Meningkatkan Kompetensi SMK Tata Busana untuk Menjawab Tantangan Industri Fashion

Meningkatkan Kompetensi SMK Tata Busana untuk Menjawab Tantangan Industri Fashion

Ada sebuah tujuan dan mimpi besar, bagi Sekolah Mengengah Kejuruan bidang Tata Busana di Indonesia. Selama ini, pengajaran di SMK Tata Busana masih merujuk pada kurikulum lama, yang berorientasi pada 'hanya' membuat baju, mulai dari menggambar sketsa, ukuran tubuh, pembuatan pola, pembuatan hiasan busana, busana custom, busana industri, dan teknologi menjahit. Kompetensi seorang penjahit. 

Padahal, industri fashion Indonesia sedang tumbuh dan giat dikembangkan, dan merupakan salah satu sektor utama dalam industri kreatif. Bahkan Indonesia memiliki visi untuk menjadi salah satu pusat fashion dunia di tahun 2025. 

Seharusnya dan praktik idealnya adalah SMK bisa menjadi basis sumber daya manusia untuk mengisi kebutuhan semua lini pada industri ini, mulai dari hulu hingga hilir. Industri fashion bukan hanya soal tekstil dan garmen, tapi merupakan sebuah ekosistem kreatif yang banyak sekali membutuhkan sumber daya manusia dengan keahlian tertentu. Terutama dengan kemajuan teknologi digital sekarang yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan.

Untuk mengejar tujuan tersebut, peningkatan mutu SMK bidang Tata Busana mutlak dilakukan, mencakup tenaga pendidik, kurikulum, pola pendidikan, serta infrastruktur yang memadai. Salah satunya, yang baru saja dilakukan adalah “Workshop Penyelarasan SMK Kompetensi Keahlian Tata Busana Tahun 2017 (Revitalisasi SMK)” yang berlangsung pada tanggal 13-17 November 2017 di Hotel Griptha, Kudus, Jawa Tengah.


Workshop ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia melalui Direktorat Pembinaan SMK yang kembali didukung oleh Bakti Pendidikan Djarum Foundation dan Indonesia Fashion Chamber (IFC). Workshop diikuti oleh 140 pendidik yang merupakan perwakilan dari SMK bidang Tata Busana dari berbagai daerah di Indonesia. Program ini merupakan tindak lanjut dari workshop yang telah digelar sebelumnya pada tanggal 16-18 November 2016 yang diikuti oleh 100 pengajar SMK Tata Busana di Indonesia.

Melanjutkan workshop sebelumnya yang menekankan pada materi pengembangan kreativitas atau desain, materi kali ini meliputi seluruh sektor dalam ekosistem industri fashion, mulai dari desain, produksi, hingga pemasaran. Para mentor workshop ini merupakan praktisi berpengalaman di industri fashion yang akan memberikan materi dan praktik pembuatan koleksi, mulai dari tahap pengembangan konsep dan desain, penerapan Indonesia Trend Forecasting, perumusan tema koleksi, produksi yang termasuk pembuatan pola, potong, dan jahit, serta tak ketinggalan pengayaan strategi costing dan marketing.

“Selama ini, materi pembelajaran di SMK Tata Busana tidak mengenalkan seluruh proses dalam ekosistem industri fashion. Umumnya hanya menekankan pada hal teknik seperti pembuatan pola dan penjahitan dan desain yang diperkenalkan pun berupa busana malam bergaya karnaval atau ekstravaganza, sehingga mayoritas lulusan SMK terbatas menjadi penjahit atau menerima pesanan jahitan.

Sedangkan industri fashion yang sebenarnya memproduksi ready to wear yang mengikuti trend serta punya daya pakai dan jual yang tinggi,” tutur Dina Midiani, Ketua Program Edukasi Kegiatan Workshop. “Untuk itulah, program workshop ini diarahkan pada pengayaan materi dan praktik untuk menghasilkan produk fashion secara industri, yaitu ready to wear. Dengan begitu dapat memberikan wawasan dan ketrampilan baru kepada para pengajar SMK Tata Busana untuk ditransfer kepada siswa ajarnya agar siap terjun dalam industri fashion.”

Workshop lanjutan ini kembali diselenggarakan di Kudus, Jawa Tengah terkait dengan keberadaan SMK NU Banat yang terpilih sebagai sekolah rujukan nasional untuk SMK bidang Tata Busana di seluruh Indonesia. Sekolah tersebut merupakan salah satu dari 15 SMK binaan Djarum Foundation di Kudus, Jawa Tengah.

