Melihat 12 Karya Favorit Artjog 2018

Melihat 12 Karya Favorit Artjog 2018

2018, the Biggest ARTJOG, ever. 

Sebuah pagelaran seni rupa akbar yang sangat ditunggu-tunggu dan menjadi agenda wajib penikmat seni di seluruh Indonesia. ARTJOG merupakan acara pameran seni rupa yang diselenggarakan rutin di setiap tahun, dan tahun 2018 ini menjadi penyelenggaraan ke-11, sekaligus yang terbesar sejauh ini. Acara ini selalu sukses di setiap tahunnya, dan menarik pengunjung yang selalu bertambah dari tahun ke tahun.

Seperti penyelenggaraan sebelumnya, ARTJOG 2018 berlangsung selama satu bulan, dari 4 mei hingga 4 juni 2018. Dalam waktu satu bulan tersebut para pecinta seni bisa menikmati pameran dan berbagai pertunjukan seni yang, berlokasi di rumah ARTJOG, Jogja National Museum. Dari seni rupa, seni musik, seni tari, dan seni pertunjukan hingga para pelaku industri kreatif lainnya pun dapat saling bersinggungan. 

ARTJOG mengusung tema Enlightenment: Toward Various Future. Pencerahan dalam hal ini dimaknai sebagai sebuah momentum yang mampu membebaskan manusia dari keterkungkungan kultus dan kemenangan rasionalitas. Dengan mengambil semangat pencerahan, seni diharapkan mampu menumbuhkan daya kritis dalam memandang segala persoalan di sekitarnya; mampu menghadirkan cara pandang yang tidak tunggal, sehingga dapat menatap dan menghantarkan manusia menuju masa depan yang beragam.

Sebanyak 54 seniman dari dalam dan luar negeri terlibat dalam pameran seni kontemporer, serta menampilkan 83 pertunjukan seni setiap hari selama satu bulan. 

Tidak cukup rasanya beberapa hari untuk menikmati setiap karya baru dan monumental dari para seniman, dan dalam keterbatasan tersebut, berikut 12 diantara semua karya tersebut yang mampu kami hadirkan kali ini. 

1. Sea Remembers oleh Mulyana

Mulyana ditunjuk sebagai Commision Artist pada ARTJOG kali ini. Para kurator memandang, sepanjang tiga tahun terakhir, Mulyana hadir sebagai sosok seniman muda yang terus-menerus menunjukkan potensi terbaiknya melalui seni kriya dan keterampilan tangannya. Selain itu, Mulyana juga tidak berhenti mengeksplorasi gagasan dan kemungkinan untuk apa yang akan ia kerjakan. Karya yang bertemakan bawah laut ini terdapat di dekat pintu masuk artjog. Ratusan ikan kecil berwarna kuning bergelantungan diatas atap, lalu karang dan coral yang dibuat dengan benang rajut arna-warni membuat karya ini terkesan lebih hidup.

Karya ini mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara bahari. Maka kita sebagai warga harus menjaga kelestarian alam bawah laut. Biarlah lupa menjadi pengingat bahwa kita makhluk tak sempurna.


Kuasa manusia tidak akan mampu menandingi kelemahan yang dititipkan dan ditetapkan. Jika daratan membuatmu terlena, ingatlah lautan. Bukankah dia bagian dari kita dan juga alam semesta. Dan cahaya-Nya lah yang mampu mengantarkan kita ke masa depan.


2. Carnival oleh Eko Nugroho

Karya kontemporer Eko sudah tak diragukan lagi, kali ini karya Eko Nugroho menceritakan tentang demokrasi dan nasionalisme. Jiwa Nasionalisme yang semakin memprihatinkan di negeri kita, lalu demokrasi yaitu anarki dimana-mana dan tak terkendali. Disampaikan dalam bentuk lukisan danpatung dengan motif khas Eko yang sangat menakjubkan.


3. Hutan dilipat oleh Nasirun

Seniman asal Yogyakarta yang tak tanggung-tanggung dalam berkaya. Artjog mengantarkan Nasirun dengan karya lukisan terpanjang di Artjog 2918, ia melukis dengan panjang kertas kurang lebih 75 meter, dipamerkan secara non-konvensional, membuat para pengunjung tercengang.



