Mengekspos Batik dalam Sepotong Busana; Part One Edward Hutabarat

Oleh bang Edo, panggilan familiarnya, presentasi ini bukan tentang fashion, tetapi tentang batik sebagai sebuah mahakarya

Mengekspos Batik dalam Sepotong Busana; Part One Edward Hutabarat

Edward Hutabarat mempunyai cita dan idealisme yang tinggi dalam berkarya, dan ini telah ia buktikan selama bertahun-tahun dalam banyak kreasinya. Selalu berorientasi pada kekayaan budaya Indonesia, Edo -panggilannya- menekankan bahwa generasi-generasi terdahulu kita sudah menemukan dan menciptakan semua kekayaan ini, tugas kita adalah melestarikan dan memberikannya sebuah kemasan baru, yang selalu selaras, mutakhir dengan perkembangan jaman.

Idealisme bahwa kekayaan budaya ini harus bisa seoptimal mungkin dikenal dan diapresiasi oleh masyarakat Indonesia yang hidup pada masa kini, memberikan inspirasi serupa atau bahkan lebih tinggi sehingga identitas budaya Indonesia ini selalu hidup dan berkembang dalam keseharian kita.  Karena itu, unsur kebaruan, sofistikasi dalam presentasinya pun harus ada, seiring dengan generasi kini yang lebih kreatif dan menghargai kreatifitas. 



Pada peringatan Hari Kemerdekaan tahun ini yang merupakan momen akbar bagi Indonesia, Edward Hutabarat telah menyiapkan persembahan istimewa untuk mengekspos kekayaan budaya Indonesia. Ide ini bertemu dengan Senayan City yang juga selalu menghadirkan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia dan juga menyambut ulang tahun Senayan City pada bulan September. Dalam tema besar Glorify Indonesia, Edward menghadirkan Kenduri, sebuah pameran multi-kreatif kekayaan budaya dan seni, yang digelar pada 15 - 25 Agustus 2016. 

Edward yang dikenal sebagai fashion desainer ini ingin masyarakat melihat dan merasakan unsur-unsur kekayaan budaya ini secara lebih substantif, menyeluruh, bercerita secara komplit. Karena itu, Kenduri ini dimaksudkan sebagai ruang kreasi yang didalamnya ada fashion, instalasi bambu, film dokumenter, fotografi, presentasi kuliner dan batik itu sendiri. Edward menganggap batik adalah bagian dari peradaban. Batik bukan fashion, batik telah dan akan terus melengkapi ritual kehidupan orang Indonesia. Inilah yang disebutnya sebagai Batik Journey, karena ada perjalanan dan cerita yang banyak dari sepotong kain batik. Jadi batik journey adalah cerita sebuah peradaban masa lalu dan masa kini. Kali ini, Edward juga menampilkan fashion show dengan batik, tetapi tidak pada tahap menceritakan 'fashion'nya. Ini tentang peradaban Indonesia masa lalu, yang direfleksikan pada masa kini, bagaimana batik ini bisa menghadapi tantangan masa kini dan masa depan.


Edward juga dikenal dengan ciri khas batik motif Sawunggaling, tetapi sebenarnya, ia banyak juga mengeksplor motif-motif lain, seperti motif floral yang beragam. Ketika disebut 'batik Edward Hutabarat', ia dengan tegas meralatnya. "Ini bukan batik Edward Hutabarat, bukan karya saya. Saya hanya bagian dari batik ini. Ini adalah batik Pak Nur Cahyo (artisan batik asal Cirebon), ini batik ibu-ibu pengrajin, batik Go Tik Swan (sebagai pionir motif Sawunggaling), jadi batik karya semua, bersama-sama". 

Pada show di bawah label Part One ini, Edward juga 'menyatukan' batik ini dengan instalasi bambu berbentuk atap rumah gadang, yang selama program Glorify Indonesia ini, menempati area main atrium Senayan City. Instalasi bambu ini adalah karya seniman asal Cimahi, Joko Avianto yang karya-karyanya pernah melanglang buana ke beberapa kota besar dunia. Instalasi ini dibangun dari 1.500 batang bambu tali yang dibentuk menjadi bentukan rumah besar yang kemudian dijadikan 'atap' untuk runway