Persepsi dalam 'Calligraffiti' El Seed

Persepsi dalam 'Calligraffiti' El Seed

(ditulis oleh: Ikhwan Alim)


Seniman ini adalah El Seed, seorang turunan Tunisia, pecinta grafis yang berdiam di Dubai. Medium andalannya adalah Calligraffiti, kombinasi antara seni kaligrafi dan graffiti atau mural. El Seed berpendapat bahwa bahasa arab, yaitu satu-satunya bahasa yang dia gunakan dalam kaligrafiti, memiliki makna mendalam yang membuat orang-orang ‘terkoneksi’ dengan maknanya.

Tulisan Arab bukan sekedar tulisan yang indah juga bermakna, melainkan ada ‘koneksi’ yang kontekstual terhadap komunitas atau kawasan tersebut. Sehingga tidak perlu belajar Bahasa Arab untuk menikmati ‘koneksi’ tersebut.

El Seed juga memastikan bahwa karya-karyanya berlaku lokal, khusus untuk kawasan  atau komunitas tertentu. Ada story yang sudah dia kembangkan dan bisa dibagikan di komunitas tersebut. Namun, story tersebut juga membawakan pesan universal yang relevan dengan siapa saja di seluruh dunia. Semisal, core message seperti hope (harapan) atau peace (kedamaian).

‘Perception’ di Manshiyat Naser

Ada sebuah proyek milik El Seed yang sangat menarik. Manshiyat Naser, Kairo adalah sebuah kawasan pemulung sampah di ibukota Mesir. ‘Perception’, dikerjakan dengan ‘mewarnai’ 50 buah bangunan. Yang keseluruhan gambar-gambar dari 50 gedung tersebut, dapat disaksikan secara menyeluruh dari sebuah bukit di dekat Kairo. Bukit Moqattam, namanya. Bersama ‘Perception’, kawasan tersebut menjadi lebih cantik dan mengundang tanya, pesan apa yang dikandungnya?

Kita pada umumnya berpikir bahwa mempercantik suatu kawasan atau lingkungan dapat dilakukan dengan bantuan seni. Memang itulah yang dikerjakan oleh El Seed di berbagai lokasi proyeknya di seluruh dunia. Namun dalam konteks Manshiyat Naser, hal ini adalah tentang menggeser sebuah persepsi lama menjadi persepsi baru. Jadi anda sudah bisa menebak ya mengapa diberi judul ‘perception’.

Bayangkan saja, hidup dan bekerja dekat dengan sampah, membuat komunitas pemulung dipersepsikan kotor dan termarjinalkann oleh para penduduk kota yang sama. Sesungguhnya, para pemulung ini bukanlah bagian ‘sampah’ yang sama. Mereka mengelola sampah. Sampah yang mereka hasilkan, bahkan lebih sedikit daripada yang mereka kelola, urai, alihkan kepada pendaur ulang sampah. Bahkan, warga Manshiyat Naser ini dapat hidup dari mengelola sampah-sampah tersebut. Kerja keras mereka banyak dibantu oleh hewan babi yang mereka pelihara khusus untuk membantu mengurai sampah.

Komunitas ini, sebagian besar memeluk Agama Kristen, kok. Oke, jadi El Seed, bersama calligraffiti berbahasa Arab tersebut, tidak melulu melakukannya di komunitas Muslim. Lalu, apa pesan yang dikaligrafitikan dan diberi judul ‘Perception’ tersebut? Yakni sebuah quote dari Saint Athanasius, seorang Saint dari Alexandria, yang kira-kira bila diterjemahkan adalah, “Siapapun yang ingin melihat sinar matahari dengan jelas, perlu menyeka matanya (hingga jernih) terlebih dulu”. Dalam konteks now, kita tidak bisa menerima persepsi --sinar matahari-- baru, sebelum kita menyingkirkan penghalang –air mata— lebih dulu. Itulah yang ingin disampaikan dan digarisbawahi oleh sang seniman kaligrafiti.



Karakter Gen-M 

Budaya graffiti sudah ada sejak puluhan tahun lalu di dunia. Graffiti adalah medium pembawa pesan. Namun, Gen-M dalam persona El Seed, memberikan coolness terhadap graffiti dalam format baru yang lebih keren, yakni kaligrafiti. Meskipun dalam dunia seni kontemporer, kaligrafiti bukan hal baru, tetapi apa yang dilakukan El Seed di banyak ruang publik kota-kota di dunia menjadi sebuah tren baru yang menonjol.

Kaligrafi dalam bahasa dan tulisan Arab, digabung dalam medium-medium street art: bangunan, dinding, atap, dan sebagainya. Kata El Seed, kita tidak perlu memahami artinya untuk dapat meresapi maknanya. Bahasa Arab sudah indah dengan sendirinya. Itulah mengapa El Seed selalu menuangkan karyanya dalam Bahasa Arab.

Di samping itu, El Seed juga menggubah narasi positif mengenai Islam. Bahwasanya, pesan-pesan universal yang dia bawa, merupakan bagian dari dakwah kepada umat manusia. Kaligrafitinya di Cape Town mengutip pernyataan Nelson Mandela, tokoh Afrika Selatan, “Sepertinya tidak mungkin dilakukan; Sampai dengan selesai (dikerjakan).” Tetapi dalam Bahasa Arab. Kita semua tahu, pernyataan tersebut mengguncang dunia dan mengubah mindset banyak sekali orang mengenai politik warna kulit di negara Afrika Selatan.

Menurut El Seed, yang dia lakukan adalah menyatukan persepsi orang-orang masa kini dan generasi mendatang, melalui kaligrafi Bahasa Arab. Baginya, kaligrafiti adalah medium yang menghubungkan narasa orang-orang jaman kini dengan generasi berikutnya. Ada pesan perdamaian (peace) dan harapan (hope) yang penting untuk terus dialirkan dari generasi ke generasi.

El Seed bangga sekali dari mana dia berasal. Dia keturunan Tunisia tetapi lahir di Paris. Seorang muslim yang sekarang tinggal di Dubai. Dan dia mencoba menjadi representatif yang baik melalui karya-karya seninya. Dia sangat berharap untuk terus dapat berkarya menggunakan keindahan tulisan-tulisan Arab.

Untuk apa? Guna menghentikan segala stereotip-stereotip jelek yang beredar—tentang Islam, tentu saja. Sebagian, ada yang terbuka dengan pemikiran-pemikiran baru. Namun, ada beberapa pula yang memandang stereotip-stereotip tersebut sebagai penolakan atau semacam pintu yang tidak akan pernah bisa dibuka. Dipalang dan digerendel oleh kerasnya kepala dan hati. Bisa jadi percuma berdiskusi dengan yang hanya beberapa ini. Namun bagi El Seed, semua yang sebagian dan beberapa itu hanya berarti semacam undangan saja – terhadap bahasanya, budayanya, dan karya seninya. El Seed bangga dengan semua yang melekat kepada dirinya dan bersedia untuk mengungkapkannya kepada dunia.


(foto dari sini)

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Mengenal Seni Islami Kontemporer lewat MOCAfest

Mengenal Seni Islami Kontemporer lewat MOCAfest

READ MORE