4. #Djenar 1 #Djenar 2 oleh Arwin Hidayat

Lukisan bertema sederhana dari seniman Arwin Hidayat ini sangat menyentuh. Ia menceritakan visual yang muncul dalam karya Arwin berangkat dari pemahaman keluarga adalah semangat dan kekuatan dalam hidup Arwin yang mempengaruhi rutinitas yang mengajarkan tanggung jawab dalam bekerja, membagi waktu untuk keluarga, bekerja, dan menjadi seorang ayah.



5. Satu oleh Awan simatupang

Karya kreatif Awan Simatupang terbuat dari kumpulan keyboard laptop yang sudah tidak terpakai, lalu ia satukan hingga tamlak sebuah karya yang kreatif, kemudian didukung pula sebuah kata-kata yang mengalir indah "satu adalah yang terkecil, teramat penting/ Sedikit atau menjadi banyak/ Satu bisa menjadi awal dan akhir/ Penyebab atau akibat/ Menjadi satu-satunya, bukan tiada"



6. Dari Kami yang Juga Mendengar oleh Davy linggar X Tulus

Kita sadar ingin bersama/ Tapi tak bisa apa-apa..

Sepenggal lirik lagu yang tidak asing di dengar, dari penyanyi populer Tulus. Disini Tulus mencoba mengembangkan karya selain menyanyi yaitu fotografi, berkolaborasi dengan seniman fotografi Davy Linggar. "Bukan hanya kalian yang punya telinga. Pori kayu temanku, poli karbonat di dalam cat dinding itu, hingga rongga-rongga halus di kuatnya besi jagoan kami, juga bisa mendengar. Sesungguhnya, semua kalimat yang terucap, terekam jelas entah, dan di mana-mana. Memahat, dan membawa rana di masa depan."



7. Healing garden oleh Hiromi Tango

Seniman asal Jepang ini memamerkan karya yang bertema Healing Garden, sebuah instalasi yang terbuat dari kertas krep warna warni lalu ia gabungkan dengan seni origami yang lebih difokuskan dalam bentuk macam-macam bunga.

8. Blankon oleh Hendra Priyadhani

Karya hendra mengajarkan bahwa mengenali diri sendiri dengan semangat dan ketekunan. Maka akan menghasilkan sebuah karya yang indah


9. The Dragon kite oleh Kexin Zhang

Karya dari negeri tirai bambu ini adalah milik Kexin Zhang. Kostum ini bertemakan The Dragon Kite yang mengadaptasi gaya layang-layang cina tradisional.


10. Toleranintoleransi oleh Handiwirman

Sebuah kotak dan tali tambang yang berwarna merah menghiasi ruangan itu. Karya yang dihasilkan dengan bahan karet oleh Handiwirman memberikan pesan bahwa toleransi antar manusia diibaratkan seperti karet yang bisa ditarik ulur, kadang toleransi itu menyatu. Terkadang merenggang.


11. Forward, rewind, play, pause, stop (black moon) oleh Yuli prayitno

Peristiwa yang diilustrasikan ketika kita melihat sinar yang sangat terang kemudian kita mengalihkan pandangan ke arah lain, seketika semua menjadi gelap dan tak seimbang. Dimana kesadaran juga sejenak hilang. Posisi untuk selalu berada pada kesadaran, sangat diperlukan untuk dapat menjaga keseimbangan antara kita sebagai manusia drngan ruang, alam sebagai lokasi dimana kita hidup.



12. Smiling angels from the sky oleh Heri Dono

Dalam karya ini diibaratkan para bidadari yang datang dari langit sebagai lambang wacana kehidupan dimana imajinasi mimpi dapat terus membangun kehiduoan kebudayaan dan peradaban yang mulia bagi manusia dan alam.

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Forever Playful, Jangan Pernah Berhenti Bermain!

Forever Playful, Jangan Pernah Berhenti Bermain!

READ MORE
Me and My Monkey Mind, Enter Your Peaceful Mind

Me and My Monkey Mind, Enter Your Peaceful Mind

READ MORE