hidupnya Melalui Jafra

Mereka yang Mengubah Hidupnya Melalui Jafra

READ MORE