Pengalaman dalam Selembar Kerudung Buttonscarves

Pengalaman dalam Selembar Kerudung Buttonscarves

Tren dan perkembangan kerudung atau hijab di Indonesia memang dinamis, dan terkadang sulit ditebak. Yang jelas, tren atau kecenderungan minat terhadap jenis kerudung tertentu memang berubah-ubah seiring waktu, terutama sejak bergairahnya industri busana modest. Hijabers sempat merasakan euforia dan kecintaannya terhadap kerudung panjang atau pasmina, kemudian kerudung tie dye, hingga era saat ini yang kembali 'back-to-basic', kerudung segi empat. Semuanya bisa jadi menemukan  kenyamanan berkerudung pada bentuk dasar kotak ini, tetapi trennya tetap berjalan. Motif yang bermain, mulai dari motif klasik, abstrak, etnik, hingga masing-masing brand kerudung ini mesti menemukan ceruknya sendiri, yang bisa menjadi pembeda, sekaligus menciptakan gelombang tren.

Kemudahan teknologi cetak diatas kain kini memungkinkan setiap brand membuat corak motifnya sendiri, berapapun kuantitasnya. Kepopuleran kerudung segiempat print ini tidak surut sejak 4 tahun lalu, tetapi pasar kerudung menjadi sangat riuh dan ramai, berlomba membuat goresan, sketsa, motif yang akan dituangkan di selembar kain, yang bisa memenangkan perhatian hijabers. Antara orisinalitas dan sentuhan ATM (amati-tiru-modifikasi) menjadi samar batasnya, tetapi yang jelas, motif baru harus terus dihasilkan, untuk merebut perhatian.

Di segmen besar; kerudung segi empat - bercorak ini, para pemain mau tidak mau harus menemukan faktor pembeda lainnya, untuk bisa berkompetisi dan berpotensi memenangkan pasar. Bagaimana mengkomunikasikan brand ke publik dan calon pelanggan menjadi faktor paling penting, di era digital saat ini.


Linda Anggrea menyadari ramainya pasar kerudung yang akan ia masuki, ketika mempersiapkan brand barunya saat itu. Meskipun demikian, ketika berbicara tentang kerudung, seorang hijabers akan selalu memiliki preferensinya sendiri-sendiri, dan terutama berhubungan dengan kenyamanan dan kecocokan. Akan selalu ada room for improvement, karena Linda sendiri saat itu masih belum menemukan kerudung yang sesuai dengan apa yang diinginkannya.

4 tahun lalu ia mendirikan Buttonscarves, ketika pasar telah ramai dengan berbagai merek kerudung. Yang jelas, sejak awal Linda sudah memahami persis apa yang ingin disampaikannya melalui Buttonscarves. Sama-sama kerudung segi empat, sama-sama bermotif, tetapi ia percaya bahwa produk yang baik dari segala aspek, berkualitas tinggi dan eksklusif, akan selalu menemukan pelanggannya.

Selama 4 tahun tersebut ia 'mengemas' Buttonscarves, dengan desain motif yang orisinal, mengambil gaya yang jarang digunakan, seperti koleksi-koleksi awal dengan corak lukisan cat air dan floral, dengan spektrum warna lembut yang selalu berkesan modern. Aplikasi laser cut di sepanjang sisi kerudung juga menjadi trademark atau ciri Buttonscarves. Selain itu, kerudung ini selalu ditampilkan dalam gaya busana yang polish, high-end, dan minimalis, membidik para hijabers yang memang ingin tampil elevated, elegan, dalam bingkai yang modern, aman, dan mudah dipahami. 

Pengalaman dalam selembar kerudung, mulai dari kain yang nyaman 'memahami' apa yang diinginkan hijabers, corak orisinal dan ekslusif, hanya diproduksi dalam jumlah terbatas, kemasan yang berselera tinggi, hingga konsep toko yang sangat fotogenik, menjadi unsur yang selalu dipegang dan dijaga oleh Buttonscarves. 

