Mempertanyakan Penonton dalam 'Drama Penonton' Festival Teater Jakarta 2019

Mempertanyakan Penonton dalam 'Drama Penonton' Festival Teater Jakarta 2019

Ajang lomba teater terbesar di Jakarta, Festival Teater Jakarta, telah berlangsung dari 12 November sampai dengan 29 November 2019 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Lembaga lomba untuk komunitas-komunitas teater kalangan muda ini diselenggarakan setiap tahun sejak 1973 oleh Dewan Kesenian Jakarta yang dahulu bernama Festival Teater Remaja. Festival Teater Jakarta 2019 bertemakan “Drama Penonton” tepat pada umur yang ke-54nya. FTJ tahun ini diikuti oleh 15 teater yang merupakan pemenang dari lima wilayah kota administrasi DKI Jakarta, kecuali kabupaten Kepulauan Seribu.

Festival Teater Jakarta diselenggarakan oleh Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta. Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) adalah lembaga yang dibentuk oleh masyarakat seniman dan dikukuhkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 7 Juni 1968. Komite Teater DKJ berniat menjadikan FTJ sebagai laboratorium pengembangan gagasan berteater. Perhelatan FTJ juga ditekankan kepada proses penciptaan dan kreasi ketimbang meraih prestasi atau hasil akhir.

“Drama Penonton” diangkat sebagai tema berdasarkan riset Bramantoro Abdinegoro tentang penonton teater berbayar. Tujuan FTJ 2019 mengusung tema ini adalah untuk melakukan pemetaan dan pendataan penonton teater di Jakarta. Harapan dari diusungnya tema ini adalah para komunitas teater di Jakarta dapat menemukan suatu metode baru dalam berkarya agar menarik banyak perhatian penonton.


Berdasarkan survei Abdinegoro tahun 2018, penonton teater berbayar cenderung berasal dari golongan milenial. Pun diperkirakan bahwa penonton milenial ini adalah penonton masa depan dan harus dipelihara.

Lalu, siapakah penonton teater? Berdasarkan survei, pendidikan penonton teater paling banyak berasal dari kalangan S1 sebanyak 75%. Rentang usia penonton teater dikuasai rentang usia 35–44 tahun dengan frekuensi menonton relatif tinggi. Para penonton teater di Jakarta cenderung datang bersama keluarga dengan anak umur di atas 13 tahun. Hal ini sesuai dengan karakter seni teater yang membutuhkan tingkat interpretasi yang tinggi.

Terlepas dari siapa penonton teater, terdapat hal yang jauh lebih menarik di balik itu. Penonton teater yang datang dalam pertunjukan yang sama tidak akan memiliki kesan yang sama. Begitupula dengan kesimpulan dan makna yang ditangkap setiap penonton pasti berbeda satu dengan lainnya. Meliputi semua hal tersebut, hal yang paling menarik adalah pengalaman estetis ketika menonton teater tidak akan terulang walaupun pementasan lakon yang sama dipentaskan dua kali.

See also:
-- 20 Tahun Selasar Sunaryo Art Space -- Mempertanyakan Penonton dalam 'Drama Penonton' Festival Teater Jakarta 2019 -- Persembahan Indah Mahakarya Kebaya, Musik dan Visual dalam Merajut Nusantara -- Mengekspos Batik dalam Sepotong Busana; Part One Edward Hutabarat --

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Jogja Art Roadshow; Pameran Tunggal Perupa Nasirun

Jogja Art Roadshow; Pameran Tunggal Perupa Nasirun

READ MORE
Melihat 12 Karya Favorit Artjog 2018

Melihat 12 Karya Favorit Artjog 2018

READ MORE