Bandung Creative Hub, Ruang Publik Bagi Industri Kreatif


foto dari sini

Bandung kini memiliki sebuah wadah, ruang publik bagi segala aktivitas kreatif dengan nama Bandung Creative Hub (BCH). Pada 28 Desember 2017, gedung unik berlantai 5 (tidak termasuk basement dan rooftop) ini  secara resmi dibuka dan diperkenalkan kepada publik oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil. Gedung beralamat di Jalan Laswi nomor 7 ini sebenarnya sudah mulai digunakan sejak event Festival Bekraf awal Desember lalu. Peresmian gedungnya saja yang baru dilakukan. 

Terdapat banyak fasilitas ruangan di BCH yang dinaungi langsung oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, antara lain:

* Bandung design archive (BDA), museum mini yang mendokumentasikan dan mengarsipkan berbagai desain dalam format digital. 

* Game & Animasi, sebagai salah satu industri digital kreatif yang sedang berkembang dan membutuhkan banyak dukungan

* Amphiteather, untuk fashion show maupun pertunjukan film. 

* Music studio 

* Museum lukisan 

* Indonesia photography archive 

* Perpustakaan 

* Photography space 

* Fashion wokshop 


Ruang fashion di BCH. Foto dari sini

Bandung Creative Hub sebagai infrastruktur fisik ini diharapkan dapat turut mendukung industri kreatif yang telah 'mendarag daging' di Bandung. Sebelumnya sudah ada Bandung Creative City Forum (BCCF) yang menyatukan beberapa komunitas kreatif yang ada. BCCF melakukannya via Helar Fest, festival komunitas kreatif Bandung dan jejaring pekarya seni CEN (Creative Enterpreneur Network). Keberadaan BCCF merupakan modal ekosistem yang kreatif (creative ecosystem) dan kebudayaan yang unik (unique culture) yang menjadi prasyarat Kota Kreatif.  


Sejarah Bandung sebagai Kota Kreatif 

Kota ini seakan sudah ditakdirkan untuk menjadi tempat wisata yang dikenang oleh pelancong. Dalam perspektif ekonomi dan bisnis, bisa dikatakan bahwa market crowd-nya datang dengan sendirinya. Tanpa perlu repot mencari pasar, warga Bandung dan sekitarnya dengan mudah menemukan calon pembelinya. 

Dengan logika sederhana, tentu saja para pelancong ingin "membuang" uangnya. Sembari mendapatkan 'story' dan 'experience'. Cerita dan pengalaman itulah yang berharga mahal. Dan ditawarkan oleh segenap warga Bandung dalam format karya-karya kreatif. Maupun format wisata-wisata alam di sekitar Baraya (Bandung Raya).

Di utara, ada kawasan Lembang, Gunung Tangkuban Perahu, pemandian air panas. Di selatan, ada Pangalengan, Situ Cileunca, dan Kawah Putih. Beragam kawasan ini selalu mengundang wisatawan sepanjang tahun khususnya pada masa liburan panjang. Di kawasan-kawasan sejuk seperti di Kota Bandung inilah bermunculan ide-ide kreatif yang menjadi cikal bakal industri dan ekonomi kreatif. 

Apalagi didukung oleh keberadaan dua institusi pendidikan ternama dengan sekolah/fakultas kreatifnya. Ada FSRD-nya ITB dan Telkom Creative Industry School (TCIS) dengan program studi: fashion dan kriya tekstil, desain produk, desain interior, dan desain komunikasi visual (DKV). Di FSRD, keempatnya juga ada dengan penambahan sebuah jurusan: Seni Murni. Tidak hanya di tingkat perguruan tinggi, sekolah vokasional seperti SMKN 14 juga berfokus menghasilkan lulusan yang akan mampu mendesain dan memproduksi kerajinan berbasis keramik, kayu, dan kulit. 

Dalam hal ini, bisa dikatakan bahwa Bandung beruntung punya sumber daya manusia (SDM) yang siap berkarya di industri kreatif. Yakni lulusan-lulusan perguruan tinggi yang sudah disebutkan itu tadi. 


Kota Kreatif Versi UNESCO

Bandung adalah tuan rumah penyelenggara berbagai workshop, konferensi, dan festival. Misalnya, Konferensi Asia Afrika (KAA). Bandung juga memperoleh reputasi sebagai Parijs van Java (Paris-nya Jawa), alias sebuah kota yang identik dengan fesyen-nya. Pada masanya, perkembangan pesat mode Kota Paris juga berbarengan dengan antusiasme kalangan berpunya di Bandung pada keseniaan dan kebudayaan. 

Ruang publik semisal Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) adalah ruang seni yang mendukung pengembangan praktik dan pengkajian seni dan kebudayaan visual di Indonesia. Fokus utama SSAS adalah pada penyelenggaraan program-program seni rupa kontemporer, melalui pameran, diskusi, residensi & lokakarya.

Ada pula yang berfokus pada kesenian bermusik dan warisan budaya tradisional sekaligus, seperti Saung Angklung Udjo (SAU). Selain sebagai tempat pertunjukan seni musik berbasis angklung, SAU juga menjadi pusat kerajinan tangan dari bambu, dan workshop instrumen musik dari bambu. 

Kota Bandung kekinian juga menyajikan taman-taman tematik yang instagrammable banget. Semisal Taman Lansia, Taman Pasupati, Taman Musik, Taman Vanda, Teras Cikapundung, dan lain sebagainya. Semua ruang publik tersebut menjadi sarana prasarana lahirnya ide-ide kreatif yang turut mendukung keberadaan delapan sentra industri kreatif. 


Sentra Industri kreatif 

Sudah sejak lama 'kan kita mendengar, bahkan mungkin sudah mengunjungi langsung sentra-sentra industri kreatif di Kota Bandung: 

Factory Outlet (FO) di Jalan Dago dan Jalan Riau.

Jeans di Cihampelas.

Sepatu di Cibaduyut.

Sentra kaos di Jalan Suci. 

Tekstil di Cigondewah. 

Rajutan di Binong Jati

Tahu dan Tempe di Cibuntu 

Boneka di Sukamulya 

Di sentra-sentra tersebut, terkesan bahwa mereka bersaing satu sama lain. Itu benar adanya. Sesungguhnya, yang juga terjadi adalah kolaborasi dalam membangun brand image serta mendatangkan keramaian calon pembeli. Meskipun bersaing, tidak masalah karena calon pembeli tidak akan berhenti berkunjung dan berbelanja di sentra-sentra tersebut. 

Tantangan jaman now bagi Kota Bandung adalah untuk terus-menerus berkreasi dan berkembang dalam menghadirkan kawasan maupun karya-karya kreatif dengan cerita dan pengalaman yang menarik. Terutama dalam rangka mewujudkan visi Bandung Creative City

please login to comment.

RELATED NEWS

Hang Out Sehat dan Fashionable di Aula Store Bintaro

Hang Out Sehat dan Fashionable di Aula Store Bintaro

READ MORE