Tenun Kamooru dari Sulawesi Tenggara olahan Wignyo Rahadi

Menenun telah menjadi kegiatan turun-temurun di Desa Masalili, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra). Sampai saat ini, Desa Masalili menjadi sentra produksi kain tenun tradisional khas Muna. Hampir setiap rumah di Desa Masalili menghasilkan kain sarung tenun yang dikenal dengan istilah Kamooru. Masyarakat Muna mempercayai bahwa untuk menenun Kamooru harus dengan jiwa yang bersih dan tenang. Jika tidak, penenun akan kesulitan merangkai motif yang memang cukup rumit dan sarat makna filosofis. Tenun asal Masalili identik dengan motif garis-garis dan warna terang seperti kuning, oranye, dan hijau.

Dengan didukung oleh Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara, desainer Wignyo Rahadi melakukan pengembangan terhadap kerajinan tenun di Desa Masalili, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara. Tenun hasil pengembangan tersebut diaplikasikan oleh Wignyo dalam rangkaian koleksi bertema Kamooru. Ragam motif tenun yang digunakan adalah motif Kaholeno Ghunteli dan Panino Toghe, yaitu motif tenun yang biasa dipakai masyarakat umum untuk aktivitas keseharian; motif Bhia Bhia yang kerap dipakai perempuan yang belum menikah; motif Dhalima yang umumnya dipakai kalangan bangsawan untuk upacara adat perkawinan.

  

Koleksi modest fashion dengan material kain Kamooru ini dipresentasikan pada panggung Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2019 hari pertama, Rabu 1 Mei 2019. Wignyo menerapkan inspirasi gaya busana Retro dengan menonjolkan permainan cutting yang bervolume, seperti model lengan setali, celana harem, rok draperi, dan dress aksen tumpuk, dilengkapi hijab model capuchon. Tenun Masalili dengan dominasi turunan warna hijau dipilih dengan kombinasi tenun Lurik dan tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) corak Sobi dan Bintik yang menjadi ciri khas tenun ATBM produksi Tenun Gaya. Sentuhan ornamen tumpuk, draperi, dan asimetris turut menjadi daya pikat koleksi dari olahan tenun dari Masalili.

  

Wignyo Rahadi, desainer senior pemilik brand Tenun Gaya, selama ini memang dikenal konsisten mengembangkan desain tenun ATBM, yang mengambil inspirasi dari berbagai daerah di Indonesia yang memiliki tradisi dan wastra tenun. Inovasi dilakukan baik dalam motif, material hingga pengolahan sebagai busana siap pakai, sehingga busana tenun dapat diterima oleh banyak pihak. 


Tags

please login to comment.

RELATED NEWS

7 Model Berhijab di Paris Fashion Week 2019

7 Model Berhijab di Paris Fashion Week 2019

READ MORE
In-House Label Yogya Department Store Pamerkan Koleksi Baru di Fashionality 2018

In-House Label Yogya Department Store Pamerkan Koleksi Baru di Fashionality 2018

Yogya Department Store memiliki beberapa in-house fashion label yang siap bersaing dengan merek lainnya di pasaran, membuktikan keunggulan kompetitif fashion dalam negeri.

READ MORE