Successful Virtual Schooling in This New Normal

Successful Virtual Schooling in This New Normal

Tahun ajaran baru dimulai pertengahan bulan Juli ini, dan sebagian besar satuan pendidikan memulai pembelajaran dengan virtual schooling, atau belajar dari rumah. Setelah mengumumkan bahwa hingga akhir tahun ini, sekolah yang berada di zona kuning, oranye, dan merah harus tetap melanjutkan sekolah secara virtual, Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan baru-baru ini juga mengumumkan bahwa sistem sekolah secara virtual hybrid akan diterapkan permanen di Indonesia, dan telah meminta guru dan orang tua untuk beradaptasi.


Apa artinya bagi orang tua? Setiap orang tua pastinya menginginkan yang terbaik bagi anaknya dan akan melakukan apapun untuk memastikan hal tersebut. Saat ini, dengan tersedianya begitu banyak pilihan, mungkin saja orang tua mengalami kesulitan dalam memilih sekolah yang bisa membantu membentuk dan mempersiapkan anak menghadapi tantangan di abad ke-21.


Berikut adalah beberapa hal yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para orang tua untuk memilih sekolah yang tepat. 


Sekolah virtual yang mengasah keterampilan 5C


Satu hal yang perlu diingat dan tidak boleh dilupakan adalah pentingnya memadukan keterampilan abad ke-21 yang sangat berperan dalam pembelajaran yang dipersonalisasi, untuk persiapan karir dan masa depan para siswa. Pekerjaan yang sebelumnya tidak ada, kini ada dan terus bertambah. Dengan masa depan yang serba tidak terduga, bagaimana kita mempersiapkan anak untuk hal tersebut?


Pentingnya memposisikan pendidikan sebagai sebuah perjalanan, bukan tujuan. Dr. Mustafa Guvercin, Sampoerna Academy School Director menjelaskan bahwa Sampoerna Academy menerapkan metode STEAM serta mengasah keterampilan 5C para siswa.


“Keterampilan 5C sangat penting bagi siswa untuk mempersiapkan mereka untuk berpartisipasi pada kehidupan di abad-21 yang membawa tantangan yang berbeda dari yang kita hadapi sekarang. Keterampilan ini perlu diterapkan melalui proses pendidikan, oleh sebab itu guru perlu berlatih keterampilan 5C untuk agar mampu mengajar dan memodelkan kepada siswanya,” jelas Itje Chodidjah, Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M).


Virtual schooling kami yang sudah ditingkatkan mutunya, terus mengikuti visi kami dalam memajukan siswa yang kreatif, passionate, tidak pernah berhenti belajar, yang mampu menghadapi tantangan di dunia yang berubah dengan cepat. Siswa berpartisipasi dalam pembelajaran live synchronous via Google Meet bersama para wali kelas dan guru lainnya. Kami percaya bahwa peluang berharga untuk pembelajaran bisa didapat setiap harinya. Hal ini tercermin dalam nilai-nilai dan kegiatan untuk pembelajaran berkualitas tinggi,” tambah Dr. Mustafa Guvercin.


Sekolah virtual harus bisa mengajak para siswa untuk belajar secara aktif  dengan pembelajaran materi  yang melibatkan diskusi, pemecahan masalah, menganalisa studi kasus, dan materi lainnya yang dirancang dengan paparan terbatas oleh guru, untuk siswa dari semua tingkatan. Hal ini memberikan tambahan waktu untuk kegiatan lainnya, termasuk kelas seni dan music secara virtual.


Selama 4 bulan implementasi virtual schooling, Sampoerna Academy telah berhasil mencapai target akademik semester lalu dengan 5.163 sesi sekolah virtual, 92% penyelesaian tugas, dan 10.298 makalah dan proyek. 97% dari orang tua menyatakan puas. Persentase kehadiran siswa mencapai angka 96%.


Apa saja keterampilan 5C yang harus diasah dalam pembelajaran virtual ini?


1. Critical Thinking. Proses memilah, menganalisis, dan mempertanyakan informasi/konten yang ditemukan di berbagai media, dan kemudian mensintesiskannya ke dalam bentuk yang bernilai bagi setiap individu. Ini memungkinkan siswa untuk memahami konten yang disajikan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-harinya.


2. Communication. Komunikasi adalah keterampilan memberikan informasi dengan jelas, singkat dan bermakna. Ini juga melibatkan pendengaran yang cermat dan mengartikulasikan pemikiran. Komunikasi memiliki berbagai tujuan: memberi informasi, menginstruksikan, memotivasi, dan membujuk.


3. Collaboration. Kolaborasi adalah keterampilan dalam memanfaatkan berbagai kepribadian, bakat, dan pengetahuan dengan cara menciptakan hasil yang maksimal. Menciptakan hasil yang bisa memberikan manfaat bagi seluruh komunitas atau kelompok. Karena bekerja secara sinergi, dapat menciptakan hasil nilai yang lebih besar daripada hasil nilai dari seorang individu.