Ternyata strategi ini berhasil, membuat Buttonscarves mencapai pencapaian demi pencapaian dalam waktu singkat, dan kini menjadi brand kerudung yang sangat digemari. Tampil di beberapa peragaan mode papan atas di Indonesia, membukukan penjualan online yang selalu habis diburu, hingga memiliki ribuan pelanggan yang disebut BSlady yang tersebar di banyak kota di Indonesia. Buttonscarves, merek kerudung yang memulai penjualannya di sosial media pada 4 tahun lalu, kini memiliki 10 toko di seluruh Indonesia yang akan segera berekspansi menjadi 20 toko pada tahun ini, termasuk di Malaysia dan Brunei Darussalam.

Berbeda dengan brand fashion lainnya, Buttonscarves menyasar space yang memang identik dengan pelanggan menengah ke atas; shopping mall terkemuka di kota-kota besar. Strategi ini juga terkait ceruk pasar yang dipilihnya, dengan harga kerudung yang rata-rata lebih tinggi daripada merek lainnya. Selembar kerudung motif Buttonscarves berharga Rp 395.000. 

Thematic Store di Senayan City

Merayakan tahun ke-4 ini, Buttonscarves membuka sebuah toko tematik di Mall Senayan City Unit 8, Lt. 1. Toko istimewa ini dibuka pada tanggal 8 Maret 2020 dan akan berada rencananya hingga 31 Mei 2020. Dirancang dengan gaya monokrom yang hangat, toko ini dirancang dengan tema museum Louvre yang ada di Paris. Ini sebagai selebrasi peluncuran seri kerudung terbaru berjudul 'Louvre' yang memang terinspirasi dari bentuk bangunan yang legendaris ini.

Louvre series mengambil corak dari elemen garis-garis fasad museum Louvre yang memiliki makna independen, bold dan juga smart, corak geometris yang kuat namun ditampilkan dalam 9 warna lembut sesuai karakter Buttonscarves. Material Voal dan Satin Square yang sangat halus, namun tidak licin membuat para BSlady -para pelanggan setia- rela mengantri untuk mendapatkan kesempatan membeli koleksi baru ini, saat pembukaan toko. 

Pemilihan tema -Louvre, Parisian- menjadi unsur krusial dalam pengalaman kerudung Buttonscarves ini. Aspirasi yang merujuk kepada gaya dan selera impian; elegan, minimal, elevated, diwujudkan dalam ruang-ruang yang bisa dinikmati dan diabadikan dalam foto. 


Benang Jarum

Melengkapi deretan kerudung yang bergaya elegan, Buttonscarves juga memperkenalkan lini baru ready-to-wear apparel, Benang Jarum. Sebuah keniscayaan sebuah brand, yang selalu akan melengkapi produk utamanya dengan tona dan gaya yang selaras. Linda Anggrea yang telah beberapa waktu ini mempersiapkan kelahiran Benang Jarum, memperkenalkan Alyssa Hawadi sebagai PR dan Marketing Director dari Benang Jarum. Lini busana ini menawarkan koleksi yang modern, clean cut dan effortless, dalam rentang warna-warna monotone. Benang Jarum hadir sebagai busana yang akan sangat serasi dan 'masuk' dengan corak kerudung Buttonscarves. 

Sebagai debutnya di kancah fashion Indonesia, Benang Jarum mempresentasikan koleksi perdananya di panggung Fashion Nation, Jumat 8 Maret 2020 lalu.


See also:
-- Inspirasi dari Vanilla Hijab untuk Perempuan -- Berbagi Cerita Bersama Halima Aden Sang Supermodel -- Bokitta: Pin-less Wrapped Hijabs for Modern Muslim Women -- Pengalaman Tak Terlupakan di Indonesia Hijab Fest 2019 --

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Karya 6 Desainer Indonesia di Pameran Contemporary Muslim Fashion

Karya 6 Desainer Indonesia di Pameran Contemporary Muslim Fashion

READ MORE
Presentasi Fashion dalam Format dan Kemasan Baru

Presentasi Fashion dalam Format dan Kemasan Baru

READ MORE