Semangat Sport Tourism & Leisure dalam Koleksi Desainer NTB

Semangat Sport Tourism & Leisure dalam Koleksi Desainer NTB

Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki salah satu dari 5 destinasi wisata super prioritas yang dicanangkan pemerintah, yaitu Mandalika. Perhatian masyarakat luas tertuju ke destinasi ini, dengan sirkuit internasional Mandalika yang menjadi poros, dan mengangkat komunitas di sekitarnya sebagai industri pendukungnya. Selain kekayaan alam NTB dengan 2 pulaunya, Lombok dan Sumbawa yang telah terkenal indah dan eksotis. 

Pemerintah Nusa Tenggara Barat, melalui Dekranasda NTB juga mendukung upaya pemerintah untuk mewujudkan Indonesia sebagai pusat fashion muslim Internasional, selaras dengan demografi daerah, budaya dan masyarakatnya yang islami. 

Hal ini menjadi latar belakang keikutsertaan Dekranasda NTB pada event Muslim Fashion Festival + (MUFFEST+) 2022, dengan mengajak 6 desainer berpartisipasi dalam memamerkan koleksinya. Mengusung tema besar yang sangat lekat dengan industri yang sedang berkembang pesat di NTB, yaitu sport & leisure tourism. Tema yang menarik sekaligus menantang, karena para desainer harus meleburkan semangat sport & leisure ini dalam busana muslim, yang tertutup, sekaligus mengangkat wastra NTB yang memiliki karakter dan sejarah kuat, dengan tenunnya. 

Andre Manangga - Asal 

Pesan ini diwujudkan secara pas dan mengena oleh para desainer. Andre Manangga dengan brand Naqlaqi menceritakan ketangkasan para joki cilik yang beradu kecepatan mengendalikan kuda pacuan dalam sebuah permainan tradisional bagi masyarakat Suku Samawa di Sumbawa. Menginterpretasikannya dalam sebuah koleksi busana pria ready-to-wear yang loose dan ringan dengan memadukan tenun khas Sumbawa motif Bintang Salapat dan Bintang Kesawir.

Bergaya leisure dan resort yang kental, menggunakan bahan tenun Kembang Kerang dari Lombok Timur, desainer Asal menyajikan koleksi wanita yang terlihat chic, bertumpuk namun tidak tampak berat. 

 

Dhiah Kahar - Ferry Koencoro

Linda Hamidy Grander

Pantai Kaliantan yang belum terjamah menjadi inspirasi dari Dhiah Kahar, dengan warna-warna spesifiknya, putih, abu dan biru. Perpaduan bahan linen dan katun dengan wastra yang diusung, yaitu tenun gedokan berbahan katun dari desa Kembang Kerang Kabupaten Lombok Timur menjadi kekuatan koleksi ini. Terutama motif tenun yang disebutnya sebagai motif pagar, kembung kempes, dan Rang Rang Bintang.

Ferry Koencoro mengangkat tenun Pringgasela untuk koleksi prianya, tenun yang sudah diolah sehingga menjadi bahan yang ringan, digunakan sebagai kemeja, celana dan syal, sesuai untuk gaya staycation yang mudah ditemui di pulau Lombok. 

Linda Hamidy Grander, seorang desainer berpengalaman asli Lombok, membawa koleksi Sweet Summer Breeze, yang terinspirasi dari warna-warna hangat saat sunrise menyapa dan ketika langit mulai meredup kala sunset. Diwujudkan dengan perpaduan beberapa kain songket dari Lombok Tengah dengan kombinasi katun dan linen. Mengangkat look bentuk geometri dari baju tradisional suku Sasak; Baju Lambung.

See also:
-- Ulos Bergaya Edgy Minimalis - Jenahara Black Label -- Padu Padan ala Librarian dari Up2date Plus -- Modest Fashion Highlights in 2016 (part 1) -- Pergelaran Koleksi Shafira Sebagai Sorotan Utama di IFW 2017 --

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

The Force is With Danjyo Hiyoji x Lucky Trend!

The Force is With Danjyo Hiyoji x Lucky Trend!

READ MORE
Koleksi Sejauh Mata Memandang, Memberi Nafas Baru untuk Kain

Koleksi Sejauh Mata Memandang, Memberi Nafas Baru untuk Kain

Koleksinya istimewa ini baru saja ditampilkan dalam Dewi Fashion Knights, Jakarta Fashion Week 2021

READ MORE