Awesome! 94 Busana Inspirasi Sarung + Ethnic dari Phillip Iswardono

Hari ke-tiga Jogja Fashion Week 2016 menjadi yang paling ditunggu penggemar fashion di Jogja, dengan ekspektasi dan antusiasme luar biasa, karena pada hari ini digelar satu-satunya show tunggal di JFW 2016, yaitu ‘Ethnicode’ dari desainer Phillip Iswardono. Ini adalah show tunggal pertamanya setelah 5 tahun Phillip eksis dengan label busananya. Ethnic Code pada dasarnya berupaya untuk menerjemahkan kode-kode dalam kain-kain etnik Indonesia, terutama lurik yang telah menjadi kekuatan desainnya. 

Dengan inspirasi utama yaitu Sarung (atau Sarong dalam istilah globalnya) yang selama beberapa tahun ini telah dijadikan sebuah ‘style movement’ oleh beberapa desainer Indonesia sebagai gaya yang sangat identik dan berciri Indonesia. Pemakaian sarung yang selama ini lebih berasosiasi dengan busana para santri dan tradisi, padahal pada kenyataannya di sarung sangat versatile dan praktis untuk digunakan sehari-hari. 



Phillip ingin memberikan warna baru dalam karyanya dengan gaya sarung yang berbeda. Kreasi sarung yang sangat modern ini menggunakan kombinasi kain tenun dan batik untuk lebih menghidupkan tema Ethnic Code. Pada show tunggalnya ini, tidak tanggung-tanggung Phillip menampilkan 94 outfit (!) yang terbagi menjadi 2 sesi. Jumlah busana yang terhitung sangat banyak untuk sebuah pagelaran show tunggal. Meskipun demikian, show ini mampu memukau penonton karena kreasi dan tampilannya yang segar dan penuh kejutan dalam koleksinya. 

Sesi pertama bertajuk ‘Colorful’ yang banyak bermain warna cerah seperti merah, hijau, putih, biru dan warna basic sebanyak 40 outfit. Dilanjutkan dengan sequence dua ‘Black & White’ yang menampilkan dominasi warna hitam, putih dan biru donker. Koleksi pada sequence ini menggunakan batik kelengan khas Jogja dengan kombinasi lurik menjadi kemasan busana yang lebih elegan. Dress, outer, sarung dan blus digabung sehingga tampilan akhirnya terlihat ramai namun selaras dan tidak terlihat too much/berlebihan. Benar-benar paduan etnik yang segar!

 Phillip tetap dengan konsep busana ready to wear yang cenderung casual, maka seperti kekuatannya selama ini, 3 kunci gaya yang ia terapkan adalah loose (longgar), draperi dan layering. Gaya tumpuk menjadi sebuah ‘adventure’ tersendiri untuk mix n match dalam satu look, seperti sarung yang dipadukan dengan blus draperi dan di finishing dengan outer, jaket atau vest.


Untuk baju pria, Phillip memadukan kain lurik dengan model baju tradisional Jepang kimono, dan juga kreasi siluet busana Shanghai bernuansa hitam yang mana nampak elegan dipandang. Tidak hanya koleksinya saja yang nyaman dinikmati, pada show tunggal ini Phillip merumuskan sesuatu yang istimewa pada konsep makeup yang bertema kekaisaran China, dengan mempertajam pulasan warna di area mata, pipi, dan bibir, serta hairdo yang senada. So much fun! 

Untuk material, kain Lurik yang selalu menjadi signaturenya, berpadu dengan kain Tenun Troso Jepara, Tenun Goyor Sukoharjo, Tenun Tanimbar dan Batik Kelengan khas Yogyakarta.


Perancang yang sangat serius dengan kreasi kain Lurik ini mencoba untuk memberikan warna baru dalam berkreasi dengan gaya sarung. Sarung dikreasikan agar lebih bervariasi, lebih edgy, modern dan urban serta berselera global tanpa meninggalkan akar kekayaan busana asli indonesia dengan menggunakan kain-kain khas indonesia.

Phillips mendapatkan ide yang tak terbatas dalam pengolahan hasil karyanya itu. Gaya busana yang diciptakan juga sangat orisinil dan individual. Mengenai harapannya, Philip ingin sarung menjadi busana yang modern dan trendi secara universal, namun tetap mencerminkan budaya khas Indonesia.


Tags

please login to comment.

RELATED NEWS

Print Ikonis Morris & Co untuk H&M Musim Ini

Print Ikonis Morris & Co untuk H&M Musim Ini

H&M membawa desain print terkenal untuk musim gugur ini dengan koleksi hasil kolaborasi unik dengan Morris & Co

READ MORE
Lini Produk Terbaru Wakai; Seiryoku

Lini Produk Terbaru Wakai; Seiryoku

READ MORE