Your Everyday Staple Fashion Item; Sarung!

Your Everyday Staple Fashion Item; Sarung!

Sarung itu Indonesia banget! Saya rasa kita semua pasti setuju, karena cuma di Indonesia, setiap rumah pasti memiliki sarung untuk bermacam kebutuhan mulai dari beribadah, sebagai pakaian, alas tidur, hingga penghangat tubuh. Indonesia itu identik dengan sarung karena memang sarung sudah dipakai secara turun temurun dan lekat dengan sejarah budaya bangsa kita. Hampir semua daerah atau suku di Indonesia memiliki ragam sarungnya sendiri, seperti halnya kain nusantara. Sejak dahulu hingga masa pra-kemerdekaan sarung jamak dipakai oleh kaum laki-laki dalam berbagai aktivitasnya, bahkan dipakai saat berjuang melawan penjajah. Pemuda Indonesia menggunakan sarung untuk menunjukkan perlawanan dan identitias sebagai bangsa Indonesia.

Selepas Indonesia merdeka, terjadi pergeseran selera berbusana -terutama laki-laki- yang dipelopori oleh Presiden Soekarno dengan setelan jas dan celana yang lebih berselera Internasional. Sejak saat itu, sarung mulai ditinggalkan sebagai busana di ruang publik, hanya peci hitam yang masih tetap digunakan, yang erat menunjukkan simbol kaum nasionalis. Hanya kaum santri yang masih konsisten menggunakan sarung untuk segala aktivitasnya. Ini juga dipengaruhi oleh kebiasaan para Sunan dan Wali yang menjadi panutan utama bagi kaum muslim dan para santri di daerah Jawa. 

Meskipun demikian, budaya 'sarungan' ini tetap kental di hampir semua daerah di Indonesia, bahkan di beberapa daerah kita bisa melihat sarung dipakai hampir semua kalangan seperti di Sulawesi Selatan atau Nusa Tenggara. Tetapi melihat 'wajah' Indonesia modern, di daerah publik urban atau perkotaan -wajah yang sering diperlihatkan kepada dunia untuk menunjukkan modernitas Indonesia-, sarung seperti tidak mendapat tempat. Sarung sepertinya masih diasosiasikan bukan sebagai busana ruang publik.

Sekitar 6 tahun lalu, sekelompok desainer yang tergabung dalam sebuah asosiasi perancang busana memperkenalkan kampanye 'Sarung is My New Denim', gerakan untuk membuat kita semua, masyarakat Indonesia kembali menggunakan sarung untuk berbagai kesempatan setiap hari. Sarung dipakai layaknya denim, yang sangat praktis dan mampu beradaptasi, mudah dipadupadankan untuk menciptakan berbagai gaya. Untuk itu, mereka menyadari bahwa tidak mungkin sarung bisa menggantikan denim dengan bentuk dan tampilannya yang 'apa adanya' sarung yang kita kenal; kain berbentuk tubular (tidak berujung) dan biasanya bermotif kotak-kotak.

Para penggerak fashion ini menyadari bahwa untuk 'mengangkat' kembali busana ini -agar masyarakat bisa melihat bahwa sarung memang praktis layaknya denim-, harus ada pembaruan dan modifikasi baik bentuk maupun cara pakainya. Pada saat itu, para desainer ini memperlihatkan kepada kita bahwa Indonesia sangat kaya akan ragam sarung. Tidak hanya sarung konvensional kotak-kotak seperti yang sering dipakai untuk sholat. Masih banyak sekali tampilan sarung yang berasal dari beragam kain nusantara, mulai dari batik, tenun, ikat, dengan bermacam material. 

Desainer pun mulai memodifikasi sarung sehingga makin praktis dipakai dengan cara pemakaian yang berbeda-beda pula, sehingga kita memiliki banyak pilihan. Tidak hanya yang berbentuk tubular, dengan bahan kain panjang atau pendek pun bisa diolah. Jadi yang ingin ditekankan adalah look-nya, tampilan sarung yang memang berpotensi menjadi identitas fashion Indonesia. 

Dan kini, para desainer pencetus 'Sarung is My New Denim' ini masih terus konsisten untuk menyebarluaskan kampanye ini. Mereka yang kini tergabung dalam Indonesian Fashion Chamber (IFC) -sebuah organisasi fashion yang mewadahi para desainer dan pelaku industri fashion- makin optimis bahwa sarung bisa menjadi identitas bangsa Indonesia yang kuat. Pada event tahunan IFC yang sekaligus menjadi wadah berkumpulnya seluruh member dan pelantikan anggota baru IFC, sarung menjadi highlihgt dan dresscode selama rangkaian acara berlangsung. 

Ali Kharisma dan Dina Midiani, Chairman dan Advisory Board IFC National menyampaikan bahwa sarung kini bisa menjadi sebuah fashion item sehari-hari, praktis dan sangat versatile. Sarung bisa distyling dengan banyak cara, sehingga masih bisa menyesuaikan dengan karakter personal pemakaianya. Bagi laki-laki, masih terlihat maskulin, dan begitupun bagi wanita looknya bisa terlihat feminin, ataupun bergaya androginy. Ini dibuktikan oleh para desainer IFC, yang menggunakan sarung (atau kain) dengan beragam corak dan gaya. Selain itu, merekapun ikut mendesain dan memproduksi sarung sebagai fashion item, sehingga masyarakat bisa mendapatkan sarung (dengan look non-konvensional) dengan mudah.

 

Masih ragu untuk bergaya dengan sarung sehari-hari untuk berbagai aktivitasmu? Look at these designers with their personal style, and be inspired!


Sukriyah (IFC Banda Aceh), Dwi Iskandar (IFC Denpasar)

  

Lisa Fitria (IFC Jakarta), Wening Angga (IFC Jogja)

  

Sav Lavin (IFC Jakarta), Asdar Habib (IFC Makasar)

please login to comment.

RELATED ARTICLES

riamiranda on Muffest 2016; Challenging Its Comfort Zone

riamiranda on Muffest 2016; Challenging Its Comfort Zone

READ MORE
'Indonesia Tren Forecasting', Langkah Perdana Mendokumentasikan Proyeksi Tren Tahunan

'Indonesia Tren Forecasting', Langkah Perdana Mendokumentasikan Proyeksi Tren Tahunan

READ MORE