Kebudayaan dalam Bungkus Tusuk Gigi

Kebudayaan dalam Bungkus Tusuk Gigi

Pidato Kebudayaan dari Dewan Kesenian Jakarta, menjadi tradisi tahunan yang diselenggarakan sejak 1989 sebagai bagian perayaan ulang tahun Taman Ismail Marzuki (TIM). DKJ setiap tahun mengundang tokoh nasional untuk mengupas persoalan penting dan aktual. Para pembicara berusaha menjawab tantangan yang tengah melanda bangsa Indonesia dengan pemikiran-pemikiran jernih dari perspektif kebudayaan.

Tahun ini terasa istimewa, karena Seno Gumira Ajidarma seorang seniman dan sastrawan Indonesia dengan sederet karya dan peraih banyak penghargaan budaya, yang terpilih menyampaikan pidato kebudayaan. 

Melalui pidatonya berjudul “Kebudayaan dalam Bungkus Tusuk Gigi”, Seno Gumira Ajidarma membongkar makna-makna budaya pada benda-benda di sekitar kita dalam konteks pertarungan kultural merebut sebuah kebudayaan kota bagi semua. Di dalamnya ia membedah persoalan budaya urban bangsa Indonesia melalui simbol-simbol sepele yang akrab di sekitar kita. Sesuatu yang sebenarnya telah lama ia lakukan. Apalagi latar belakang pendidikan Master dan Doktornya adalah di bidang filsafat Universitas Indonesia (UI). Sekarang pun masih menjabat sebagai Rektor di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Seno Gumira memulai pidatonya dengan membongkar makna-makna denotatif dan konotatif dari sebungkus sepotong tusuk gigi. Karena sebungkus tusuk gigi memiliki makna-makna pertarungan kultural dalam konteks perebutan kebudayaan urban bagi kita semua. Secara fisik, sebungkus tusuk gigi hanyalah sepotong tusuk gigi yang dikemas dalam sebuah kertas yang sedikit lebih besar daripada si tutuk gigi itu sendiri. Namun banyak sekali filosofi konotatif dan denotatif yang dapat dibedah dari kemasan tersebut.


Ada bungkus tusuk gigi dengan rancangan visual yang sama sekali tidak mengutamakan tusuk gigi yang dibungkusnya (konotatif); melainkan sesuatu yang lain sama sekali yaitu merek-merek maskapai, hotel, maupun restoran. Bagi Seno Gumira, ini adalah suatu bentuk komodifikasi yang bisa disebut juga sebagai jualan. Sementara itu, ada pula tusuk gigi “denotatif” yang bungkus-bungkusnya bertuliskan “tusuk gigi” yang sama persis dengan isinya. Dengan kata lain, Seno Gumira menggaris-bawahi bahwasanya dari “bungkus tusuk gigi saja”, tidak ada kebenaran yang tunggal.

Seno Gumira menggali lebih dalam relasi-relasi makna di antara manusia dengan benda-benda di sekeliling kita yang selama ini kita anggap sepele, seperti bungkus tusuk gigi, atau helm versus hijab, siput vs kancil, wingko babat sampai dengan latahnya para pejabat kita dengan terminologi 4.0 (four point zero).

Helm disepakati dan diwajibkan melalui suatu aturan hukum kenegaraan. Ada sanksi bila tidak mengenakannya. Sementara di sisi lain, hijab yang (dalam pandangan sebagian orang) diwajibkan oleh aturan agama malah diperdebatkan tak kenal henti; antara berhijab atau tidak. Wacana di antara keduanya, tidak ada habisnya dipertentangkan. Sebagaimana di saat yang sama, keduanya juga dapat menjadi sumber kekayaan khasanah kebudayaan kita.

Yang menjadi keresahan seorang Seno Gumira adalah bahwasanya kebudayaan merupakan bauran antara budaya yang “kuat” dengan yang “lemah”. Lemah tidak berarti kalah. Karena meskipun minoritas, perlawanan budaya pun akan terus dilakukan. Dapat dikatakan, tidak ada suatu kebudayaan yang “berkuasa” tanpa perlawanan sama sekali. Tarik-menarik di antara satu atau beberapa pihak pelaku dan penikmat kebudayaan tentu akan terus bergerak secara dinamis.

