Memperkenalkan Tenun Masalili dari Sulawesi Tenggara

Memperkenalkan Tenun Masalili dari Sulawesi Tenggara

Masalili merupakan sebuah wilayah/desa di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara yang memiliki tradisi menenun sejak lama dan turun temurun. Hingga kini, kita mungkin belum mengenal dan hampir tidak pernah mendengar nama tenun Masalili, kalah populer dengan tenun dari Bugis - Makasar yang berasal dari Sulawesi Selatan. Ini juga disebabkan sulitnya akses menuju desa Masalili, dan belum banyak pihak yang ikut terlibat mengembangkan tenun ini.

Beberapa tahun terakhir tenun Masalili mulai dipopulerkan dan namanya dikenal luas, sejalan dengan kolaborasi beberapa pihak untuk mengembangkan kekayaan wastra ini. Pemerintah Kabupaten Muna sendiri telah menetapkan Desa Masalili sebagai salah satu destinasi pariwisata kerajinan kain tenun melalui pengembangan program Kampung Tenun.

Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) juga ikut peduli dan mengambil peran untuk pengembangan tenun Masalili. Bekerjasama dengan berbagai pihak, BI Sultra berupaya mengembangkan tenun Masalili sebagai kekuatan ekonomi lokal, antara lain melalui program pelatihan peningkatan kualitas, motif, desain serta pengembangan produk dan pemasaran yang bekerjasama dengan desainer Wignyo Rahadi.

Sebagai salah satu upaya memperkenalkan tenun Masalili ke masyarakat lebih luas, digelar acara fashion show yang menampilkan koleksi modest wear mulai dari gaya kontemporer hingga Syari dengan menggunakan kain tenun Masalili hasil produksi UMKM binaan Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sultra karya desainer Wignyo Rahadi dan Irma Intan beserta desainer asal Kendari.

Peragaan busana yang digelar pada bulan Mei 2019 ini dilakukan di lokasi Hutan Bakau Kendari, yang juga merupakan satu suaka lingkungan dan wisata unggulan di Kota Kendari. 

  

  

Wignyo Rahadi

Desainer Wignyo Rahadi menampilkan koleksi modest wear bertema “Re-Masalili” yang dikembangkan dari inspirasi gaya busana Retro dengan menonjolkan permainan cutting yang bervolume, seperti model lengan setali, celana harem, rok draperi, dan dress aksen tumpuk, dilengkapi turban dan hijab model capuchon. Tenun Masalili dalam pilihan warna kuning, hijau, biru, hingga ungu, dikombinasi dengan tenun Lurik dan tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) corak Sobi dan Bintik yang menjadi ciri khas Tenun Gaya, brand yang dibuat oleh desainer Wignyo Rahadi. Sentuhan ornamen tumpuk, draperi, dan asimetris turut menjadi daya pikat koleksi dari olahan tenun Masalili.

  

Irma Intan

Desainer Irma Intan yang merupakan desainer kelahiran Kendari, menampilkan koleksi busana muslim Syari bertema “Himeka” yang dalam bahasa Sansekerta berarti sorot mata yang bercahaya. Koleksi ini menghadirkan kombinasi tenun Masalili dengan material tulle, katun, dan organza yang dituangkan dalam siluet A-line serta ornamen zipper dan beads yang dramatis. Dominasi warna hitam diberi sentuhan warna cerah dari tenun Masalili, antara lain warna merah, biru, hijau tosca, dan ungu.

Beragam koleksi yang ditampilkan kedua desainer ini menunjukkan bahwa olahan tenun ini dapat diaplikasikan menjadi ragam busana siap pakai yang relevan dengan tampilan masa kini, dan siap untuk dikembangkan dalam skala yang lebih besar.


See also:
-- Semarak Rona Modest Wear Jogja Fashion Week 2018 -- Sumba yang Cantik dalam Olahan Biyan -- Memperkenalkan Tenun Masalili dari Sulawesi Tenggara -- Fashion Symphony 2018, Mengangkat Keindahan Kain Indonesia dengan Semangat Kewirausahaan --

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Menanti Zelmira menjadi Merek Modest Fashion Internasional

Menanti Zelmira menjadi Merek Modest Fashion Internasional

READ MORE
Harga Jutaan Koleksi Ramadhan Ria Miranda x Blibli.com, Masihkah Ludes di Hari Peluncuran?

Harga Jutaan Koleksi Ramadhan Ria Miranda x Blibli.com, Masihkah Ludes di Hari Peluncuran?

READ MORE