Modest Fashion Highlights in 2016 (part 1)

Modest Fashion Highlights in 2016 (part 1)

Selamat Tahun Baru 2017! Semoga saya tidak terlalu terlambat untuk mengucapkan salam semangat memasuki tahun baru ini, demikian pula untuk sebuah tulisan yang akan membawa kita melihat secara singkat, menyisir kembali apa saja yang menjadi highlihgt, sorotan di dunia fashion terutama modest fashion Indonesia di tahun 2016. 

Dan ini pun sebenarnya tidak akan singkat, mengingat 2016 merupakan tahun yang -masih- menggairahkan bagi dunia fashion, dengan sumber daya dan para pelakunya yang seolah tidak habis energinya untuk menyajikan sesuatu yang baru dan -tentu saja- fashionable bagi penggemar fashion. Yang dapat digarisbawahi, ceruk modest fashion Indonesia masih dipandang sangat potensial dan merupakan satu sektor unggulan yang digarap oleh pemerintah salah satunya melalui Badan Ekonomi Kreatif, sehingga strategi promosi ke luar negeri hingga kiprah para desainer di dunia Internasional menjadi yang paling terlihat di 2016. 


Go International

Dibanding tahun-tahun sebelumnya, 2016 menjadi tahun paling sibuk bagi desainer dan merek modest fashion Indonesia berkarya di luar negeri. Bagi dunia internasional, mendengar istilah modest fashion atau muslim fashion, yang kini paling diingat atau dijadikan referensi adalah Indonesia. Indonesia punya banyak sekali desainer busana muslim yang kreatif, non-konvensional, dan karyanya telah banyak dikenal berkat sosial media. Mereka memang -kebanyakan- belum berada pada tahap establishment atau memiliki jaringan retail di banyak negara, tetapi berada pada tahap sumber inspirasi dan eksplorasi pasar. 

Masih terdampak gaung Dian Pelangi yang menjadi salah satu nama dalam #BOF500 pada akhir tahun 2015, di awal-awal 2016 beberapa desainer Indonesia mencapai milestone baru di salah satu fashion capital dunia, London. Dian Pelangi, Jenahara, Zaskia Sungkar dan Restu Anggraini memperoleh kesempatan untuk menunjukkan instalasi karyanya di International Fashion Showcase, London Fashion Week di bulan Februari 2016. Bukan itu saja, Dian Pelangi bahkan menjadi salah satu desainer yang tampil dalam runway 'Fashion Scout', juga dalam rangkaian LFW, berkolaborasi dengan 2 desainer dari London Fashion of College. 

Di bulan Maret, Restu Anggraini menaklukkan Melbourne melalui Virgin Australia Melbourne Fashion Festival (VAMFF) dengan menampilkan koleksinya yang mengedepankan teknologi dan inovasi material. Etu berkesempatan tampil di runway ini setelah pada event JFW 2016 (di bulan November 2015) menjadi pemenang ANZ Australia-Indonesia Young Fashion Designer Award. 

Memasuki pertengahan akhir 2016, label yang relatif baru, Zelmira memberi kejutan bagi dunia fashion. Bukan saja karena brand ini tampil pada fashion show event bergengsi Centerstage -Asia's Premiere di Hongkong, juga karena Zelmira adalah brand milik SMK NU Banat Kudus, dengan 4 muridnya sebagai desainer utama. Brand ini mencuri perhatian internasional, dan koleksinya yang tampil saat itu juga mendapat liputan dari banyak media regional Asia. This is one of the proudest moment of modest fashion!

Selain itu, Bekraf sebagai badan yang menaungi dunia kreatif termasuk fashion juga aktif mengirimkan delegasi desainer modest indonesia di event-event internasional. 5 desainer dan brand untuk Islamic Society of North America (ISNA) Annual Convention 2016 di Chicago, Amerika Serikat awal September, IKYK ke Fashion Kode 2016 di Seoul, Korsel (18-20 Oktober) dan 4 desainer lainnya berpartisipasi di Arab Fashion Week 2016 di Dubai, Uni Emirates Arab (31 Oktober -2 November). 

Salah satu event modest fashion internasional yang juga mengundang banyak desainer Indonesia adalah Istanbul Modest Fashion Week, yang baru pertama kali digelar (sebelumnya hanya bernama Istanbul Fashion Week). Meskipun baru pertama, event ini mampu mempertemukan banyak nama yang berpengaruh dalam dunia muslim fashion, mulai dari desainer -tentu saja-, blogger, pebisnis dan influencer, yang dikoordinasi oleh IFDC (Islamic Fashion Design Council), sebuah organisasi dunia pertama yang berdedikasi di bidang ini. Beberapa nama dari Indonesia seperti Hannie Hananto, Irna Mutiara, Monica Jufry dan Anniesa Hasibuan ikut mempresentasikan koleksinya dalam fashion week ini.

And lets not forget, Anniesa Hasibuan yang secara gemilang menorehkan prestasinya menggelar show di panggung New York Fashion Week SS 2017, dan mendapat berbagai predikat, salah satunya desainer modest fashion pertama di runway resmi NYFW (dengan seluruh model yang mengenakan hijab). Milestone yang akan dicatat dunia fashion bukan saja untuk Indonesia, tetapi juga dunia. Selamat untuk pencapaian tak terlupakan tahun ini!



