Ubah Latte Factor-mu Jadi Emas

Es kopi susu memang kekinian dan membuat ketagihan, tapi jauh lebih keren kalau kamu (juga) #PunyaSimpenan Emas.

Ubah Latte Factor-mu Jadi Emas

Saya, kamu, kita, yang berada dalam rentang usia generasi milenial, kelompok usia produktif terbesar di Indonesia sekarang. Pernahkah memperhatikan perbedaan perspektif dalam pengelolaan keuangan dan investasi dengan orang tua kita? Banyak sekali dibahas, bahwa milenial kurang berminat pada instrumen investasi seperti properti, saham, deposito atau logam mulia.  

Menurut laman Cermati.com, fakta berdasarkan survei terhadap 7000 milenial, 69 persen dari generasi ini masih belum melakukan atau memiliki strategi investasi. Ini tentu bisa sangat berhubungan dengan pergeseran gaya hidup dan pola konsumsi milenial, yang kini lebih senang menghabiskan uangnya untuk pengalaman (experience). Liburan, traveling, menonton konser dan hiburan lainnya, hingga kuliner. Apalagi didukung dengan aplikasi online yang bisa memenuhi semua kebutuhan (dan keinginan) tersebut.

Pola konsumsi berbasis kesenangan dan pengalaman ini, tidak hanya menyangkut pengeluaran besar dan terencana, tetapi juga pengeluaran-pengeluaran kecil yang kita lakukan sehari-hari. Kedai kopi susu kini bertebaran di mana-mana, dan ajaibnya, sekarang saya bisa jajan kopi susu sehari satu kali, sesuatu yang tidak terjadi 10 tahun lalu. Pengeluaran kecil rutin dan sporadis sehari-hari, yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat dan bisa ditiadakan inilah yang disebut latte factor. Bukan cuma kopi -mengacu pada asal istilah tersebut-, jajan, belanja online, makan di mal, dan lain-lain termasuk dalam latte factor. Semua orang pasti memiliki latte factor-nya masing-masing (kalo saya jelas sih, kopi susu!)

Kelihatannya sih kecil, cuma 20ribu -bayarnya pun nggak kerasa, karena pakai uang elektronik di handphone-, tapi dalam satu bulan, ternyata pengeluaran untuk kopi susu saja mencapai 600ribu! 

Sampai ketika kita dihadapkan pada pertanyaan, apakah kita sudah punya investasi, atau dana darurat deh yang merupakan simpanan yang bisa sewaktu-waktu dicairkan. Padahal, dana darurat ini wajib ada lho, apabila sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang kita tidak bisa hindari, seperti kecelakaan, keluarga yang tiba-tiba sakit, atau harus kehilangan pekerjaan. Jumlah dana darurat ini idealnya untuk lajang adalah 6 kali pengeluaran bulanan, dan 12 kali untuk yang sudah berkeluarga. 

Dana darurat bisa dalam bentuk apa sih? Tabungan di bank, pasti yang pertama kali terpikirkan. Tapi tahu nggak sih, kalo ada instrumen lain yang lebih menguntungkan. Emas! Sudah tahu kan, emas ini bisa menjaga nilainya sendiri, artinya tidak akan tergerus inflasi. Jadi, emas selain untuk dana darurat, juga bisa sekalian sebagai instrumen investasi. Tapi, beli emas kan susah, mahal, dan tidak praktis? That's probably true, in the past!

Kalau dulu beli emas mesti ke toko emas, gerai emas resmi atau pegadaian, sekarang beli emas sih bisa online. Dan kerennya, sekarang beli emas tidak harus mahal. Bahkan hanya dengan 20 ribu (seharga atau lebih murah dari segelas kopi susu kekinian) kita sudah bisa beli emas lho. 


Coba kenalan dulu dengan aplikasi keren ini, namanya Treasury. Platform jual beli dan penyimpanan emas batangan -bukan emas perhiasan ya- yang bisa kita temui di website treasury.id maupun aplikasi mobile-nya. Di aplikasi ini, kita bisa melihat harga emas on the spot, yang diupdate terus setiap detiknya. Jadi harga yang terlihat adalah harga emas real time, yang memang selalu berubah dari waktu ke waktu. Emas hingga saat ini merupakan instrumen investasi yang paling aman, karena harganya selalu naik dalam jangka panjang.

Di aplikasi Treasury ini, kita bisa membeli emas mulai dari 20 ribu, dan transaksinya pun mudah, seperti belanja online biasa. Kita bisa membeli emas sedikit demi sedikit, dan kita bisa mencetak dan menerima emas yang kita simpan jika telah mencapai minimal 0.5 gram. 

Bayangkan kalau jajan kopi susu setiap hari tadi kita alihkan untuk beli emas di Treasury. Dalam satu bulan saja, kita bisa menabung hampir 1 gram emas! Untuk membuktikannya, saya sudah mencoba 'tantangan' ini. Saya bertekad mengurangi jajan kopi susu di kedai atau lewat delivery, sebagai gantinya saya bikin sendiri es kopi susu di rumah (ya, ternyata memang segampang itu). Saya memasang aplikasi Treasury pada bulan April 2019, dan memulai membeli emas pertama saya saat harga 1 gramnya Rp 603.000. Dan hari ini (19/7) harganya sudah mencapai Rp 665.000. Well, meskipun belum bisa rutin 'nyicil' beli emas, sekarang simpanan emas di Treasury saya sudah/baru mencapai 3.985 gram. Not bad, bukan? 

Oh ya, jangan ragu untuk membeli dan menyimpan emas di Treasury, karena platform ini telah menjadi anggota AFTECH (Asosiasi Fintech Indonesia), dan sudah dalam proses pencatatan untuk mendapatkan ijin dari Otoritas Jasa Keuangan. Untuk lebih jelasnya, kamu bisa langsung download aplikasinya, atau cek di www.treasury.id, supaya bisa segera #PunyaSimpenan Emas. 

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES