Telling Series of Unfortunate Events on 'Confide'

Telling Series of Unfortunate Events on 'Confide'

Bagaimana bila seorang seniman mencurahkan seluruh perasaan dan pikirannya dalam serangkaian karya lukisan? Karya seni memang lebih kurang adalah ungkapan atau ekspresi pribadi penciptanya, tetapi pada pameran tunggal pertamanya kali ini, Atreyu Moniaga seperti mencurahkan segalanya, dalam rentang waktu yang serba gamang yang baru dilaluinya. Atreyu yang memiliki gaya lukisan ilustrasi fantasi yang misterius dan sentimental, mencurahkan isi hati dan kepalanya melalui rangkaian sembilan lukisan, yang dibuatnya sejak Oktober 2019 hingga awal 2020. Dan dirangkum dalam pameran tunggal berjudul Confide, ia ingin berbisik dan mempercayakan ceritanya kepada para audiens.

penggalan 'Dream Diver'

Pameran tunggal ini digelar di laman Kohesi Initiatives (kohesiinitiatives.com/borderless ) yang memang menciptakan sebuah platform presentasi online bernama Borderless, bagi para seniman untuk memamerkan karya mereka di tengah segala keterbatasan di masa pandemi ini. Platform ini dibuat sedemikian rupa sehingga para pemirsa karya seni masih tetap bisa menikmati pengalaman yang menyeluruh dan memuaskan meskipun secara daring.

Sembilan karya lukisan cat air diatas kertas, rata-rata berukuran 180 x 80 cm ini dibuat dalam situasi emosi dan eksternal yang cukup menantang bagi sang seniman. Kesembilan karya ini berbeda-beda dan tidak berhubungan secara kisah, tetapi memiliki alur teknik yang cukup menyatu. Dibuka dengan sebuah lukisan berjudul 'Dream Diver', tentang seorang gadis buta yang mampu menyelami isi mimpi seseorang. Sebuah tema yang rasanya sangat 'masuk' dengan kompleksitas gaya lukis Atreyu. 

  

Superstitious - Whispering Death (both 2020, watercolor on paper)

Kemudian dalam beberapa lukisan selanjutnya, ia benar-benar merefleksikan situasi yang dialaminya. Tidak menyenangkan, -secara umum- dan kita bisa menangkap kemuraman dan kesedihan yang mengganggu, seperti dalam 'Whispering Death' dan 'Sacrifice of The First Born'. Whispering Death menceritakan tentang bagaimana series of unfortunate events yang ia alami berakibat pada hadirnya ketakutan-ketakutan, kecemasan dan berbagai bisikan yang menghantui dalam dirinya. Ini menjadi karya yang ia benar-benar ingin menyudahinya, seakan-akan dengan menggambarnya di atas kanvas ia akan dan bisa melepaskan semua hal tersebut. Begitu juga dengan 'Sacrifice of The First Born', tentang seorang teman dekatnya yang mengalami musibah yang berhubungan dengan hutang keluarganya. 

Lukisan demi lukisan Atreyu ini layaknya menggambarkan apa yang dirasakan oleh banyak orang di tahun 2020 ini, yang sedikit banyak merasakan penderitaan akibat kejadian demi kejadian yang tidak terduga. Sudah selayaknya dan alaminya sebagai manusia kita banyak melakukan muhasabah dan refleksi, juga mendekatkan diri pada satu-satunya yang bisa menjadi tempat bersandar kita. Karya penutup Atreyu yang berjudul 'The Jokes on Us', dengan badut yang terlihat sebagai objek utama lukisannya, merangkum hal tersebut dengan sangat apik. Betapa kita, banyak sekali orang-orang dan para ahli yang sebelumnya membuat berbagai prediksi, tren masa depan, apa yang akan terjadi dan bagaimana dunia berubah menurut prediksi mereka. Semuanya dengan sangat gamblang dijungkitbalikkan oleh sang Pemilik kekuatan saat ini. Bagaimana kita sebagai manusia disadarkan bahwa kita adalah makhluk yang sangat rapuh, sangat kecil.  


See also:
-- Kapten John, Dari Lukisan Sutra ke Mural -- Melihat 12 Karya Favorit Artjog 2018 -- Kebudayaan dalam Bungkus Tusuk Gigi -- Ekspresi 'OPERASI' dari Rachman Muchamad --

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Me and My Monkey Mind, Enter Your Peaceful Mind

Me and My Monkey Mind, Enter Your Peaceful Mind

READ MORE
FKY, Pesta Seni Orang (Muda) Jogja

FKY, Pesta Seni Orang (Muda) Jogja

READ MORE