Penjiplakan, Tantangan Besar Bisnis Busana Muslim

Penjiplakan, dengan skala dan intensitasnya kini adalah ancaman besar bagi industri fashion muslim Indonesia yang bahkan belum sampai pada tahap matang ini.

Penjiplakan, Tantangan Besar Bisnis Busana Muslim



Pada event Ramadhan Runway di Gandaria City yang diorganisir oleh IFC beberapa waktu lalu, sepetik pesan disampaikan oleh Ibu Euis Saedah, Dirjen UKM Departemen Perindustrian pada sambutannya. Tidak seperti biasanya, kali ini ada pesan khusus yang ditekankan, soal pembajakan atau penjiplakan karya desainer muslim.


Praktik penjiplakan desain busana muslim semakin masif, terutama menjelang bulan Ramadhan dan lebaran. Yang disebut penjiplakan, bukan lagi 'sekedar' mengikuti tema, nuansa, gaya dan ide desain dari satu atau beberapa potong busana, tetapi mengambil sebagian besar atau keseluruhan tampilan dari desain/koleksi tersebut.


Dalam fashion memang ada istilah ATM, amati-tiru-modifikasi, level 'follower' yang masih bisa diterima, wajar dan lumrah. Dalam proses ATM ini, seseorang akan sangat terinspirasi terhadap tema atau desain tertentu milik desainer/orang lain, untuk kemudian mengembangkan dan membuat desainnya sendiri. Kini kita lihat banyak sekali label busana muslim bermunculan, yang lahir dari proses ini.


Tetapi yang sangat parah -dan seharusnya tidak bisa ditolerir- adalah praktik penjiplakan yang marak kini. Mereka menjiplak karya beberapa desainer; membeli koleksi yang bersangkutan, membuat pola atau detail yang sama persis, untuk secara instan diproduksi dalam jumlah yang besar. Mungkin tidak bisa 100% sama, karena perbedaan material atau warna. Yang jelas, tentu saja busana hasil jiplakan ini bisa dijual oleh produsennya dengan harga yang jauh lebih rendah dari harga sang desainer.


Seorang desainer busana muslim Indonesia menjelaskan, fenomena ini terjadi dengan beberapa modus. Yang banyak terjadi, konsumen yang sekarang menjadi penjual. Awalnya mereka adalah pelanggan dari desainer tertentu, kemudian 'saking terinspirasinya', mereka kini memproduksi busana yang mirip bahkan sangat mirip dengan desainer favoritnya. Mereka dengan sangat mudah memutuskan untuk membuat sendiri dan memproduksi busana muslim, yang akhirnya tidak punya 'identitas' dan karakternya sendiri, karena ikut-ikutan tadi.


Yang kedua, pemilik modal besar. Mereka juga mengambil jalan pintas, dengan memanfaatkan tren busana muslim dari desainer-desainer muda yang sedang booming. Tidak sulit membeli semua koleksi desainer, kemudian mereka menjiplak dan memproduksi dalam jumlah besar. Produk-produk 'copycat' ini akan sangat mudah kita temukan di pusat retail dan grosir busana muslim, seperti di Thamrin City.


Walaupun tidak bisa dipungkiri, penjiplakan memang sudah terjadi sejak lama, tetapi dengan masifnya praktik ini sekarang, perkembangan industri busana muslim Indonesia pun terancam. Indonesia sudah diakui dunia sebagai pusat inspirasi mode muslim atau santun (modest fashion), dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, generasi mudanya mampu memanfaatkan momentum ini sehingga muncul generasi hijabers muda yang menjadi motor penggerak tren mode muslim. Mulai dari desainer muslim, blogger, model, social media muse hingga konsumen muda yang semuanya memanfaatkan Internet dan teknologi. Arus besar ini menjadi sumber energi bagi industri fashion muslim, banyaknya desainer memunculkan banyak brand, kemudian retail dan pengusaha-wirausaha di bidang ini. Desainer termasuk salah satu ujung tombak terpenting, karena mereka akan menciptakan tren sebagai referensi utama gaya dan selera masyarakat secara umum.


Dalam industri ini, fashion atau tren harus selalu bergerak maju menciptakan hal-hal baru, original, kreatif, agar bisa menjadi pemain utama di negeri sendiri dan juga bersaing di level regional dan internasional. Industri fashion yang tumbuh dan berkembang dengan baik akan menciptakan pelaku-pelaku yang mampu bersaing, memiliki karakter yang kuat. Praktik plagiarisme dan pembajakan akan memunculkan banyak sekali pemain dan penjual yang serupa, tidak punya karakter dab brand DNA yang jelas sehingga menjadikan pasar menjadi jenuh dan tidak antusias.


Praktik pembajakan yang masif akan menjadikan masyarakat sebagai konsumen memilih harga yang murah dibanding kualitas. Ini mengakibatkan karya para desainer menjadi tidak bisa bersaing, dan menumpulkan penghargaan terhadap orisinalitas sebuah karya.


Pasar dalam negeri yang jenuh selanjutnya mengakibatkan matinya pengusaha-pengusaha kelas menengah di bidang ini. Yang bertahan hanyalah pemain dengan modal yang sangat besar, dan retail-retail fashion besar dari luar negeri yang semakin menggurita di Indonesia. Sungguh suatu situasi yang jauh dari harapan dan cita-cita Indonesia sebagai pusat mode muslim dunia.


Semoga kita bisa lebih menghargai produk kreatif dan orisinil, produk desainer dalam negeri. Membeli dan menggunakan produk asli berarti ikut menumbuhkan industri fashion dalam negeri.



please login to comment.

RELATED ARTICLES

Re-Branding, Bagaimana Tampilan Dian Pelangi Kini?

Re-Branding, Bagaimana Tampilan Dian Pelangi Kini?

Ketika Dian Pelangi mengumumkan re-branding untuk merek -yang sama dengan namanya- Dian Pelangi, maka rasa penasaran publik fashion Jakarta -dan Indonesia- pun sangat besar, bagaimana perubahannya?

READ MORE
Up2date Kini; Satu Dasawarsa Penuh Makna

Up2date Kini; Satu Dasawarsa Penuh Makna

2016 menjadi tahun signifikan bagi Up2date, -as a brand and as a company- sebagai milestone satu dasawarsa perjalanannya. Bagaimana Up2date kini?

READ MORE