Critical Thinking for Media, Kritik dan Rekomendasi Anak terhadap Media

Bagaimana wajah media kita, terutama televisi yang kehadirannya memenuhi ruang-ruang keluarga Indonesia secara dominan. Teknologi Internet dan mobile phone bisa jadi memang sudah menggeser budaya TV, di kota besar saja. Tapi sebagian besar masyarakat Indonesia lainnya masih sangat bergantung pada televisi saluran lokal, sebagai hiburan dan media informasi sehari-hari.

Keprihatinan terhadap materi siaran TV sudah lama mengemuka, diutarakan oleh tokoh pendidikan, KPI, orangtua, dan elemen masyarakat lainnya. Siaran TV dipandang masih sarat dengan materi yang tidak mendidik, mengandung unsur kekerasan, eksploitasi, dan waktu siar yang tidak pas. Salah satu korbannya adalah anak-anak, yang biasa menghabiskan waktu berjam-jam menonton TV. 

Ternyata bukan hanya orang dewasa lho yang mengamati dan merasa 'ada yang salah' dengan materi siaran TV kita. Seperti yang dilakukan oleh adik-adik anggota Congrezz Kid dari Kidzania. Selama 3 Hari berturut-turut, anggota Kidzania Kongrezz mengadakan sidang khusus untuk membahas hal ini, dalam tema besar Critical Thinking for Media. 



Pada hari pertama, adik-adik yang telah terpilih sebagai anggota Kidzania Kongrezz untuk masa 2 tahun ini bersidang untuk menganalisis berbagai siaran media TV, baik karya jurnalistik maupun konten hiburan, edukasi, dan konten TV lainnya. Sebagian besar konten ini berasal dari chanel TV Indonesia. Di awal sidang peserta kongres menonton siaran yang telah dipilih maupun secara acak. Kemudian melakukan analisis bersama-sama, bagaimana kandungan siaran, jam tayang, dan dampaknya terhadap anak-anak. Dalam analisis ini terlihat sekali bahkan anak-anak yang masih duduk di kelas 5-6 Sekolah Dasar sudah bisa mengidentifikasi mengapa sebuah tayangan ini buruk atau baik. Pada segmen tersebut juga terlihat bahwa banyak tayangan hiburan di Indonesia yang diputar di jam-jam utama (saat anak-anak masih menonton TV) masih mengandung unsur yang tidak mendidik, seperti kata-kata kasar dan ejekan, ujaran provokatif, pelecehan, dandanan tidak sesuai gender, yang rawan ditiru oleh anak-anak. 

Pada hari kedua, anggota KidZania Congrezz mengikuti pelatihan jurnalisme dasar dari praktisi media, dan pelatihan leadership skills dari pakar komunikasi. Hasil dari rangkaian kegiatan ini dituangkan dalam laporan rekomendasi kongres yang selanjutnya disampaikan kepada beberapa pihak terkait, termasuk ke kedutaan besar di Jakarta.

Seluruh program Critical Thinking for Media ini bertujuan agar anggota kongres, dalam hal ini anak-anak dapat memberikan aspirasi dan kontribusinya terhadap media di Indonesia, dan didengar oleh para petinggi media yang bersangkutan untuk bisa mewujudkan tayangan yang lebih mendidik dan menghibur, yang bermanfaat dan sesuai untuk anak-anak. 

Anak-anak ini sudah berkontribusi, bagaimana dengan kita?



Tags

please login to comment.

Filia Kartika Dewi

ini baru keren, semoga kelak mereka adalah aset2 calon pemimpin media yang baik untuk masyarakat Indonesia


RELATED NEWS

5 Tahun Orami, dari E-commerce Hingga Jadi Rujukan Semua Kebutuhan Ibu

5 Tahun Orami, dari E-commerce Hingga Jadi Rujukan Semua Kebutuhan Ibu

READ MORE
Street Style Wear for Kids: ToffTop8

Street Style Wear for Kids: ToffTop8

READ MORE