Resultannya adalah kompromi antara yang mendominasi dengan yang didominasi. Dapat disimpulkan bahwa berlangsungnya kebudayaan, bagi seorang Seno Gumira, merupakan proses hemegoni.

suasana pidato kebudayaan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki

Oleh sebab itu, terlalu seringnya manusia untuk saling berdebat bahkan “membunuh” satu sama lain, apalagi hanya berdasar asumsi dan ilusi, adalah sesuatu yang sangat meresahkan lagi menyedihkan. Menurutnya, sudah seharusnya kita turut bertanggung jawab, ikut ambil bagian, tanpa melakukan pembiaran-pembiaran.

Dalam studi kasus Wingko Babat di Stasiun Tawang Semarang, beliau menuturkan kompetisi antar para produsen Wingko Babat yang mengasosiasikan enak-tidaknya produk kuliner tersebut dengan “kecepatan” yang direpresentasikan oleh jenis kereta api yang terpampang nyata di kemasan. Mulai dari kereta api ekspres, kereta api senja utama, kereta api diesel & jet, setoom mini, hingga kereta api eksekutif. Hadirin terbahak-bahak menikmati sajian yang terlampau berlebihan dari persaingan antar merek Wingko Babat tersebut.

Dalam lakon kancil yang kalah adu cepat oleh siput, binatang yang dikenal begitu lambat. Pasalnya, ketika kancil bertanya posisinya, siput yang di depannya selalu menjawab. Hal tersebut terjadi karena jumlah siput itu bukan hanya banyak, melainkan tak terhingga sehingga praktis siput tersebut tidak perlu bergerak sama sekali. Hal tersebut berarti yang lemah seperti siput tidak bisa dianggap yang kalah begitu saja. “Dalam falsafah dini untuk kanak-kanak, ini bermakna otak mengalahkan otot; dalam fisika, waktu yang melesat pun tidak akan pernah melampaui ruang; dalam wacana kritis: yang lemah itu tidak selalu harus dianggap sebagai yang kalah."

“Dalam gembar-gembor kenyinyiran 4.0, terkesan betapa apa yang berlangsung dalam dunia industri telah dengan sendirinya menjadi gejala kebudayaan, yang memang tidaklah keliru, tetapi yang dalam pendapat saya, tidak harus selalu harfiah bermakna adu kecepatan-dan pencapaian terbaik adalah menjadi yang tercepat,” tanggapan tentang kelatahan para pejabat kita yang susul-menyusul tidak ingin kalah merilis terapan 4.0 dalam bidang mereka masing-masing.

Pikiran filosofis yang ia sadari bahwa tidak semua level intelektualitas sanggup meraih dan menjangkau filosofi tersebut. Tidak heran untuk mendekatkan para audiensnya dengan topik yang sedang disampaikannya, Seno menggunakan metafora-metafora ala-ala tusuk gigi, helm vs hijab, kancil vs siput, wingko babat, 4.0 dan sebagainya.

“Dalam akhir petualangan di belantara tanda-tanda, dalam bahasa, sussastra, aksara, maupun dongeng kanak-kanak sederhana, saya akan kembali kepada temuan dari perbincangan bungkus tusuk gigi: bahwa kebenaran, kebudayaan terlalu sering terpahami sebagai ilusi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” pungkasnya.



(foto-foto: Dewan Kesenian Jakarta)

See also:
-- 'Opera' Pra Kemerdekaan yang Penuh Tawa -- Can't Afford Art? Wear Art. -- Melihat 12 Karya Favorit Artjog 2018 -- Persembahan Indah Mahakarya Kebaya, Musik dan Visual dalam Merajut Nusantara --

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Kapten John, Dari Lukisan Sutra ke Mural

Kapten John, Dari Lukisan Sutra ke Mural

Kagum dengan mural Cikapundung yang 'memberi kebahagiaan'? Perkenalkan Kapten John, sang seniman.

READ MORE
Rinaldy A. Yunardi dan Inspirasi dari World of Wearable Art 2019

Rinaldy A. Yunardi dan Inspirasi dari World of Wearable Art 2019

READ MORE