FKY, Pesta Seni Orang (Muda) Jogja

FKY, Pesta Seni Orang (Muda) Jogja

Perayaan seni dan budaya. Sejalan dengan promosi wisata Indonesia, saat ini hampir di seluruh daerah sudah punya acara rutin semacam ini. Tapi coba lihat ke Jogja, yang katanya kotanya para seniman, festival dan event seni itu dalam satu tahun bisa mencapai ratusan jumlahnya. Ramai dan sudah menjadi detak denyut kehidupan masyarakatnya.


Festival Kesenian Yogyakarta -FKY- sendiri termasuk festival seni yang paling lama, tahun ini adalah penyelenggaraan ke 28. Dan dengan eksistensinya yang sudah kesekian kali ini, FKY dengan pasukan pemangkunya yang sekarang, mencoba menjelaskan positioningnya dalam 'percaturan' event seni di Jogja, dan di Indonesia secara umum. Secara historis, FKY tidak bisa lepas dengan image kota jogja, kota pelajar dan mahasiswa yang berarti anak muda. Ini yang menjadi pegangan bagi FKY, bahwa festival ini harus menjadi event yang accessible, perceivable dan affordable buat 'konsumen' mayoritas ini. 



Pawai di Jalan Malioboro sebagai rangkaian pembuka FKY 2016


Sebagai event seni, FKY pada tahun-tahun yang lalu tidak lepas dari kritik, seperti konten-konten keseniannya yang terkesan 'agak kedodoran', atau kurang ada kedalaman seninya, yang berusaha direspon dan menjadi salah satu catatan. Faktanya, FKY juga diotaki seniman-seniman kawakan di Jogja. Akan 'mudah' bagi FKY untuk mengakomodasi pengalaman seni yang mendalam, yang pemahaman akan konten dan konteksnya memerlukan pengetahuan seni yang tinggi, ataupun perhelatan seni yang mahal. Bayangkan bila seperti itu, maka inovator-inovator muda yang senang menjajal, anak-anak mahasiswa yang (cuma) suka jogetan di kampung, teman-teman gaul yang generasi selfie, jadi tidak punya tempat. 


Jadi strategi inilah yang tetap dipertahankan oleh FKY, yang tetap akan menyisipkan 'konten' pada setiap penyelenggaraannya. Jadi bukan berat di konten, tetapi membuat tema yang bisa dijadikan pembelajaran. Tema kali ini adalah Mapan Rindu, (Masa Depan, Hari ini Dulu). Biasanya kalau tema masa depan, ya menampilkan proyeksi-proyeksi waktu mendatang. Mengapa 'hari ini dulu'? Sebenarnya jawabannya pun simpel. Kita hanya punya hari ini, jadi kalau mau menuju masa depan, lakukan yang terbaik hari ini dulu. 


Makna selanjutnya, yang masih ada hubungannya, ini memperlihatkan trilogi waktu manusia, yaitu masa depan, hari ini dan dulu. Hilangkan satu 'dan', maka berfokuslah kita pada "Masa Depan, Hari ini Dulu." Jadi tidak perlu terperangkap masa lalu, atau istilah kekiniannya, belum bisa move on. Tapi fokuslah pada hari ini, demi masa depan.


Seperti perhelatan seni besar lainnya, FKY juga menyuguhkan rangkaian kegiatan, event, dan program, yang berlangsung di beberapa lokasi. Pasar Seni FKY, yang juga menjadi tempat acara pembukaan festival berada di Taman Kuliner Condong Catur, spot populer mahasiswa Jogja untuk makan dan nongkrong. Ada juga pameran budaya di Taman Budaya Jogja, memamerkan banyak karya seni yang layak dibeli. Ada 16 program unggulan, antara lain panggung sastra, bioskop FKY, diskusi seni, panggung kontemporer di Tebing Breksi, dan lainnya. 



Menikmati seni di FKY berarti nyemplung bersama warga Jogja, pelajar dan mahasiswa 'kere', yang riuh rendah walau tanpa cahaya gemerlap, yang antusias ndlosor mengisor, bukan mabur menduwur. Menyerap apresiasi seni yang tinggi dalam segala wadah kebersahajaan. 


Seperti dalam pembukaan di panggung Taman Kuliner, tampil paling tidak tiga pertunjukan seni yang jauh dari biasa saja. Dipersiapkan dengan matang, dengan bakat-bakat yang kreatif dan original. Ada tari Pambuka dari sanggar tari Bagong Kussudiardjo, Tari Sintren dari komunitas Ayo Menari dan Orkes Tresnawara pimpinan Imung Mulyadi. Kesemuanya mampu meramu kreativitasnya sedemikian rupa, yang merangkul tradisi sekaligus membuka diri terhadap budaya populer kekinian. 


Rasanya sangat puas dan senang bisa menikmati sajian berkualitas dan langka seperti ini, di tengah antusiasme dan apresiasi luar biasa yang sulit ditemukan di tempat lain. Jogja memang tidak pernah kehabisan talenta seni, dan tidak pernah gagal mengisi jiwa lewat estetika. 





please login to comment.

RELATED ARTICLES

Antagonisme dalam Narasi Agni Saraswati

Antagonisme dalam Narasi Agni Saraswati

READ MORE
Forever Playful, Jangan Pernah Berhenti Bermain!

Forever Playful, Jangan Pernah Berhenti Bermain!

READ MORE