Exciting Events

Indonesia memiliki 2 fashion week utama yang merupakan agenda tahunan, hajatan bagi dunia fashion lokal dan menjadi rujukan trend secara nasional, yaitu Jakarta Fashion Week dan Indonesia Fashion Week. Tetapi untuk menjadi kiblat muslim fashion dunia seperti yang tercantum dalam strategi pemerintah, salah satu yang harus dimiliki adalah sebuah event utama yang didedikasikan untuk muslim/modest fashion, yang bisa menjadi rujukan dunia. Pada tahun ini, IFC (Indonesia Fashion Chamber) menginisiasi hal ini dengan menggelar MUFFEST (Muslim Fashion Festival), sebuah pameran mode dan dagang bagi pelaku usaha modest fashion di Indonesia, untuk meningkatkan industri busana muslim sekaligus menjadi rujukan trend karena menampilkan dan mengumpulkan desainer-desainer muslim paling berpengaruh di Indonesia.

Meskipun pada kenyataannya, 2016 dipenuhi dengan berbagai event sejenis yang seolah tidak ada putusnya, terutama yang menggarap pasar mode muslim. Desainer tidak henti-hentinya mengadakan fashion show di puluhan panggung yang tidak jarang hanya berselang beberapa hari/minggu. Semua pihak, pengelola dan organisasi berlomba-lomba mengadakan hajatan yang serupa di ibukota, dengan tujuan menjaring tenant dan pengunjung sebanyak-banyaknya. Meskipun terlihat riuh, konsumen dan penggemar fashion justru dibuat jengah dan overwhelmed dengan semua ini. Tidak terlihat kejernihan inovasi, tren fashion yang menyebarkan inspirasi segar, tetapi justru hanya euforia dan semangat konsumerisme yang muncul.



Kolaborasi

Mengutip salah satu desainer, kolaborasi merupakan sebuah keniscayaan bagi bisnis fashion. Kolaborasi memungkinkan kebaruan, excitement, dan tentu saja menjangkau pasar yang lebih besar karena melibatkan dua atau lebih pihak yang berbeda. Salah satu kolaborasi yang menggairahkan pemakai hijab di awal tahun 2016, adalah koleksi kedua UniqloxHana Tajima yang dirilis pada bulan Januari.  Yang dilanjutkan dengan koleksi ke-3 yang diluncurkan pada bulan Juni. Koleksi modest wear dari Uniqlo selalu ditunggu-tunggu karena memiliki tingkat kenyamanan yang sejauh ini masih susah disamai oleh merek-merek lokal. Dan tahun 2017, kita menunggu koleksi modest wear apa lagi yang akan dikeluarkan oleh label yang mengusung konsep lifewear ini (meskipun kita semua sepakat, koleksi Uniqlo di musim apapun selalu ramah untuk pengguna hijab).

Kolaborasi lainnya yang patut dicatat adalah antara desainer dengan peritel fashion, seperti yang dilakukan Et Cetera dengan Jenahara, dan The Executive dengan Restu Anggraini. Kedua peritel ini memang biasanya tidak menyasar pasar busana tertutup, tetapi tidak menghalangi mereka untuk bekerjasama dengan desainer muslim dan mengeluarkan koleksi modest, walaupun terbatas untuk koleksi lebaran.


Bentuk kerjasama lainnya yang makin lazim dilakukan adalah kolaborasi antara desainer dan e-commerce, seperti yang dilakukan oleh BliBli.com dengan menggandeng Ria Miranda, Restu Anggraini dan IKYK pada bulan Mei 2016. Koleksi mereka biasanya akan ludes dalam waktu singkat, dengan serapan utama tentu saja konsumen loyal dari masing-masing desainer. Kolaborasi semacam ini juga rutin dilakukan HijUp.com, untuk koleksi lebaran atau Hari Raya Idul Fitri. Untuk lebaran tahun 2016, HijUp.com secara eksklusif menggandeng Dian Pelangi dan Ria Miranda, dan yang mencengangkan, koleksi kedua desainer ini telah ludes dalam beberapa jam saja setelah diluncurkan di laman! (HijUp harus membuat beberapa batch peluncuran supaya tidak langsung habis). 

Tak ayal, dalam kolaborasi memang nama-nama desainer 'itu-itu lagi' yang muncul, karena pemilik modal tentu menginginkan 'jaminan' kesuksesan untuk produknya. Tetapi di penghujung tahun, kita patut mengapresiasi langkah Muse 101, sebuah concept store khusus modestwear, yang berkolaborasi dengan desainer Titis Sapoetra dan Tantri Namirah untuk koleksi barunya yang sangat menyenangkan! Selamat dan terimakasih untuk menutup 2016 dengan berwarna! 



Nantikan kelanjutan tulisan ini di part.2 ya!

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Meet This Hottest Brand; All The Horses

Meet This Hottest Brand; All The Horses

Menawarkan celah baru gaya dan karakter yang percaya diri dan feminin, in a whole new look.

READ MORE
ELEMWE Konsisten Promosikan Batik Betawi

ELEMWE Konsisten Promosikan Batik Betawi

READ MORE