'Project Runway' ala guru SMK

Bagaikan reality show fashion 'Project Runway', peserta workshop dibagi menjadi beberapa kelompok, dan setiap kelompok harus merencanakan hingga membuat sebuah sebuah koleksi yang akan dipamerkan dalam sebuah fashion show di akhir sesi workshop. 

Di hari pertama pelatihan, para guru SMK ini kembali mereview materi terkait proses desain ready-to-wear mulai dari mencari ide dan konsep, hingga bagaimana memvisualisasikan tema. Peserta juga diberikan pengayaan tentang trend forecasting, dan pembagian kelompok berdasarkan 4 tema besar tren fashion Indonesia 2017 (Grey Zone). 

  

  

 

Hari kedua, peserta memulai proses pembuatan koleksi dengan membuat pola. Dilanjutkan dengan pengembangan koleksi tahap 1, yang dibagi dalam 2 kelas paralel. Kelas desain berupa pengembangan desain, fashion drawing dan technical drawing. Sedang kelas produksi, dilakukan di fashion lab SMK NU Banat, Kudus berupa pengembangan pola, potong dan jahit. Pembagian tugas ini berlanjut hingga hari ke-4 workshop.

Di kelas desain, masing-masing kelompok peserta mendapat tugas untuk membuat collection plan, secara terstruktur mulai dari inspirasi style, inspirasi tema, judul tema, suasana (yang divisualisasikan dengan kolase atau moodboard), hingga terjemahan dalam mode (membuat sketsa).

Di kelas produksi, masing-masing kelompok harus membuat 2 set busana sesuai tema, dalam waktu 2 hari saja. Peserta mendapat pendampingan dari beberapa desainer IFC selama proses berlangsung. Alhamdulillah, dengan adanya alat-alat produksi yang canggih dan memadai di SMK NU Banat, semua koleksi berhasil diselesaikan tepat waktu. 

Peserta juga diberikan pelatihan untuk merencanakan sebuah fashion show, yang melibatkan banyak unsur didalamnya mulai dari pemilihan venue, tema, lighting, pengaturan runway dan tempat duduk penonton, show director, koreografer, fitter, fitting model, makeup, dan puluhan detail lainnya. 

Di hari ke-4, dilakukan gladi resik (GR) fashion show, yang melibatkan 32 siswi dari 3 SMK di Kudus sebagai model. GR dilakukan di area SMK NU Banat yang memang memiliki fasilitas runway dan lighting permanen yang memadai untuk sebuah fashion show

 

Dan sebagai puncak acara, sebuah fashion show yang menampilkan 32 set busana, dengan 4 tema besar yaitu Digitarian, Archean, Vigilant dan Cryptic. 16 kelompok yang telah ditentukan sebelumnya membuat masing-masing 2 look. Fashion show yang dilanjutkan dengan penutupan workshop dilaksanakan di SMK Raden Umar Said, sebuah SMK bidang Grafika yang juga merupakan SMK rujukan nasional binaan Bakti Pendidikan Djarum Foundation. 

Secara keseluruhan, workshop revitalisasi SMK tahap 2 ini berlangsung sukses, atas kesungguhan dan kerjasama semua pihak. Tampak sekali antusiasme dan semangat yang terjaga dari para peserta, guru-guru SMK ini hingga hari terakhir dan mereka harus kembali ke daerahnya masing-masing. Mereka akan meneruskan materi yang didapatkan selama workshop, baik bagi anak-anak didiknya maupun rekan-rekan guru lainnya melalui musyawarah guru di kota masing-masing. 

See also:
-- Menanti Zelmira menjadi Merek Modest Fashion Internasional -- SMK Kecil di Pinggir Kudus yang Berprestasi Hingga Tingkat Internasional -- Meningkatkan Kompetensi SMK Tata Busana untuk Menjawab Tantangan Industri Fashion -- Menuju Lebih dari 'Sekedar' Tata Busana --

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Pesona Kain & Tanah Flores dalam Creative Show 'Nian Tana'

Pesona Kain & Tanah Flores dalam Creative Show 'Nian Tana'

READ MORE
Tren Tekstil yang Mempengaruhi Dunia Fashion

Tren Tekstil yang Mempengaruhi Dunia Fashion

Para pengusaha bidang tekstil harus lebih dekat, terbuka dan mampu menjawab kebutuhan dunia fashion Indonesia yang kini sedang marak dan berkembang pesat.

READ MORE