4. Creativity. Pada abad ke-21, seorang individu harus mampu menciptakan sesuatu yang baru atau menciptakan sesuatu dengan cara yang baru, dengan memanfaatkan pengetahuan yang telah diperoleh. Tidak hanya berupa seni, tetapi juga beruba berbagai solusi untuk permasalahan dalam situasi di kehidupan nyata.


5. Character. Menurut Miller, memahami pentingnya konektivitas manusia di dunia yang dipenuhi dengan teknologi adalah keterampilan yang diperlukan untuk diajarkan kepada anak. Menyoroti pendidikan karakter sebagai C terakhir. Ini mencakup komitmen sekolah untuk membantu anak muda menjadi warga negara yang bertanggung jawab, peduli, dan berkontribusi.


Bagaimana orang tua dapat membantu mengasah keterampilan 5C selama sekolah virtual?  


Menurut psikolog, Jovita Maria Ferliana, M.Psi, "Mengasah keterampilan 5C siswa bukan merupakan tanggung jawab lembaga pendidikan saja, namun orang tua juga sebaiknya turut berperan dalam pendidikan anak mereka, terutama selama virtual schooling." Berikut adalah beberapa tip untuk para orang tua dalam mengasah keterampilan 5C pada anak selama virtual schooling:



Jangan lupa memberikan waktu istirahat dan mengajak anak meregangkan tubuh agar tetap bugar.

Mengajak anak untuk mengutarakan pendapat dan berpartisipasi aktif dalam diskusi dengan memberikan pendapatnya, termasuk menceritakan tantangan yang dihadapi selama virtual schooling.

Sekali-sekali, ajak anak untuk memilih permainan baru atau mengubah aturan permainan untuk mengasah kreativitasnya.

Sejak usia dini, ajari anak 3 kata emas, yaitu: Tolong, Maaf, dan Terima kasih. Juga jelaskan kepada anak kapan dan mengapa menggunakan ungkapan-ungkapan itu.

Luangkan waktu untuk berdiskusi dengan anak tentang topik hangat atau tren terkini. Diskusikan setiap hari selama 30-60 menit bersama anak mengajaknya untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi dan untuk mengetahui tentang apa yang terjadi di sekitar.

Berikan kesempatan pada anak untuk berinteraksi dengan teman sekolah diluar jam virtual schooling, misalnya dengan TikTok Sharing, Video Chat, Instagram Live, dst.

Pastikan anak berpakaian rapi saat berinteraksi menggunakan video.

Orang tua menceritakan pengalaman yang dilalui hari ini dan tanyakan pendapat anak.

Tunjukkan pada anak tentang kebaikan, apa artinya dan mengapa kita perlu melakukannya. Selama masa karantina ini, perlihatkan juga kepadanya bahwa kebaikan dapat diberikan/diterima bahkan tanpa pertemuan tatap muka, seperti berbagi kata-kata yang mendorong dan positif kepada teman-teman, membeli makanan tambahan untuk petugas pengiriman makanan, membuat kampanye via media sosial dengan teman sekelas, dll.

Jangan memanjakan anak dengan kehidupan yang terlalu mudah. Tunjukkan kepada anak bahwa ketika dia membutuhkan sesuatu, dia perlu berusaha untuk mendapatkannya. Misalnya, ketika ingin meminjam sepak bola saudara laki-lakinya, maka ia harus tahu cara bertanya atau bahkan bernegosiasi dengan saudaranya; atau bagaimana membuat teman sekelas setuju untuk bekerja sama dalam proyek sekolah.

 

Virtual schooling dengan track record yang baik


“Sampai saat ini, tidak ada data spesifik yang tersedia tentang seberapa siap sekolah dan guru dalam menerapkan sekolah virtual. Dalam pelaksanaannya, pembelajaran jarak jauh selama periode karantina masih tergantung pada kreativitas dan keterampilan guru,” kata Itje Chodidjah.


“Ketika virtual schooling mulai diterapkan pada masa karantina, tidak sulit bagi Sampoerna Academy untuk beradaptasi karena kami sudah terbiasa dan siap. Untuk itu, kami menerima peringkat yang sangat baik untuk penerapan virtual schooling selama tahun ajaran sebelumnya, dengan tingkat kepuasan yang tinggi dari orang tua. Hasil sukses ini membuat kami lebih yakin akan dapat memberikan yang lebih baik lagi,” jelas Dr. Mustafa Guvercin.


Sampoerna Academy sebagai sekolah internasional dengan kurikulum yang dirancang terbaik (IEYC, Cambridge, IBDP) dan pelopor metode pembelajaran STEAM (Sains, Teknologi, Teknik, Seni dan Matematika) di Indonesia, berusaha untuk mempertajam kemampuan siswa yang terdiri dari keterampilan 5C ( Komunikasi, Kolaborasi, Berpikir Kritis, Kreativitas, dan Karakter) sehingga siswa diharapkan lebih peka terhadap diri mereka sendiri, masyarakat, dan lingkungan.

See also:
-- Dewi Kauw, Inspirasi dan Edukasi Melalui Skin Dewi -- Successful Virtual Schooling in This New Normal -- Make Up dan Body Shaming; Edukasi Kecantikan Sejak Dini --

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES