Batik Pewarna Alam Bisa Jadi Produk Unggulan Indonesia

Batik pewarna alam mempunyai keunggulan dibanding batik biasa karena lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan (sustainable) sehingga bisa menjadi produk unggulan Indonesia di pasar internasional.

​Batik dengan pewarna alam merupakan cikal bakal pembuatan batik di Indonesia, sebelum masyarakat mengenal pewarna kimia. Makin lama keberadaannya makin tergusur seiring dengan populernya batik di Indonesia, karena pewarna kimia yang lebih mudah didapat, lebih praktis dan menjadikan harga produksi batik lebih murah. Tetapi beberapa tahun terakhir beberapa pembatik mulai mempopulerkan kembali batik berpewarna alam, dan kini sudah tak sulit lagi menjumpainya di pasaran.

Batik pewarna alam memiliki ciri khas warna-warnanya yang redup -tidak bisa berwarna cemerlang- berkesan agak kusam tetapi ini justru merupakan pesona dan keunikannya. Batik ini juga tidak bisa diterapkan pada semua material, hanya kain-kain tertentu yang bisa menyerap warna-warna alam dengan baik. Semakin baik sosialisasi batik pewarna alam ini, makin banyak pula konsumen yang menggemarinya, dan membuka pasar tersendiri bagi pencinta batik.

Batik warna alam ini yang menjadi tema dan sorotan pada Gelar Batik Nusantara 2017 yang diselenggarakan pada tanggal 7 – 11 Juni 2017  bertempat di Assembly Hall, Cendrawasih dan Main Lobby Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta. Diorganisir oleh Yayasan Batik Nusantara, suatu yayasan yang dibentuk sebagai lembaga nirlaba yang merupakan wujud dari persamaan kehendak para pecinta, pengrajin, pengusaha dan pemerhati batik serta dijiwai oleh semangat Sumpah Pemuda juga merupakan mitra kerja Pemerintah dalam mengembangkan, melestarikan dan membina pengusaha/pengrajin batik nasional.


 

BATIK telah menjadi  icon Indonesia, batik merupakan budaya bangsa Indonesia yang sudah diakui UNESCO pada tanggal 30 September 2009 sebagai salah satu warisan budaya tak benda bangsa Indonesia.  Penggunaan batik berbahan  serat dan pewarna alami, merupakan bukti perpaduan  dan pemanfaatan  keanekaragaman hayati yang akan berdampak pada pelestarian keanekaragaman hayati dan pendapatan ekonomi  masyarakat.

Berbagai upaya untuk mempromosikan dan mengembangkan batik dan kerajinannya di dalam negeri, telah semakin meningkat dan beragam. Salah satunya adalah penyelenggaraan Gelar Batik Nusantara (GBN) yang dilaksanakan sejak 1996 oleh Yayasan Batik Indonesia. Setelah sukses menyelenggarakan pada tahun tahun sebelumnya, Tahun 2017 Gelar Batik Nusantara kembali akan ditampilkan untuk ke-10 Kalinya.  


 


Pada GBN kali ini, masyarakat bisa melihat, memperoleh pengalaman dan mengetahui lebih jauh mengenai batik pewarna alam melalui para produsen dan pembatik warna alam yang berpameran disana, juga melalui panggung edukasi dan talkshow yang diadakan setiap hari. Pada event tersebut juga dijelaskan, bagaimana proses pembuatan pewarna alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti buah manggis, mengkudu, soga, kunyit, daun jambu, secang, dan yang paling populer, daun indigo untuk memperoleh warna biru.

Selain itu proses pembuatan batiknya pun lebih memakan waktu daripada batik biasanya. Proses pencelupan harus dilakukan secara berulang-ulang, misalnya untuk menghasilkan warna batik biru putih saja kain perlu dicelup sebanyak 15-20 kali untuk mendapat warna biru yang kuat melekat pada kain sehingga tidak luntur ketika dicuci. Beda dengan batik berpewarna sintetik yang hanya perlu pencelupan sebanyak 1-2 kali. Pewarna alami ini juga harus melewati proses fermentasi sehingga menghasilkan bau yang cukup khas. 

Menurut Nita Kenzo, ketua Yayasan Batik Indonesia, apresiasi pada batik berpewarna alam bukan saja pada bahan pewarna alaminya, tetapi juga ragam motif batiknya. Kualitas batik bukan hanya pada warna dan proses pencelupannya, tapi justru proses membatiknya yang lebih menentukan. Karena itu pembatik warna alam juga harus mampu untuk menciptakan motif-motif batik yang menarik dan berkualitas.

Batik pewarna alam juga kini menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mempopulerkan batik Indonesia ke dunia Internasional, karena produk ini lebih sustainable dan ramah lingkungan sehingga lebih mudah diterima secara luas, dimana kesadaran akan sustainable product sudah semakin tinggi. Untuk pertama kalinya, Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) juga berpartisipasi dalam GBN 2017 ini untuk lebih mendorong industri batik Indonesia, terutama batik pewarna alam.


please login to comment.

RELATED NEWS

Menemukan Kembali Keragaman & Keindahan Tenun Indonesia dalam 'Warna Alam'

Menemukan Kembali Keragaman & Keindahan Tenun Indonesia dalam 'Warna Alam'

READ MORE
Batik & Tenun Yang Bergaya dari [bi], Jarit, Dru dan Carmel

Batik & Tenun Yang Bergaya dari [bi], Jarit, Dru dan Carmel

READ MORE