Pesona Kain & Tanah Flores dalam Creative Show 'Nian Tana'

Pesona Kain & Tanah Flores dalam Creative Show 'Nian Tana'

Fashion show kelulusan sebuah sekolah mode, terutama sekolah mode ternama selalu menjadi satu excitement tersendiri bagi saya, dan selalu menawarkan daya tarik yang berbeda dengan peragaan mode lainnya. Graduation show, selalu membawa unsur idealisme yang kuat, desain yang fashion-forward, dengan karya-karya yang otentik, unik dan segar. 

Sebuah persembahan kreatif diwujudkan oleh Lasalle College Jakarta (LCJ) sebagai perayaan 21 tahun berdirinya lembaga mode ini, bertajuk "Nian Tana" Creative Show 2018, pada hari Jumat, 13 April 2018 di The Hall Senayan City lt.8. Nian Tana berarti tanah air, dalam bahasa Maumere - Flores, dan Lasalle College Jakarta benar-benar membawa tanah dan jiwa Flores pada event luar biasa ini. Kita sering melihat koleksi desainer dengan tenun Flores atau daerah Nusa Tenggara lainnya, tetapi pergelaran yang diwujudkan oleh Lasalle College Jakarta ini seakan meniadakan jarak antara Flores-Jakarta malam itu.

Creative Show 2018 kali ini menampilkan pameran hasil karya terbaik dari program Fashion Design, Fashion Business, Interior Design, Digital Media Design, Photography dan Make Up Life Installation. Graduation Ceremony LaSalle College Jakarta tahun ini berhasil meluluskan sebanyak 211 siswa, dengan 51 siswa Fashion Design, 52 siswa fashion business, 24 siswa Digital Media Design, 6 siswa Photography, 19 siswa Interior Design dan 59 siswa Artistic Make Up.


Pada fashion show utama yang digelar sebagai puncak acara, dibuka dengan tarian Hegong, sebuah tarian tradisional suku Sikka yang dilakukan oleh sekelompok Ama (bapak) dan Ina (Ibu), yang mereka semuanya datang langsung dari Maumere, NTT. Para Ina tampak bersahaja mengenakan busana labu gate dan kain utan, dilengkapi dengan beberapa aksesoris tradisional lainnya. Mereka menari dengan rancak dan gerak ritmis mengikuti tabuhan musik Gong Waning. 

Koleksi para lulusan dan sebagian siswa LCJ selanjutnya ditampilkan, dengan sekuen pertama adalah 72 set busana yang menggunakan material tenun Flores berpewarna alam. Tenun pewarna alam dengan warna-warna yang khas, menjadi daya tarik utama pada koleksi tersebut. Para perempuan, ibu-ibu penenun tradisional di Flores telah bertahun-tahun secara turun temurun membuat tenun tradisional dengan pewarna alam yang merupakan material yang ramah lingkungan, meskipun dibutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkan satu helai tenun. 

  


Material tenun seperti ini tidak mudah untuk diolah menjadi busana siap pakai, karena satu helai kain tenun yang sangat berharga, dan pengolahan dan cutting yang harus menyesuaikan dengan motif tradisional, sehingga tetap menjaga dan menampilkan keindahan motifnya. Pada fashion show ini, kita tidak akan melihat olahan tenun dengan garis dan potongan yang konvensional dan 'aman'.

Inilah momen perayaan idealisme para -calon- desainer. Kain Flores di tangan para lulusan LCJ, diolah sedemikian rupa dengan teknik cutting modern, dipadukan dengan berbagai material lain seperti print, katun dan bordir, sehingga menjadi koleksi yang artistik, megah, tampilan etnik yang segar, kaya akan corak, berjiwa muda sekaligus sangat terasa keasliannya (indigenous).

Deretan busana pria dan wanita dengan gaya tumpuk (layering) yang bervolume, dengan detil dan aksen seperti frills, fringe, tassel, memperkaya tampilan dan memberi rupa baru pada tenun Flores. Meskipun beberapa looksnya terasa berat, namun setiap unsur busananya memberikan inspirasi padu padan yang kreatif dan fun. Penggunaan tenun pewarna alam sekaligus menjadi statement untuk mewujudkan fashion yang berkelanjutan (sustainable fashion). 


Selain koleksi busana dengan kain tenun Flores, fashion show juga menampilkan lebih dari 100 koleksi masterpiece lainnya mahasiswa jurusan Fashion Design. Seluruh kreasi mahasiswa dan lulusan LCJ dalam Creative Show 2018 ini menunjukkan bahwa LCJ telah mencetak calon-calon desainer muda dengan karya-karya luar biasa yang siap bersaing di pasar lokal maupun internasional. Penghargaan pun diberikan kepada beberapa mahasiswa dari keenam jurusan dengan kategori Best Student, Best Portfolio dan Favorite Student.

Tema Flores diangkat karena kekayaan ragam budaya dan keindahan alamnya yang sangat menginspirasi. Menurut Shinta Djiwatampu, Program Director Fashion Design LaSalle College Jakarta, "Wilayah Flores yang sangat alami membuat kami terinspirasi. Masyarakat Flores sangat menghargai alam mereka, diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti tarian, kain tenun dibuat dengan pewarna dari alam." Tradisi wastra tenun memegang peranan vital dalam kehidupan masyarakat Flores, yang telah dilestarikan selama bertahun-tahun. Dengan membeli dan memakai kain tenun, kita ikut menghargai dan mengapresiasi tradisi tersebut. Persembahan dalam Creative Show 2018 ini juga merupakan wujud dan cara menanamkan kecintaan kepada Indonesia. 



(foto-foto: Lasalle Collage & @priscillatasha)

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Senayan City & JFW Hadirkan Area Belanja Terbesar Karya Desainer Indonesia

Senayan City & JFW Hadirkan Area Belanja Terbesar Karya Desainer Indonesia

Hadirnya Fashionlink x #BLCKVNUE terbaru ini sebagai milestone bagi sejajarnya karya desainer Indonesia dengan produk-produk dari label fashion unggulan dunia.

READ MORE
ELEMWE Konsisten Promosikan Batik Betawi

ELEMWE Konsisten Promosikan Batik Betawi

READ MORE