Strategi Memenangkan Modest Fashion Indonesia di Pasar Dalam Negeri

Strategi Memenangkan Modest Fashion Indonesia di Pasar Dalam Negeri

Mengenakan busana muslim menjadi kewajiban bagi setiap muslimah dewasa, merupakan sebuah ajaran agama yang berlaku sejak perintah tersebut diturunkan, tidak ada yang berubah. Namun kesadaran dan pernyataan eksistensi sebagai hijabers, muslimah yang mengenakan busana muslim berhijab, menjadi fenomena tersendiri yang di-generate oleh generasi milenial. Sejak itu pula, modest fashion, atau busana santun, -istilah yang kini semakin global digunakan, merujuk pada busana yang lebih tertutup- menjadi tren dunia. Tidak hanya di Indonesia, di seluruh dunia dan kota-kota utama fashion, merespon tren modest fashion ini, terutama dengan melihat pasar wanita muslim yang sangat besar, yang menjadi mayoritas di banyak negara Asia dan Timur Tengah. 

Gambaran tren modest fashion ini disampaikan oleh Ali Kharisma, Chairman Indonesia Fashion Chamber sebagai penyelenggara Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2019 yang akan segera diselenggarakan di Jakarta Convention Center, 1-4 Mei 2019. Lebih lanjut Ali Kharisma menjelaskan bahwa penyelenggara MUFFEST sejak awal, sejak memrakarsai untuk menyelenggarakan event fashion muslim terbesar di Indonesia pada 4 tahun lalu, sudah memahami bahwa busana muslim memiliki potensi pasar yang sangat besar, dan akan terus meningkat. 

Ali Kharisma

Pasar Indonesia saja sangat besar, dan belum banyak tergarap. Untuk menggarap pasar lokal ini, para pelaku industri busana muslim harus punya persiapan dan strategi yang tepat dan baik. Persiapan ini termasuk mengetahui identitas fashion Indonesia, yaitu menggunakan kekayaan budaya lokal yang tujuannya adalah agar fashion Indonesia bisa lebih cepat dikenal, tidak saja di Indonesia sendiri tetapi juga secara internasional.

Selain itu, yang tidak kalah penting menjadi strategi dalam menggarap industri modest fashion, adalah menjalankan mode berkelanjutan (sustainable fashion). Terutama dari segi bisnis, harus diatur dan dijalankan supaya berkelanjutan, tidak merugikan lingkungan dan masyarakat. Beberapa aspeknya antara lain, selalu mencari alternatif material yang ramah lingkungan, menggunakan sumberdaya lokal (makin dekat makin baik), menerapkan upah layak pada pekerja fashion, dan menggalakkan edukasi kepada masyarakat untuk lebih pintar dalam berbelanja fashion.

Pelaku industri fashion dalam negeri kini harus bersaing dengan gempuran produk impor yang banyak didominasi oleh fast fashion, raksasa ritel dunia dengan produksi fashion yang masif. Produk fast fashion impor kini sangat marak dan membanjiri pasar Indonesia, di semua lapisan, baik lapisan atas yang ada di mal-mal besar hingga lapisan bawah seperti di pasar Tanah Abang. Produk-produk ini dibungkus dengan sangat apik, branding menarik yang sangat relevan dengan anak-anak muda, pasar utama produk fashion. Barang-barang fast fashion yang nantinya akan menjadi sampah yang besar sekali dan potensial menimbulkan masalah.

Menjalankan fashion yang berkelanjutan di segala aspeknya, membuat fashion Indonesia akan punya karakter dan identitasnya sendiri. Ini yang bisa memenangkan persaingan melawan produk-produk dari luar negeri. Selain itu, produk-produk kita juga akan berbeda dengan negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam. Produk fashion Indonesia harus bersaing di sisi kualitas, dan cara kita bekerja, baik di industri maupun bisnis. Inilah yang harus ditunjukkan, sehingga kita memiliki produk yang patut dipertimbangkan oleh dunia internasional.

IFC bersama sponsor MUFFEST 2019 


Bersaing dengan produk fast fashion luar negeri (bahkan yang dibuat di pabrik-pabrik di Indonesia), yaitu dengan mengembangkan identitas made in Indonesia, dengan harga yang bersaing (reasonable price) di semua layer, sesuai pasar dan tempat produk tersebut dijual. Produk Indonesia harus memiliki identitas yang jelas, punya kekuatan lokal, dan bahkan style yang kuat.

Salah satunya sarung, yang merupakan identitas fashion Indonesia. Sarung merupakan produk khas Indonesia, dan setiap daerah mempunyai sarung yang unik. Sarung sangat versatile untuk penggayaan yang bermacam-macam, serta sesuai untuk modest fashion, dengan bentuknya yang longgar dan tidak membentuk badan.

Yang kedua, adalah people fashion. Yaitu fashion yang berdaya pakai (wearable), yang tidak muluk-muluk. Fashion bukan milik kalangan atas saja, tetapi milik kita semua. Kita harus banyak membuat fashion yang semua orang bisa memakainya, itulah yang bisa mempengaruhi ekonomi Indonesia. Jadi layer terbawah pun harus diolah. Ini bisa dilakukan dengan kampanye made in Indonesia, terutama untuk middle and low income

Selanjutnya, developing our own textile from zero (to hero). Tekstil yang dikembangkan oleh desainer-desainer tekstil, yang bisa jadi menginspirasi perusahaan-perusahaan tekstil besar. Perusahaan besar inilah yang akan mengembangkan produk massalnya, sehingga semuanya digarap oleh industri dalam negeri.

Yang terakhir, adalah dominate our own market. Meskipun pasar Indonesia sangat besar, tetapi kalau ditelaah secara detail, saat ini pasar fashion kita 50% masih dikuasai produk luar/impor. Edukasi, kampanye dan branding inilah yang bisa menggeser selera masyarakat, dan fashion Indonesia bisa mendominasi di negeri sendiri. 


Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Ketika Seorang Hijaber Tampil di Majalah Playboy..

Ketika Seorang Hijaber Tampil di Majalah Playboy..

READ MORE
Pre-Ramadhan Hype; Ria Miranda 6 Launchings in A Week!

Pre-Ramadhan Hype; Ria Miranda 6 Launchings in A Week!

READ MORE